Dubes AS Launching Program Lestari | Pasific Pos.com

| 22 August, 2019 |

Dubes AS Launching Program Lestari

Headline Penulis  Jumat, 22 Januari 2016 10:09 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Duta Besar Amerika Untuk Indonesia Robert Blake foto bersama dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe,SIP.MH, Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano, Sekda kab. Jayapura Yeri Dien, perwakilan dari TNI-Polri, Rektor Uncen  dan perwakilan dari lima suku adat yang mendiami Cycloop usai Penandatangan deklarasi, Kamis, Kemarin di Kantor Gubernur Dok II Jayapura.

 

JAYAPURA,- Duta Besar Amerika Untuk Indonesia Robert Blake melaunching program USAID-Lestari dan sekaligus penandatanganan deklarasi kesepakatan para pihak tentang kolaborasi pengelolaan kawasan dan daerah penyangga cagar alam cycloop.

Penandatangan deklarasi ini ditandatangni oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe,SIP.MH, Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano, Bupati Kabupaten Jayapura yang diwaliki Sekda Yeri Dien, perwakilan dari TNI-Polri, Rektor Uncen  dan perwakilan dari lima suku adat yang mendiami Cyclop.
Deklarasi dan penandatanganan ini sangat penting untuk mempertahankan fungsi kawasan alam cyclop untuk kelangsungan pembangunan kabupaten Jayapura, Kota Jayapura dan Provinsi Papua.
Sebagai penunjang sistem kahidupan yakni sumber plasma, keanekaragaman hayati dan ekosistem pengatur tata air, sumber penyedia air, penyerap emisi gas rumah kaca dan penagatur iklim mikro serta laboratorium alam bagi penelitian dan pendidikan sekaligus menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Sembilan poin yang disepakati untuk melestarikan serta memulihkan fungsi akwasan cagar alam cyclop dan penyangganya berdasarkan prinsip pengelolaan secara multipihak adalah perlindungan dan pengamanan, pengawetan dan pemulihan, pendidikan dan penelitian, pemanfaatan dan pemberdayaan, pembinaan dan pengelolaan daerah penyangga, pengembangan sarana dan prasarana penunjang pengelolaan kawasan, peningkatan penyadartahuan pentingnya pelestarian kawasan, peningkatan koordinasi dan sinergitas antar instansi dan stakeholer terkait dan pembentukan KPHK model pengelolaan kawasan cagar alam Cyclop.
Guna mewujudkan kesepakatan bersama ini, kami para pihak bersedia bekerjsama untuk mengembangkan pola hubungan kerja sama secara terpadu, terencana, partisipasi melalui multi disiplin ilmu lintas sektor dan lembaga berbagi tugas sesuai fungsi dan tugas pokok serta beban biaya untuk berkonstribusi dalam upaya penyelamatan kawasan pegunungan Cyclop melalui suatu rencana program atau kegiatan kolaborasi pengelolaan kawasan cagar alam Cyclop dan daerah penyangga.
Benja Victor Mambai selaku Koordinator Program Lestasri di Provinsi Papua, mengatakan, proyek USAID ini mendukung Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan melestarikan keanekaragaman hayati pada hutan.
"Selain itu, proyek LESTARI ini juga mendukung pelestarian ekosistem bakau kaya karbon dan yang signifikan secara biologi dengan menerapkan pendekatan bentang alam untuk mengurangi emisi GRK," katanya.
Menurut Benja, aktifitas utama proyek Lestari adalah perbaikan tata kelola lahan, peningkatan pengelolaan dan perlindungan spesies kunci di dalam kawasan konservasi, perbaikan praktik sektor swasta serta industri juga perluasan konstituensi untuk konservasi.
"Khusus untuk Provinsi Papua, program Lestari akan bekerja sama dengan pemprov setempat, Kota dan Kabupaten Jayapura, Asmat, Mimika, Mappi, Boven Digoel dan Universitas Cenderawasih," ujarnya.
Dia menjelaskan program Lestari bekerja di enam daerah fokus dan lanskap di tiga pulau terbesar di Indonesia, yaitu Sumatera Utara (Lanskap Leuser), Kalimantan Tengah (Lanskap Katingan-Kahayan) dan Papua (Lanskap Dataran Rendah Lorentz, Mappi-Boven Digoel, Sarmi dan Cycloops).
"Program Lestari ini dibangun di atas landasan yang sudah diletakkan oleh proyek USAID IFACS, maka mengintegrasikan konservasi hutan dan lahan gambut dengan pembangunan rendah emisi pada lahan yang sudah terdegradasi," katanya lagi.
Dia menambahkan, terdapat paling tidak 30 juta orang atau 1,9 juta masyarakat Papua secara langsung bergantung pada hutan Indonesia dan jasa ekosistemnya, sehingga kerusakan hutan harus segera diatasi. (Bams)

Dibaca 626 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX