Pasific Pos | Lintas Daerah | Pasific Pos.com

| 20 July, 2019 |

SENTANI – Sembilan kelompok tani binaan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura (DTPH) dibekali sejumlah pengetahuan mengenai pengembangan sayur organik untuk kebutuhan gizi tetapi juga untuk peningkatan ekonomi keluarga.
“Sebagaian besar masyarakat Kabupaten Jayapura bermata pencaharian petani sehingga pengetahuan pengembangan sayur organik sangat dibutuhkan,” ujar Kepala Dinas Tanaman pangan dan Holtikultura Kabupaten Jayapura, Adolf Yokhu, SP, MM dalam arahannya saat menyampaikan arahannya dalam acara sosialisasi tehnik budidaya tanaman sayuran organik di Aula Dinas TPH Gunung Merah Sentani, Selasa (11/7) kemarin.
Dikatakan, kelompok-kelompok tani binaan Dinas TPH Kabupaten Jayapura yang mengikuti sosialisasi akan kembali ke lingkungan masing-masing selanjutnya dapat menyebarkan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat sehingga pengembangan tanaman sayur organik kedepan menjadi sebuah usaha unggul keluarga.
Dijelaskan, sayur organik selain mengandung gizi yang tinggi juga memiliki nilai jual yang tinggi pula. Disisi lain, dapat memiliki nilai jual tinggi dari sarur non organik yang lebih banyak di temui di pasarkan sejumlah pasar-pasar rakyat di daerah ini.
Untuk itu, Kadis Yokhu menghimbau supaya setiap keluarga atau warga di Kabupaten Jayapura dapat mengembangkan tanaman sayur organik. Media yang dibutuhkan untuk tanam sayur organik juga tidak terlalu sulit untuk dibuat, misalnya dapat ditanam pada polibek dan wadah yang terbuat berbentuk kotak dari papan.
Sudah saatnya, lanjut Adolf, mindset masyarakat dalam hal mengkomsumsi  sayur diubah dari mengkomsumsi sayur non organik yang notabene mengandung zat kimis ke sayur oragnik yang sedikitpun tidak mengandung bahan kimia.
“Saya berterima kasih kepada sebagaian masyarakat di daerah ini yang tergabung dalam kelompok tani dengan mengembangkan sayur organic. Semoga warga lain dapat meniru apa yang dilakukan anggota kelompok tani sehingga Kabupaten Jayapura kedepan hanya bisa mengkomsumsi sayur organic,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu pemateri dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPP) Propinsi Papua, Sri Rahayu Sihombing dalam materinya memaparkan,  pertanian organic secara sederhana disebut system pertanian tanpa menggunakan pupuk dan pestisidaatau bahan kimia.
“Pertanian organik adalah system pertanian yang berpihak pada pelestarian lingkungan serta aspek kesehatan konsumen melalui pengelolaan unsur-unsur lingkungan secara selaras dan harmonis untuk mencapai interaksi positif yang menunjang budidaya tanaman,” sebutnya.
Ditambahkan, kesadaran masyarakat untuk hidup sehata dengan mengkomsumsi bahan alami seperti sayuran dan buah-buahan sebagai menu wajib dalam kehidupan sehari-hari maupun pemanfaatannya sebagai obat alamai atau herbal.

Published in Lintas Daerah