Anak Jalanan Jadi Target Pengedar Narkoba | Pasific Pos.com

| 22 May, 2019 |

Anak Jalanan Jadi Target Pengedar Narkoba

Headline Penulis  Selasa, 15 Maret 2016 13:42 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Kepala Dinas Sosial dan Permukiman Provinsi Papua, Ribka Haluk

 

JAYAPURA,- Narkoba kini mulai merasuki anak-anak. Bukan hanya sebagai pengguna, mereka kini dimanfaatkan sebagai pengedar. Bahkan pengedar narkoba anak di Kota Jayapura pada umumnya masih di bawah umur.

Kepala Dinas Sosial dan Permukiman Provinsi Papua, Ribka Haluk mengatakan, tren peredaran narkoba saat ini terus berubah bahkan menyasar anak usia di bawah umur sebagai target para pengedar.
Ia mengatakan modus yang digunakan para pengedar adalah dengan mendekati anak-anak dan memberikan obat terlarang tersebut. “Ini memang benar–benar  saya lihat sendiri dan ini permainan mafia. Ini memang harus diseriusi kalau tidak bisa bahaya. Karena mereka ini juga punya geng,” kata Ribka kepada wartawan di Kantor Gubernur Dok II Jayapura, Senin kemarin.
Dikatakan, Distrik Abepura adalah yang dianggap paling rawan untuk kasus peredaran narkoba jenis ganja. Apalagi ditengarai pengedarnya adalah anak – anak yang usianya masih dibawah umur.
Oleh karena, Ribka Haluk menegaskan, pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kota Jayapura harus serius melihat hal ini. Sebab, Presiden  RI telah menyatakan Indonesia sebagai negara darurat narkoba.
Dikatakan Ribka lagi, saat ini anak jalanan masih menjadi masalah besar yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah terutama Pemerintah Kota Jayapura. Pasalnya anak jalan yang ada di Kota Jayapura jumlahnya cukup banyak.
“Anak jalanan di Kota Jayapura ini cukup banyak,  Saya dari Jam 12 malam sampai jam 4 pagi sering turun langsung melihat hal itu.  Begitu banyak anak-anak jalanan yang jalan dengan narkoba seperti ganja,”ungkapnya.
Anak – anak jalanan ini, kata Ribka paling gampang ditemui pada saat tengah malam atau jam – jam kecil. “Mereka sangat polos. Kepada kami mereka cerita kalau mendapat ganja dari PNG, yang katanya dibawah oleh om – om warga negara PNG.  Tetapi mereka tidak tau dimana dia (pemasok ganja-red) itu tinggal,”ceritanya.
Sebelum menjadi pengedar narkoba, rata –rata anak – anak jalanan yang terdiri dari bermacam suku dan ras itu adalah pemakai aibon dan sekarang sudah naik kelas sebagai pengedar dan pengguna narkoba.
Yang lebih mirisnya lagi kebanyakan dari keluarga broken home dan banyak mangkal di Pasar Baru, Youtefa, Abepura. “Memang kita selama ini pembinaan tidak langsung ke anak, tetapi kepada orang tua dengan memberikan pemahaman,”akunya.
Dari Kementerian Sosial, masih kata Ribka ada program khusus untuk rehabilitasi anak dengan biaya negara. Dimana anak – anak ini tidak boleh lagi kelayapan di jalanan dan mereka harus kembali ke sekolah.
“Dari data yang kami punya, rata-rata mereka ini adalah anak – anak putus sekolah. Tetapi  untuk mendata mereka ini sangat susah, harus dengan tim work yang kuat,”tukasnya.
Sebelumnya Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Papua, Kombes Pol Jackson mengatakan, saat ini untuk kejahatan narkoba sifatnya dibawah permukaan.
Sebab menurutnya masalah narkoba ini berbeda dengan pidana umum dan pidana khusus.
 “Ketika kita tidak keluar dari kantor untuk mengungkapkan atau melakukan investigasi maka tidak akan tertangkap,”tuturnya saat coffee morning bersama para pimpinan media lokal di Kota Jayapura akhir pekan lalu.
Dikatakan Jackson untuk narkotika seperti jenis shabu dan ekstasi di Papua, biasanya kalaupun tertangkap beratnya tak lebih atau kurang dari 1 ons. Sedangkan ganja yang biasanya tertangkap dari negara tetangga Papua Nugini beratnya bisa sampai kiloan.
Data yang dimiliki BNN Papua untuk penyebaran narkoba di 29 kabupaten/kota. Nomor satu masih didominasi oleh ganja. (Bams)

Dibaca 345 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX