Pasific Pos | Papua Barat | Pasific Pos.com

| 16 July, 2019 |

Manokwari,– Polda Papua Barat mengadakan simulasi penanganan serangan teroris di markas Polda Papua Barat, Rabu, 5 Juli 2017.
Simulasi dilaksanakan dalam 3 tahap dengan melibatkan anggota Brimob, Ditlantas Polda Papua Barat, dan Sabhara Polda Papua Barat.
Dalam simulasi tahap pertama, menceritakan penyerangan oleh 2 teroris di Pos Piket Polda Papua Barat ketika petugas dalam keadaan lengah. Dari 8 anggota Brimob yang dijadwalkan piket jaga pada pukul 20.00 WIT, hanya 4 orang yang hadir, sedangkan 4 orang mangkir dengan berbagai alasan.
Sekitar pukul 23.00 WIT, pos piket penjagaan mulai sepi dan lengang, dimana ada anggota yang tertidur dan menonton televisi. Ternyata, pos piket penjagaan sudah diamati 2 teroris dan setelah ada kesempatan, keduanya mendekati pos dan melumpuhkan petugas piket jaga, kemudian meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP).
Sementara simulasi tahap kedua mengisahkan tentang penyerangan 2 teroris terhadap pos piket jaga Polda Papua barat ketika bersiaga. Kronologisnya, petugas piket jaga lama melakukan serah terima dengan piket jaga yang baru.
Setelah serah terima dengan petugas piket jaga yang baru dan serah terima penjagaan, mengecek inventaris maupun tahanan serta dipastikan aman, petugas piket lalu melaksanakan tugasnya.
Dengan siap siaga dan konsentrasi penuh petugas piket jaga terus melakukan patroli demi menjaga keamanan wilayah. Pada pukul 22.00 WIT, tanpa disadari, 2 teroris memantau pos penjagaan dan mendekati pos piket, berpura-pura bertanya.
Salah satu pelaku menyerang anggota piket memakai sangkur, tetapi dilawan petugas, sedangkan 1 teroris lagi yang ingin membantu temannya, berhasil dilumpuhkan piket lain menggunakan senjata api.
Setelah kedua teroris dilumpuhkan, lalu dilakukan penggeledahan dan ditemukan benda mencurigakan dari dalam tas pelaku yang diduga bahan peledak atau bom.
Selanjutnya, petugas piket mengamankan kedua pelaku dan memanggil unit penjinak bom (Jihandak) Brimob untuk menjinakkan bom tersebut. Setelah tim Jihandak tiba di lokasi, operator 1 tim Jihandak melakukan pengamatan terhadap benda mencurigakan dan diketahui benda itu bom aktif dan siap meledak.
Untuk mengamankan bom tersebut, tim Jihandak mengirim Robot Jinak Gegana mendekati bom, lalu diangkat dan dibawa untuk dievakuasi ke tong bom mobil Gegana.
Sedangkan tahap simulasi ketiga menceritakan tentang penyerangan oleh kelompok teroris terhadap anggota Ditlantas Polda Papua Barat yang sedang mengatur arus lalu lintas.
Kronologisnya, anggota Ditlantas sedang mengatur arus lalu lintas. Dari sisi jalan, ada anggota Sabhara yang sedang memantau situasi. Tanpa disadari, anggota Ditlantas diserang sekelompok teroris.
Melihat anggota Ditlantas diserang teroris, anggota Sabhara yang berada di sekitar lokasi, melakukan pertolongan terhadap anggota Ditlantas dan mengejar kelompok teroris tersebut.
Meski melakukan perlawanan, tetapi akhirnya kelompok ini berhasil dilumpuhkan anggota Sabhara dengan tembakan tepat sasaran di kaki, setelah itu teroris ini diamankan polisi.
Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Martuani Sormin Siregar mengatakan, simulasi ini untuk meningkatkan kewaspadaan anggota Polri.
Dikatakan Sormin, kegiatan serupa sebelumnya sudah dilakukan Polres Manokwari dan Polres Raja Ampat, dan akan dilaksanakan juga di polres lain.
“Pelaku teror semakin bertambah. Untuk itu, seluruh satuan senantiasa harus siap dan waspada, karena kapan saja dan di mana saja, kita bisa diserang teroris,” kata Kapolda kepada para wartawan di Polda Papua Barat, Rabu (5/7).
Menurutnya, simulasi ini sekaligus memberikan dan menambah wawasan anggota Polri terhadap pentingnya jaminan keamanan. Lanjut dia, dengan simulasi yang terus dilaksanakan, maka diharapkan anggota Polri bisa merespon setiap ancaman.
Untuk itu, Kapolda mengatakan, dirinya akan meminta semua satuan kerja meningkatkan kewaspadaan dan terus-menerus melakukan latihan bela diri.
Ditambahkannya, meski situasi penyerangan teroris nyata tidak serupa dengan simulasi, tetapi sedikit banyaknya telah memberikan pemahanan dan menguji kemampuan anggota Polri.
“Antisipasi kami yang pertama, meningkatkan jumlah personil jaga dan menetralisir situasi dengan mematikan semua lampu pos penjagaan saat malam serta menutup semua akses masuk pada malam hari,” katanya.
Ia berharap kewaspadaan anggota harus selalu ditingkatkan, karena target utama dari pelaku teror adalah anggota Polri. [BOM-R1]

Published in Papua Barat