2 Anggota TNI Penembak Warga Sipil Dipecat | Pasific Pos.com

| 24 August, 2019 |

2 Anggota TNI Penembak Warga Sipil Dipecat

Headline Penulis  Senin, 16 November 2015 11:12 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)


Jayapura,- Dua oknum anggota TNI Kodim 1710/Timika, Pratu Makher Rehatta (34) dan Praka Gregorius R Geta (33) dipecat dari militer TNI AD dan pidana penjara masing-masing 12 tahun dan 3 tahun.

Vonis kedua terdakwa tersebut dibacakan secara bergantian Ketua Majelis Hakim Pengadilan Militer III-19 Jayapura Letkol Laut (KH) Ventje Bulo dengan anggota Majelis Hakim Letkol Laut (KH) Asep RH dan Majelis Hakim Mayor CHK Ahmad Jailani, di ruang sidang Teratai di Pengadilan Negeri Mimika, Timika, Papua, Jumat (13/11).
Sertu Makher terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan dan penganiayaan berat sesuai pasal 338 KUHP dan pasal 351 KUHP, sedangkan Praka Gregorius terbukti melakukan tindak pidana perbantuan pembunuhan dan penganiayaan berat, melanggar pasal 338 dan 351 KUHP.
Keduanya terdakwa didampingi tim kuasa hukum, diketuai Mayor CHK Agustianto dan menyatakan pikir-pikir atas keputusan hakim tersebut.
Dalam pembelaannya, Agustianto mengatakan kedua kliennya melakukan pembelaan diri karena mereka diserang oleh massa, namun pembelaan itu diabaikan oleh Majelis Hakim.
Perbuatan terdakwa, menurut Ventje Bulo bertentangan dengan kodrat kemanusiaan, keduanya tidak berhak merampas nyawa orang lain. ''Sikap korsa dengan alasan melindungi sesama militer adalah pemahaman jiwa korsa yang sempit, seharusnya melindungi rakyat karena senjata yang digunakan juga dibeli oleh uang rakyat,'' tegas Ventje.
Sikap kedua terdakwa, kata Ventje lagi, arogan, tidak disiplin, mengabaikan perintah harian Panglima Kodam XVII/Cenderawasih yang melarang anggota mengkonsumsi miras dan narkoba.
Selain itu, kata Ventje perbuatan terdakwa menimbulkan instabilitas di Timika yang bisa merembet ke daerah lain di Papua.
Hal-hal meringankan, keduanya sopan di persidangan dan keduanya juga memiliki tanggung jawab kepada keluarga.
Sidang dihadiri keluarga besar korban pembunuhan, baik keluarga Yulianus Okoare maupun keluarga Herman Mairimau.
Peristiwa penembakan sendiri terjadi pada tanggal 28 Agustus 2015 lalu di Depan Gereja Katolik Koprapoka, saat warga yang sedang menggelar acara syukuran dan memalang jalan.
Warga menegur Serka Makher dan Pratu Imanuel Imbiri yang saat itu mengendarai kendaraan roda dua dan menerobos palang jalan dengan kecepatan tinggi. Tidak terima ditegur warga, Pratu Imbiri yang dibonceng Makher turun dari motor lalu mengancungkan pisau ke arah warga sambil berteriak, 'mau apa'.
Warga lalu mengejar keduanya yang kemudian lari menuju pos untuk mengambil senjata dan kembali ke Kompleks Gereja Katolik.
Dua terdakwa lainnya, Pratu Ashar dan Praka Gregorius menyusul keduanya, juga berboncengan sambil membawa senjata laras panjang dan magazen.
Di tengah kerumunan massa Pratu Ashar mengeluarkan tembakan, juga Praka Makher yang sudah tiba duluan di lokasi. Tembakan yang mereka keluarkan mengakibatkan 2 orang meninggal dunia dan empat orang lainnya terluka.
Marianus Maknaipeku, tokoh masyarakat Kamoro kepada wartawan mengatakan, keluarga dan masyrakat menerima putusan hakim tersebut dan juga berterima kasih kepada pimpinan tertinggi TNI yang telah menghadirkan pengadilan militer di Timika sehingga prosesnya disaksikan langsung oleh warga.
''Hanya satu yang kami minta, agar proses ini transparan sampai pemecatan, pada saat pelepasan baju dinas agar dilakukan di depan masyarakat adat, supaya kami betul-betul yakin bahwa mereka yang melakukan pembunuhan itu sudah tidak menjadi anggota TNI lagi,'' pintanya.
Hal yang sama diminta oleh Gregorius Okoare, meminta agar masyarakat diberikan kesempatan menyaksikan upacara pemecatan anggota TNI tersebut. ''Ini supaya kami keluarga yakin bahwa memang pimpinan TNI menerapkan putusan pengadilan. Kami khawatir mereka divonis di pengadilan tetapi ternyata mereka dipindahkan ke kesatuan lain,'' tegasnya. (Fani)

Dibaca 788 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.