Banyak Jatuh Korban, Jika Papua Seperti Aceh | Pasific Pos.com

| 17 July, 2019 |

Banyak Jatuh Korban, Jika Papua Seperti Aceh

Headline Penulis  Jumat, 11 Maret 2016 12:46 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa

 

Jayapura,- Aksi pengibaran bendera Bulan Bintang, symbol dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kantor DPR Aceh, belum lama ini mendapat reaksi dari legislator Papua yang membidangi hukum dan Hak Asazi Manusia.

Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa menyakini banyak jatuh korban warga sipil, apabila Papua melakukan tindakan pengibaran bendera seperti yang terjadi di Provinsi Aceh. Padahal Aceh dan Papua sama-sama meliki Undang-Undang Otonomi Khusus.
“Negara memberikan keleluasan bagi daerah Aceh, tanpa ada tindakan hukum yang dilakukan terhadap pengibaran Bulan Bintang sebagai simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di DPR Aceh belum
lama ini. Namun sangat disayangkan jika Papua melakukan pengibaran Bendera tak seleluasan seperti apa yang terjadi di Aceh,” kata Kadepa saat dihubungi Pasific pos, Kamis (10/3).
Menurut Kadepa, jika Papua melakukan tindakan seperti di Aceh, maka bakal ada penangkapan dan jatuh korban ketika pengibaran bendera Bintang Kejora ini.   “Kalau pengibaran Bintang Kejora itu dilakukan seperti yang telah di lakukan di Aceh saya yakin TNI Polri atas nama negara pasti bertindak, dengan melakukan penangkapan hingga akan terjadi korban," ujarnya.
Selama ini, sambungnya, Papua telah mengikuti kebijakan negara yang berbau diskriminasi dan ras, namun ada perbedaan sangat jauh selama ini.  Pengibaran Bendera Bulan Bintang yang merupakan lambang GAM DPR Aceh dan dianggap biasa, merupakan salah satu contoh dari diskriminasi dimaksud.
"Kalau di Papua itu terjadi entah berapa yang akan terjadi korban. Saya tidak tau apakah mungkin bendera Aceh ada dalam perjanjian Elsinki," ucapnya.
Kadepa pun mengemukakan, sejak kepemimpinan Presiden RI, Gusdur memberikan kebebasan untuk pengibaran symbol daerah dan pengibaran dihargai "Itu karena dia mengganggap itu kekuatan kultur. Hanya saja itu sulit dilanjutkan oleh penerusnya. Selalu dianggap salah,"  tutupnya. (Syaiful)

Dibaca 572 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.