Kabut Asap Landa Papua | Pasific Pos.com

| 24 May, 2019 |

Kabut Asap Landa Papua

Headline Penulis  Senin, 19 Oktober 2015 10:04 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Tampak para penumpang di bandara Sentani yang di penerbangannya ditunda.

 

“80 Persen Kabut Asap dari Merauke dan Timika”

Manokwari,- Kabut asap melanda kawasan Papua pada Minggu (18/10/2015) siang. Akibatnya, sejumlah jadwal penerbangan kedatangan ataupun keberangkatan yang dibatalkan.
Lima penerbangan yang batal berangkat adalah pesawat Sriwijaya Air dengan tujuan Manokwari, Susi Air tujuan Bintuni, Garuda Indonesia tujuan Manokwari, Susi Air tujuan Inwatan, dan Susi Air tujuan Terminabuan.

Adapun dua penerbangan yang batal datang adalah untuk pesawat Garuda Indonesia dari Manokwari dan satu pesawat yang tidak disebutkan informasinya.
Kabut asap juga menyebabkan sejumlah penerbangan dari Bandara Sorong delayed atau ditunda. Jarak pandang di bawah standar menyebabkan otoritas bandara menunda keberangkatan.
"Tadi visibility sekitar 2.400 meter, tetapi sekarang sudah memenuhi standar, jadi kembali diberangkatkan," ujar supervisor Garuda Indonesia di Bandara Sorong, Imam Karyo, saat ditemui di kantornya, Minggu.
Sementara, penerbangan pesawat GA-699 Garuda dari Bandara Sentani ke Bandara Rendani Manokwari, juga dibatalkan akibat kabut asap.
Akibat pembatalan penerbangan tersebut pihak Garuda Indonesia cabang Jayapura mengembalikan uang tiket penumpang tujuan Jayapura-Manokwari sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Ketua Forum Penanggulangan Bencana Kabupaten Manokwari, Yulianus Peterson Sinery mengungkapkan, kabut asap di Manokwari sekarang, 80 persen akibat asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan di Merauke, Timika, dan beberapa tempat lain di Papua dan Papua Barat.
Dari banyak tempat itu, kata Sineri, Merauke menyumbang asap paling besar karena dari 400 titik api, 200 lebih titik api berada di Merauke. “80 persen asap dari Merauke. Titip api di Papua dan Papua Barat saat ini 400-an titik api, yang mana 200 lebih ada di Merauke, tidak hanya di Papua, tetapi asap ini sudah ikut dirasakan di Maluku,” kata Sineri kepada Tabura Pos di Gedung Wanita, Manokwari, Sabtu kemarin.
Meski begitu, ia menegaskan, asap yang terlihat di Manokwari bukan asap yang berasal dari Sumatera atau Kalimantan. Ditambahkannya, tidak hanya dari asap, kabut juga diperparah akumulasi pengangkatan partikel debu yang naik udara karena sudah tidak mengandung air sama sekali.
Diutarakan Sineri, fenomena ini pernah terjadi di Manokwari pada 1997, yang mana jarak pandang hanya sekitar 500 meter saja. “Ini biasa terjadi, tetapi saat ini El Nino sedang dan tidak ada proses pencucian Atmosfer karena tidak ada hujan turun, sehingga terjadi kabut asap seperti ini. Biasanya Atmosfer dibersihkan oleh hujan,” terang Sineri.
Sineri yang juga staf observer Stasiun Meteorologi Manokwari ini berharap, hujan segera turun, sehingga terjadi pencucian atmosfer supaya kabut asap segera hilang dari langit Papua dan Papua Barat.
Ditanya kronologi bisa terbawanya asap dari Merauke hingga ke Papua Barat, ia menjelaskan, asap itu didistribusikan angin yang bertiup dari selatan Indonesia (Australia) naik menuju wilayah kepala burung Papua dan kembali akan berputar ke daerah Pasifik.
Hal inilah, sambung dia, yang menyebabkan distribusi asap terbawa sampai ke Manokwari, Biak, dan beberapa daerah di Maluku. Sebagai langka antisipasi jangka pendek, Sineri menyarankan semua pihak bergerak untuk menangani kebakaran hutan dengan memadamkan titik-titik api.
Selain itu, dirinya juga berharap dalam pembukaan lahan, petani tidak melakukan pembakaran hutan atau ilalang. Hal ini, menuru Sineri, perlu dilakukan karena jika jarak pandang semakin kecil sampai 1 km, diperkirakan banyak bandara yang akan tutup sementara. (Erik)

Dibaca 1545 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.