Pasific Pos | Papua Barat | Pasific Pos.com

| 25 May, 2019 |

Wasior, - Momentum peringatan HUT Polri ke 71 atau Hari Bhayangkara pada 1 Juli 2017 hendaknya tidak diperingati secara ceremonial semata. Namun momentum tersebut dijadikan refleksi untuk semakin meningkatkan pelayanan Polri kepada masyarakat.
Didukung dengan anggaran dan fasilitas yang cukup memadai, Polri diharapankan bisa memperbaiki kinerja untuk menegakan hukum secara adil, melindungi dan mengayomi seluruh masyarakat.
Itulah harapan besar salah satu purnawirawan Polri, AKP (purn) Johannis Bokwai SH yang saat ini menghabiskan masa pensiun di tanah kelahirannya, Kampung Wondiboy, Kabupaten Teluk Wondama.
Bokwai mengatakan menjadi seorang Polisi harus mengutamakan pengabdian kepada negara dan masyarakat, bukan mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan karena hanya mengejar materi.
“Dalam tugas utamakan pengabdian , jiwa dan raga kita untuk negara, saya dulu Brimob saya ingat motto kami adalah jiwa ragaku untuk kemanusian, itu yang harus diutamakan dalam tugas, jangan jadi polisi hanya untuk cari uang,”kata Bokwai kepada Tabura Pos di kediamannya, Selasa (11/7).
Menjadi seorang anggota Polisi menurutnya juga harus siap ditempatkan di manapun, apapun resiko dan kendalanya akan dihadapi. Namun saat ini ada oknum Polisi yang tidak mau apabila ditempatkan di pedalaman, bahkan ada yang memilih keluar dari kepolisian dari pada harus bertugas di pedalaman.
“Pendidikan sekarang kurang keras, jadi anggota banyak tidak mau kalau ditempatkan di pedalaman, bahkan kalau dengar mau ditempatkan di pedalaman mereka sudah down dan ada yang langsung keluar,”beber lulusan SPN Jayapura tahun 1978 ini.
Padahal menurutnya dimanapun ditempatkan asal anggota Polisi tidak lengah dan tetap disiplin, maka ia yakin anggota Polisi tersebut tidak akan mengalami kendala dalam tugas.
“Polisi banyak lalai, jadi banyak yang meninggal dalam tugas, apalagi yang suka mabuk. Miras itu salah sekali, kita sebagai anggota Polisi harus menjadi panutan bagi masyarakat,” kata mantan Komandan Pos KP3L  Teluk Wondama ini yang mengaku pernah bertugas di beberapa wilayah pedalaman Papua.
Oleh karena itu, Ia sangat berharap semua anggota Polisi bisa bekerja dengan baik, menjadi Polisi sejati yang mengutamakan pengabdian dan menomor duakan penampilan atau gaya-gayaan.
Selain itu, Bokwai menekankan agar Polisi teguh menjaga kehormatan dengan tidak mudah disogok dan menarik pungutan liar (pungli), karena menjadi seorang Polisi seharusnya menjadi kebanggaan yang tidak bisa dibeli dengan uang berapapun.
“Saya pernah dibilang bodoh oleh salah satu perwira polisi, karena sampai sekarang setelah saya menjadi perwira dan menjabat Ka Satbhara, Komandan KP3 saya tidak punya apa-apa, tapi saya bangga karena saya tidak menjual kehormatan saya, saya berharap semua polisi bisa begitu dengan tidak menerima sogokan dan melakukan pungli,” ujar pria 3 orang anak ini.
Terlebih Bokwai sampai saat ini masih memegang teguh kata-kata zending I.S Kijne yang mengatakan siapa yang bekerja jujur di atas tanah ini (Papua) maka akan mendapatkan tanda heran satu ke tanda heran lainnya.
“Jadi jangan ambil hak orang lain, berdosa. Jadi Polisi tujuannya juga jangan hanya ingin memperbanyak uang, memang kita butuh uang, tapi cara yang kita gunakan harus benar, jangan jual kehormatan polisi dengan uang,” kata Bokwai seraya berharap tidak ada lagi Polisi yang melanggar hukum.
Bokwai yang pernah bertugas menjadi anggota Brimob di Polda Papua selama 30 tahun ini sangat mendukung prioritas penerimaan Polisi untuk orang asli Papua.
Namun menurutnya, seleksi harus tetap dilakukan secara ketat agar didapatkan anggota Polisi yang berkualitas.
“Cari yang berkualitas, yang betul-betul mau mengabdi menjadi anggota polisi, jangan yang hanya menjadikan Polisi sebagai pelarian untuk tempat mencari uang,” pungkas Bokwai yang saat ini juga aktif mengelola perpustakaan Kampung Aitumansiri Kabau. [WAN-R5]

Published in Papua Barat