Pasific Pos | Lintas Daerah | Pasific Pos.com

| 24 May, 2019 |

"Ke Depan Apapun Yang Dikerjakan TNI Polri Masyarakat Tidak Akan Percaya Lagi"

 

Jayapura, - Kasus meninggalnya seorang pemuda di Kabupaten Nduga di awal tahun akibat dianiaya oleh oknum TNI, menjadi perhatian bagi Anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Politik, Hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa.

Published in Headline

 

Jayapura,- Pelaku penyerangan pos TNI di distrik Kenyam kabupaten Nduga, ternyata menggunakan atau membawa kartu identitas yang bukan miliknya. Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya bahwa Senin (1/1/18) telah terjadi penyerangan terhadap Pos TNI di Kenyam kabupaten Nduga.

Published in Kriminal

 

Jayapura, Jenazah Apanangge akhirnya dijemput keluarga dari Pos TNI di distrik Kenyam kabupaten Nduga.

Published in Lintas Daerah

Pos TNI di Kenyam Diserang Satu Orang Tewas

Selasa, 02 Januari 2018 19:54

Jayapura,- Pos TNI diserang sekelompok pemuda saat perayaan tahun baru. Saat itu masyarakat berkunjung ke Pos TNI yang terletak di Kenyam kabupaten Nduga, guna mengucapkan selamat tahun baru, Senin (1/1/18). Akibat penyerangan ini seorang penyerang meninggal dunia.

Published in Headline

Jayapura, Kesiapsiagaan aparat keamanan (apkam) patut mendapat ancungan jempol. Berkat kesiapsiagaan apkam aksi percobaan perang lanjutan antata kubu Ones Wandikbo dengan Simon Nirigi berhasil digagalkan, Senin (2/10/17) di distrik Kenyam , kabupaten Nduga.

Published in Headline

SENTANI – Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Nduga, Wentius Nimiangge mengajak kepada seluruh masyarakat Nduga yang berada di seluruh pelosok tanah Papua, untuk bersama-sama membangun Kabupaten Nduga.

Published in Lintas Daerah

JAYAPURA,–  Masih terkait rekrutmen anggota MRP khususnya di wilayah VII, Lapago di Kabupaten Nduga diminta agar segera dilakukan pemilihan ulang, lantaran tahapannya dinilai tidak sesuai juknis dan juklak. Dugaan kuat ada skenario yang didesain sedemikian rupa, untuk meloloskan oknum tertentu pewakilan dari Nduga.
“Hak kesulungan orang Nduga untuk keterwakilan di MRP harus kembalikan, proses rekruitmen yang dilakukan sebelumnya tidak sesuai juknis dan juklak, ini ada scenario untuk loloskan oknum tertentu,” tegas Anggota Komisi I DPR Papua, Emus Gwijangge, kepada wartawan, kemarin.
Ia mengatakan, panpil provinsi dan panwas harusnya memberikan waktu kepada masyarakat Nduga untuk menentukan figurnya, karna figure yang saat ini dinyatakan lolos bukan anak asli Nduga, melainkan mereka yang hanya numpang lahir di Nduga.
“Periode lalu dia sudah diberi kesempatan duduk di MRP karena orang tuanya mengabdi di Nduga. Kini masyarakat Nduga ingin anak asli Nduga yang duduk di MRP," kata Emus,
"Proses ini tidak sesuai aturan sehingga saya harap panpil dan panwas provinsi kembalikan tahapan di Nduga dari awal," ujarnya.
Ia ingin rekrutmen anggota MRP di setiap kabupaten tidak didominasi suku tertentu. Harus ada keterwakilan setiap suku dari setiap wilayah. Jangan ada yang dari wilayah adat lain masuk ke wilayah adat lain.
"Calon yang lompat sini dan sana sebaiknya tahu diri, mundur dan hargai anak-anak asli di setiap wilayah adat. Jadi misalnya dia Nduga harus suku asli Nduga yang masuk. Ini bicara keadilan dan tatanan adat sehingga setiap suku harus ada keterwakilan," katanya. (Tiara)

Published in Sosial & Politik

SENTANI – Calon Anggota Mejelis Rakyat Papua (MRP) Kabupaten Nduga, Eliaser Tabuni, S. Th, memprotes Panitia Pemilihan (Panpil) MRP Kabupaten Nduga yang meloloskan salah satu Calon anggota MRP Kabupaten Nduga, Luis Maday. Ia menilai, Panpil MRP Kabupaten Nduga tidak melakukan seleksi sesuai prosedur yang diperintahkan oleh Penitia Penyelenggara (Panpel)Provinsi.
“Jadi, yang berhasil lolos dalam seleksi calon anggota MRP dari Kabupaten Nduga kan ada dua. Itu adalah saya dan pak Luis Maday. Tapi, Dia (Luis) ini bukan orang asli dari Kabupaten Nduga tapi Paniai. Walaupun dia saudara kami tapi dia bukan asli Nduga. Untuk itu, kami minta agar Luis Maday ini dimentahkan serta diganti dengan calon anggota yang benar-benar orang asli Kabupaten Nduga,”tegas Eliaser Dalam Jumpa pers dengan wartawan, Selasa (4/7) Kemarin.
Seharunya, Kata Eliaser Panpil memberikan kesempatan kepada orang asli Nduga bukan orang yang asalnya dari luar Kabupaten Nduga.
“Atas dasar ini, saya minta agar satu kursi yang disiapkan kepada Luis Maday harus diberikan kepada orang asli Nduga,”pintanya.
Ditegaskan Eliaser, jika dirinya sudah menghubungi Panitia Pengawas (Panwas) dan ketua Panpil Provinsi Papua agar mementahkan Luis Maday dalam perekrutan calon anggota MRP dari Kabupaten Nduga.
Selain itu, Ia dan seluruh masyarakat adat Nduga juga sudah melakukan pertemuan untuk menolak Luis Maday dalam perekrutan calon anggota MRP.
Sebelumnya diakui Eliaser, walaupun dia (Luis Manday) bukan asli Nduga, namun masyarakat Nduga sudah pernah memberikan kesempatan lima tahun untuk duduk di MRP.
“Tapi, selama lima tahun duduk di MRP, tidak pernah ada kontribusi yang diberikan kepada masyarakat Kabupaten Nduga. Nah, sekarang harus anak asli Nduga yang duduk bukan Luis Maday yang tidak pernah sama sekali memberikan kontribusi untuk masyarakat Kabupaten Nduga,”jelasnya.
“Intinya, saya dan masyarakat Nduga menolak dengan tegas pencalonan Luis Maday dan meminta kepada Panpel maupun Panpil untuk tidak menerima Luis Maday sebagai anggota MRP dari Kabupaten Nduga,”harapnya menandaskan. (Jems)

Published in Lintas Daerah