Kabupaten Mappi KLB Demam Berdarah | Pasific Pos.com

| 25 May, 2019 |

Kabupaten Mappi KLB Demam Berdarah

Headline Penulis  Senin, 15 Februari 2016 12:30 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

MAPPI,- Kabupaten Mappi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus Demam Berdarah (DBD), berdasarkan keputusan Bupati Mappi Tanggal 4 Februari 2016. Sesuai data, per tanggal 4 Februari 2016,  sudah ada 8 kasus DBD dan yang terduga sebanyak 24 kasus, sehingga totalnya sebanyak  32 kasus.

“Itu sudah kita laporkan ke Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Ada beberapa daerah di Papua yang dalam kondisi KLB, salah satunya Kabupaten Mappi dan Keerom, tapi terhitung sampai dengan saat ini tidak ada yang meninggal,”ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi dr. Ronny Hery Tombokan kepada ARAFURA News di Kepi, Kemarin.
Menurut Kadinkes, kasus tetap ada dan pihaknya juga telah mendapatkan 12 kasus baru yang positif terkena demam berdarah. Namun, pihaknya sudah berupaya melakukan penanggulangan seperti penatalaksanaan kasus yakni menangani pasien-pasien demam berdarah di rumah sakit. Kemudian, pihaknya juga melakukan upayakan pemberantasan nyamuk karena penyakit demam berdarah ini ditularkan oleh nyamuk.
“Nyamuk di sini begitu banyak. Jadi, kita melakukan pemberantasan dengan melakukan foging atau pengasapan hal ini dilakukan bertujuan untuk membunuh nyamuk,”ujarnya.
Foging ini di Mappi perlu dilaksanakan, karena di suatu daerah pernah muncul seperti di Mappi maka daerah itu akan menjadi daerah endemic dan kasus itu sudah terjadi di sini dan tingal menunggu waktu siklusnya muncul lagi setiap tahun. “Sseperti di Merauke tahun 2000 kasusnya muncul tiap tahun muncul lagi. Jadi kita harus waspada karena kita tidak mau disibukkan dengan masalah, karena kita masih disibukan dengan masalah masalah lain seperti TBC, Malaria,”katanya.
Selain itu, kata Kadinkes, pihaknya juga melakukan sosialisasi secara masal pagi sore dengan melakukan penyuluhan supaya masyarakat paham. Dari penyuluhan itu dampaknya adalah banyak sekali ketika sudah panas orang segera periksa. “Biasanya orang yang meninggal karena terlambat membawa ke rumah sakit. Jadi ketika kondisi sok, karena ciri-ciri demam berdarah itu panas tinggi 2 hari, kemudian berikutnya panas turun padahal itu dalam kondisi sok yang kebanyakan orang pikir sembuh, jadi sekarang tidak ada yang datang dalam kondisi sok sehingga itu mempermudah penanganan,”terangnya.
 Kadinkes juga menghimbau kepada masyarakat jangan ke luar rumah jika tidak perlu, kemudian pakailah lengan panjang dan celana panjang. Selanjutnya, kalau bisa tidur di dalam kelambu karena pihaknya sudah membagikan kelambu kepada masyarakat. “Marilah kita berantas sarang nyamuk bersama-sama dengan menguras tempat pempungan air, menutup rapat penyimpanan air dan menimbun barang- barang yang menjadi tempat tertampungnya air,”tukasnya. (Cr-8)

Dibaca 495 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.