Pasific Pos | Lintas Daerah | Pasific Pos.com

| 20 May, 2019 |

Masyarakat Makimi Terima Dana Tunai

Rabu, 12 Juli 2017 22:09

Nabire, Masyarakat Makimi menerima dana tunai 3 persen dari yang dijanjikan oleh PT Kristalin sebagai bentuk bagi hasil bagi masyarakat.
Pemberian dana ini secara langsung diterima masyarakat. Sedangkan mekanisme pembagiannya melalui pimpinan adat.
"Saya ingin semua masyarakat disini merasakan arti kehadiran kami," ujar Arif Setiawan selaku pimpinan PT Kristalin.
Lebih lanjut Arif mengatakan, apapun hasil dari perusahaan akan kita kembalikan bagi masyarakat juga. "Dalam bagi hasil perusahaan memberikan 10 persen bagi masyarakat. Ini terbagi atas, satu persen untuk pemilik tanah yang digarap, 3 persen dana tunai, 2 persen tabungan masa depan, 4 persen untuk pembangunan," ujarnya.
Dikatakannya, 3 persen yang dibagikan adalah berbentuk tunai. "Dana tiga persen dari bagi hasil ini, diterima secara tunai oleh masyarakat," ujar Arif.
Arif juga menjelaskan, bila pihaknya dalam hal ini PT Kristalin dalam visinya akan bersama sama dengan masyarakat untuk membangun ekonomi rakyat demi tercapainya kesejahteraan.
Untuk beberapa kegiatan kemasyarakatan lainnya PT Kristalin akan menggandeng pihak pihak lain. "Kami akan bekerjasama dengan pemerintah daerah, misalkan dengan dinas pendidikan, dinas kesehatan, pihak gereja. Ini sebagai bentuk dukungan kami terhadap pemerintah daerah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat," ujar Arif.
Lebih lanjut Arif mengatakan, bahwa kegiatan seperti ini akan berlangsung setiap bulannya. (Fani)

Published in Lintas Daerah

Nabire, Akibat penahanan yang dilakukan terhadap dua orang warga, masyarakat Nifasi melakukan pemalangan terhadap areal pertambangan PT TAP di kali Musairo kabupaten Nabire, selasa siang kemarin.
Diketahui kejadian ini berawal ketika tanggal 29 Juni 2017, Lewi dan Antonia beserta masyarakat lainnya melakukan penganiayaan kepada dua wartawan yang sedang meliput di lokasi penambangan di sungai Musairo.
Lewi dan Antonia yang diperiksa polisi sejak Senin (10/7) pagi hingga menjelang tengah malam di Polres Nabire langsung ditetapkan sebagai tersangka dan dimasukkan ke dalam ruang tahanan.
Masuknya kedua tersangka ini ke dalam sel disaksikan oleh puluhan masyarakat Nifasi. Antonia tampak didampingi ibu dan ayahnya Oscar Erari, sementara Lewi didampingi oleh ibunda tercinta.
Usai menyaksikan anak perempuannya dimasukkan ke dalam sel, Oscar Erari selaku bapak tampak marah. "Saya yang punya tanah. PT TAP sudah ambil hasil dari situ banyak, tapi saya tidak diperhatikan. Sekarang saya mau kasih ke orang lain tapi dorang bikin ini ke saya. Tunggu sa palang besok," ujarnya Senin menjelang tengah malam di Polres.
Janji Oscar Erari tampak benar benar dilaksanakan. Selasa siang Oscar Erari beserta puluhan masyarakat Nifasi tampak memasang palang di lokasi operasi PT TAP. "Sa dan keluarga usir baik baik PT TAP. Dorang tra boleh kerja," ujar Oscar Erari.
Tampak beberapa mobil tidak diperbolehkan memasuki areal dan beberapa orang karyawan yang sedang bekerja tampak disuruh turun.
"Sa akan palang sampe sa pu anak dia keluar," ujar Oscar. Oscar juga menjelaskan alasan pemukulan wartawan dikarenakan masyarakat marah akibat pemberitaan di sejumlah media yang menurut masyarakat tidak benar. "Kami marah sama wartawan karena tulis yang tra benar," ujar Oscar. (Fani)
Published in Lintas Daerah

