DPRP Minta Gubernur Cabut Ijin Perkebunan Kelapa Sawit | Pasific Pos.com

| 22 May, 2019 |

DPRP Minta Gubernur Cabut Ijin Perkebunan Kelapa Sawit

Headline Penulis  Kamis, 29 Oktober 2015 00:04 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)
Ketua DPR Papua, Yunus Wonda
Ketua DPR Papua, Yunus Wonda.

 

Jayapura,- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua Yunus Wonda meminta kepada Gubernur Papua Lukas Enembe agar mencabut izin Perkebunan Kelapa Sawit yang selama ini beroperasi di tanah Papua.

Permintaan pencabutan ijin ini, lantaran Perkebunan Kepala Sawit dianggap tak mengembangkan perekonomian di Papua. Bahkan, DPR Papua berpandangan Kepala Sawit malah merusak lahan di Papua. “Kelapa Sawit tidak cocok di Papua. Contohnya, daerah Arso hingga kini tak ada perkembangan. Ijinnya cabut saja,” pinta Yunus Wonda ketika ditemui wartawan di Hotel Aston Jayapura, Rabu (28/10).
Menurut Politikus dari Partai Demokrat ini, investor Kelapa Sawit yang masuk di Papua, hanya sebagai pintu masuk. Namun tujuan utama mereka adalah penambangan kayu secara liar, sehingga Kelapa Sawit dianggap tak cocok di Papua.
“Jika Kelapa Sawit benar-benar ada, seharusnya ketika selesai dibakar kelihatan pohon. Kami tak pernah setuju hal itu, kami sarankan agar Kelapa Sawit ditanam di luar Papua,” kata Yunus Wonda.
Yunus Wonda pun menganggap bencana kabut asap yang terjadi di Indonesia, termasuk di Papua, akibat ulah pembukaan lahan untuk perkebunan Kepala Sawit. “Seharusnya Perkebunan Kelapa Sawit dibuka hingga ribuan hekat, bukan dipetak-petak dan kemudian memerlukan tenaga terampil,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan pengelolahan perkebunan Kelapa Sawit di Malaysia. Dimana persoalan Kelapa Sawit bukan asal menanam, melainkan dilakukan dengan didasari kemampuan. “Mereka tau produk yang digunakan, cara mengelola. Selama ini yang terjadi asal jadi, tapi sebenarnya tujuan merka hanya penambangan kayu secara liar,” tukasnya. (Syaiful)

Dibaca 600 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.