Pasific Pos | Kota Jayapura | Pasific Pos.com

| 20 May, 2019 |

Jayapura, Kota Jayapura memiliki penduduk yang sangat heterogen dan mempunyai teologias yang sangat tinggi. Demikian dikatakan Walikota Jayapura Benhur Tommy Mano  dalam kegiatan Musyawarah Persatuan Gereja Gereja Se - Kota Jayapura (PGGS) bersama Pemerintah Kota Jayapura yang dilaksanakan Selasa malam kemarin.
"Saya tidak setuju dengan adanya dewan Kota Jayapura, saya bentuk menjadi PGGS Kota Jayapura untuk dapat membantu memberkati Kota ini dan bukan wadah untuk mencari uang," ujar Walikota yang akrab dipanggil dengan sebutn BTM.
BTM mengingatkan kembali fungsi dari PGGS yaitu, manjadi mitra pemerintah dalam memberikan saran. "Saya tidak setuju untuk ikut bersama razia TNI - POLRI berarti itu sama dengan FPI dan HTI, saya minta PGGS Kota Jayapura jangan ikut - ikutan namun bantu saya memberikan masukan berupa saran dan petunjuk dalam kehidupan rohani, Dalam kemajuan Kota ini, dan menjaga keutuhan kehidupan kristus dan iman," ujar BTM secara tegas.
Dikatakannya lebih lanjut, saat ini marak kejadian ditengah masyarakat yang diakibat menikmati minuman keras. Kejadian pemalangan, pembunuhan dan kekerasan - kekerasan lainnya.  "Mari PGGS membantu saya untuk menyampaikan kepada umat masing - masing agar bisa diatasi bersama dan mereka bagian dari Warga Masayarakat Kota Jayapura," ujar BTM.
BTM menyampaikan ada beberapa masalah hangat di kota Jayapura, antara lain peraturan daerah minuman keras (miras),  namun kota Jayapura belum melakukan pelarangan namun pembatasan. "Saya bekerja sesuai aturan yang berlaku dalam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Walaupun kita provinsi Papua mempunyai Undang - Undang Otonomi khusus, namun kita harus berjalan seirama dengan undang - undang yang berlaku di negara Indonesia. Dan saya berbicara sesuai aturan bukan kemauan saya sendiri," ujar BTM.
Masalah hangat lainnya adalah pendaftaran penerimaan siswa/murid baru, dimana menggunakan system rayonisasi. "Kami membuat hal ini agar anak kita tersebut dekat dengan rumah sehingga tidak menjadi suatu keresahan kepada warga. Apabila jauh dari rumah maka akan menimbulkan hal - hal kecil dan terjadi permasalahan baru dan sesuai dengan database kami yang ada di Kota Jayapura," ujar BTM secara tegas.
Sementara itu Ketua PGGS Se-Kota Jayapura Pdt.DR. James Wambrauw menyatakan bahwa ,   persatuan gereja - gereja Se - Kota Jayapura (PGGS) menyoroti penyakit masyarakat soal minuman keras dimana menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga(KDRT), dan  ketidaknyamanan di Kota Jayapura.
Selain itu PGGS menyoroti keamanan Kota Jayapura dalam hal ini paham radikalisme. Dimana harus kami merespon dengan tegas dalam gangguan global.
"Kami telah bersatu untuk membentuk suatu satgas dengan bekerja sama dengan TNI - POLRI dalam menciptakan Kamtibmas Kota Jayapura yang kondusif dan kami dari PGGS akan mendukung demi kemajuan Kota Jayapura," ujar pendeta James Wambrauw.
Pada saat yang sama, Ketua Klasis GKI di Tanah Papua Pdt. Willem Itaar, STh  menyatakan pihaknya mendukung apa yang telah dilakukan oleh PGGS. "Mencermati beberapa hal yang terjadi di Kota ini kami dari pihak gereja sangat terganggu dengan adanya perkembangan tentang FPI dan HTI di Kota Jayapura dan jumlah penduduk yang begitu bertambah banyak dan dampak perkembangan negatif yang begitu pesat di Kota ini," ujar pendeta Willem Itaar.
Lanjutnya, pihak gereja memberikan apresiasi kepada bapak Walikota dalam perkembangan pembangunan Kota ini. (Fani)

Published in Kota Jayapura

JAYAPURA, - Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano melakukan pertemuan dengan pengurus Persekutuan Gereja Geraja Se-Kota Jayapura (PGGS) di Hotel Sahid Papua, Kota Jayapura, Selasa (4/7).
Mengawali sambutannya, pria yang akrab di sapa BTM ini memperkenalan diri kepada sejumlah pengurus PGGS Kota Jayapura sebab tak kenal maka tak sayang.
Pada pertemuan ini, pembentukan dewan kota, ikut melakukan razia miras, penutupan tempat hiburan malam menjadi pembahasan pertemuan tersebut.
"Saya tidak setuju untuk dibentuk dewan kota, tapi PGGS tugasnya untuk berdoa dan memberikan saran kepada saya demi pembangunan di Kota Jayapura," kata Benhur yang juga penasehat PGGS Kota Jayapura.
Selain itu, lanjut Benhur, PGGS dibentuk untuk mengatasi langkah-langkah berupa gangguan seperti pemerkosaan, pembunuhan, pemalakan, pencurian, dan hal-hal lainnya yang tidak diinginkan.
Berdasarkan catatan Pemkot Jayapura, ada 48 Klasis di Kota Jayapura, yang dipersatukan dalam PGGS sehingga menjadi kuat agar terus membantu kerja Pemkot Jayapura melalui doa.
"Menjaga kehidupan jamaat rohani umat Kristen untuk tetap di jaga. Bukan untuk melawan saya tapi membantu saya. Duduk bersama menjaga kesatuan tubuh Kristus, dan menjaga kehidupan umat Tuhan," kata Benhur.
"Saya bentuk PGGS, tapi juga saya berikan fasilitas berupa kantor sekretariat, dan kendaraan berupa bis untuk memudahkan dalam melakukan pelayanan," kata Benhur menambahkan.
Pada kesempatan ini juga dilakukan diskusi bersama untuk mendengarkan saran, masukan dan kritikan demi berjalannya pelayanan Pemerintahan di Kota Jayapura ke arah yang lebih baik. (Ramah)

Published in Kota Jayapura