Pasific Pos | Ekbis | Pasific Pos.com

| 19 May, 2019 |

Nabire,-  PT. Kristalin Eka Lestari, yang bergerak dibidang pertambangan emas yang beroperasi di wilayah Musairo  memberikan  paket sembako kepada warga Kampung Makimi, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua.
Penyerahan paket sembako tersebut diberikan langsung oleh Komisaris Utama PT. Kristalin Eka Lestari, Arif Setiawan beserta istri, Lia.
Arif Setiawan disela-sela penyerahan sembako tersebut mengatakan, bahwa sembako yang diberikan bukan bersifat bantuan, tapi bagian hak rakyat.
"Ini bukanlah bantuan dari kami, sembako tersebut merupakan hasil dari sumber daya alam yang kami dapatkan di daerah ini," katanya.
Lebih lanjut dikatakan, pemberian sembako tersebut merupakan tanggung jawab perusahaan kepada warga sebagai pemilik hak ulayat.
Ditempat yang sama, Ketua Lembaga Adat Distrik Makimi, Silas Rumbobiar, mengucapkan terima kasih kepada pihak perusahaan yang telah memberikan sembako tersebut.
"Kami masyarakat sangat berterima kasih kepada pihak perusahaan yang telah memberikan sembako tersebut," ungkapnya.
Adapun sembako yang dibagikan berjumlah 125 paket sembako yang terdiri dari beras, minyak goreng, gula pasir, teh, kopi,  pasta gigi, sabun cuci dan sabun mandi.
PT. KEL akan terus berkomitmen untuk mensejahterakan masyarakat di wilayah tersebut, guna mendukung program pemerintah. (Fani)

Published in Ekonomi & Bisnis

NABIRE - PT Kristalin Ekalestari (KEL) mewujudkan janjinya memberikan sepuluh  persen dari hasil yang didapatkan perusahaan kepada masyarakat.
Sepuluh persen hak yang diberikan oleh PT KEL diterima oleh dua kampung yaitu masyarakat kampung Nifasi dan masyarakat kampung Makimi.
Dana 10 persen ini juga mempunyai pembagian yang akan dinikmati secara adil. Pembagian tersebut,   satu persen bagi pemilik lokasi tanah yang tanahnya  digunakan untuk penambangan,  tiga persen untuk masyarakat yang diberikan  secara tunai, dua persen untuk kepentingan pendidikan, kesehatan, keagamaan, adat, sosial, sementara sisanya empat persen untuk pembangunan di kampung Nifasi dan Makimi.
Pembagian hasil tunai  akan diterima masyarakat setiap tanggal satu, sementara itu tanggal satu masyarakat akan menerima sembako.
Sementara itu hingga saat ini PT KEL telah membangun sebanyak delapan rumah bagi masyarakat kampung Nifasi. "Kami setiap bulannya akan membangun satu buah rumah, dan ini berkelanjutan, demikian dikatakan Komisaris Utama PT Kristalin Ekalestari, Arif Setiawan.
Lebih lanjut Arif  mengatakan, kebijakan ini sebagai terobosan dari  perusahaan yang perlu diketahui publik serta pemerintah setempat. "Dalam rangka membantu mensejahterakan masyarakat kami akan terus membangun rumah baik kami sedang berproduksi ataupun tidak berproduksi," ujar Arif.
“Perusahaan kami memberikan hak kepada masyarakat sebesar 10 persen, yang diatur secara baik dan transparan,” ujar Arif saat bertemu langsung dengan masyarakat di kampung Nifasi dan Makimi, Nabire, Papua, Sabtu (8/7) kemarin.
Tak hanya itu, menurutnya agar tak menimbulkan kecurigaan dan saling tuding menuding pihaknya akan jalankan sistem bagi hasil ini yang tiap bulan memperbaharui data-data pembagian itu ke papan ke informasi di kantor desa.
“Pembagian ini juga akan terpampang di papan informasi di kantor desa. Seperti 2 persen bagi masyarakat untuk dana pendidikan, kesehatan, keagamaan, adat dan sosial. Hal ini agar semua transparan,” ujarnya.
Ditempat yang sama Kepala Suku Nifasi, Aser Monei menyatakan puji syukur atas komitmen yang dilakukan oleh perusahaan tambang PT KEL di kampung Nifasi. Ia juga khilaf apabila ada sedikit meleceng dalam melangkah memimpin sukunya dan akan memperbaiki semua itu.
“Saya harap juga saat pembagian sembako semua warga menerima semua bantuan itu. Karena pengalaman sebelumnya, kadang ada warga yang tak menerimanya dan ini mari kita sama-sama perbaiki lagi,” kata Aser.
Sementara Kepala Dusun Makimi, Antonius Yoseni berterima kasih atas kebijakan perusahaan yang mau membantu masyarakat Makimi. Ia memberi saran kepada perusahaan juga agar bersahabat kepada alam, agar apa yang dikerjakan diterima oleh alam semesta.
“Program ini harus ada dasar hukumnya yaitu membuat komitmen diatas hitam dan putih agar mengikat semua pembicaraan menjadi satu dasar hukum yang dapat dipertangunggjawabkan,” kata Antonius. (Fani)

Published in Ekonomi & Bisnis