NABIRE - PT Kristalin Ekalestari (KEL) mewujudkan janjinya memberikan sepuluh  persen dari hasil yang didapatkan perusahaan kepada masyarakat.
Sepuluh persen hak yang diberikan oleh PT KEL diterima oleh dua kampung yaitu masyarakat kampung Nifasi dan masyarakat kampung Makimi.
Dana 10 persen ini juga mempunyai pembagian yang akan dinikmati secara adil. Pembagian tersebut,   satu persen bagi pemilik lokasi tanah yang tanahnya  digunakan untuk penambangan,  tiga persen untuk masyarakat yang diberikan  secara tunai, dua persen untuk kepentingan pendidikan, kesehatan, keagamaan, adat, sosial, sementara sisanya empat persen untuk pembangunan di kampung Nifasi dan Makimi.
Pembagian hasil tunai  akan diterima masyarakat setiap tanggal satu, sementara itu tanggal satu masyarakat akan menerima sembako.
Sementara itu hingga saat ini PT KEL telah membangun sebanyak delapan rumah bagi masyarakat kampung Nifasi. "Kami setiap bulannya akan membangun satu buah rumah, dan ini berkelanjutan, demikian dikatakan Komisaris Utama PT Kristalin Ekalestari, Arif Setiawan.
Lebih lanjut Arif  mengatakan, kebijakan ini sebagai terobosan dari  perusahaan yang perlu diketahui publik serta pemerintah setempat. "Dalam rangka membantu mensejahterakan masyarakat kami akan terus membangun rumah baik kami sedang berproduksi ataupun tidak berproduksi," ujar Arif.
“Perusahaan kami memberikan hak kepada masyarakat sebesar 10 persen, yang diatur secara baik dan transparan,” ujar Arif saat bertemu langsung dengan masyarakat di kampung Nifasi dan Makimi, Nabire, Papua, Sabtu (8/7) kemarin.
Tak hanya itu, menurutnya agar tak menimbulkan kecurigaan dan saling tuding menuding pihaknya akan jalankan sistem bagi hasil ini yang tiap bulan memperbaharui data-data pembagian itu ke papan ke informasi di kantor desa.
“Pembagian ini juga akan terpampang di papan informasi di kantor desa. Seperti 2 persen bagi masyarakat untuk dana pendidikan, kesehatan, keagamaan, adat dan sosial. Hal ini agar semua transparan,” ujarnya.
Ditempat yang sama Kepala Suku Nifasi, Aser Monei menyatakan puji syukur atas komitmen yang dilakukan oleh perusahaan tambang PT KEL di kampung Nifasi. Ia juga khilaf apabila ada sedikit meleceng dalam melangkah memimpin sukunya dan akan memperbaiki semua itu.
“Saya harap juga saat pembagian sembako semua warga menerima semua bantuan itu. Karena pengalaman sebelumnya, kadang ada warga yang tak menerimanya dan ini mari kita sama-sama perbaiki lagi,” kata Aser.
Sementara Kepala Dusun Makimi, Antonius Yoseni berterima kasih atas kebijakan perusahaan yang mau membantu masyarakat Makimi. Ia memberi saran kepada perusahaan juga agar bersahabat kepada alam, agar apa yang dikerjakan diterima oleh alam semesta.
“Program ini harus ada dasar hukumnya yaitu membuat komitmen diatas hitam dan putih agar mengikat semua pembicaraan menjadi satu dasar hukum yang dapat dipertangunggjawabkan,” kata Antonius. (Fani)

Published in Ekonomi & Bisnis

Uang Rica Garam Dari Mendulang

Minggu, 09 Juli 2017 20:50

NABIRE - Masyarakat kampung Nifasi, Distrrik Makimi, Kabupaten Nabire sebagian besar berprofesi sebagai pendulang. Ada yang menjadi pekerja pada perusahaan pendulang namun ada juga masyarakat yang mendulang secara tradisional.
Antoni Erari sehari hari berprofesi sebagai nelayan namun ketika sedang tidak melaut dirinya mendulang  mencari emas di kali mosairo.
“Tapi kami agak susah kalau langsung ambil dari kali secara manual. Untung PT Kristalin membantu kami  dengan memberikan pasir hitam yang nantinya tinggal kami olah sedikit agar emasnya cepat kami dapat,” ujarvAntoni, Minggu kemarin.
Sejauh ini, masyarakat terus diberikan keleluasaan untuk melakukan aktifitas mendulang emas di wilayah tambang yang dikerjakan PT KEL.
Namun berbeda dengan perusahaan lainnya yang juga menggarap di sekitar kali Mosairo itu, dimana perusahan tersebut melarang masyarakat mendekat ke areal penambangan . "Saya bingung, kenapa kami mau mendulang saja di tanah milik kami, malah diusir. Kristalin (PT. KEL) yang meringankan kami dengan bebas mendulang di areal tambang mereka,”  ujar Antoni.
Antoni bekerja mendulang emas untuk menambah pemasukan bagi keluarga dengan membantu suaminya yang mencari nafkah sebagai nelayan. “Kami mama-mama hanya ingin mencari uang garam dan rica  dengan mendulang di tanah kami. Hanya perusahaan PT KEL yang bisa mengerti situasi kami. Tuhan akan sayang mereka karena baik kepada kami semua,” ujarnya.
Diakuinya setiap mendulang di kali Mosairo dapat membawa pulang 5 kaca hingga 1 gram emas. “Mama kalau dulang bawa pulang bisa sampai satu gram. Puji Tuhan mama kan bisa bisa beli sayur atau buat anak-anak sekolah,” tuturnya.
Hal senada juga dilontarkan Maria Erari selaku Tokoh Perempuan di kampung Nifasi. Menurutnya pihak perusahaan PT KEL yang memberikan bantuan tanpa membeda-bedakan golongan di masyarakat, secara khusus di kampung Nifasi dan Makimi.
“Harapan saya, apabila ada masalah harus duduk bersama dan dimusyarahkan, agar perusahaan yang bekerja merasa nyaman, sehingga dapat mensejahterakan masyarakat yang ada di Kampung Nifasi, begitu juga di kampung Makimi,” kata Maria. (Fani)

Published in Lintas Daerah