Empat Jenazah Trigana Air Teridentifikasi | Pasific Pos.com

| 25 May, 2019 |

Empat Jenazah Trigana Air Teridentifikasi

Headline Penulis  Jumat, 21 Agustus 2015 20:53 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Kepala Pusat Dokkes Mabes Polri Brigjen Arthur Tampi didampingi Kapolda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw, Wakapolda Papua Brigjen Pol Rudolf Albert Rodja, dan Direktur Operasional Trigana Air Service Benny Sumaryanto Ketika Memberikan Keterangan Pers, Kamis (20/8).

Jayapura,- Empat jenazah penumpang pesawat Trigana Air jenis ATR 42 bernomor lambung PK-YRN yang jatuh pada Minggu 16 Agustus lalu, berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Kotaraja, Kamis (20/8) pagi.
Dalam keterangannya persnya, Kepala Pusat Dokkes Mabes Polri Brigjen Arthur Tampi didampingi Kapolda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw, Wakapolda Papua Brigjen Pol Rudolf Albert Rodja, dan Direktur Operasional Trigana Air Service Benny Sumaryanto menyebutkan, kantung jenazah bernomor 0001 tidak terbantahkan (teridentifikasi) bernama Terianus Salawala.
“Terianus Salawala, merupakan warga Oksibil yang bekerja sebagai Sekretaris Bappeda Kabupaten Pegunungan Bintang. Jenazahnya teridentifikasi berdasarkan Primer yakni, Sidik Jari dan Data Sekunder berupa catatan Medis dan Property yang melekat di tubuh korban, ” urai Artur dihadapan awak media di Media Center DVI Polda Papua, Kamis (20/8) siang.
Untuk kantong jenazah 0002, lanjut dia,  tidak terbantahkan bernama Matius Nikolaus Aragay, pria yang kesehariannya sebagai pegawai di Kantor Pos Jayapura.  Jenazah 003 teridentifikasi berdasarkan bukti skunder berupa catatan medis, property yang melekat pada tubuh jenazah. “Dia tinggal di Polimak II Gunung, Jayapura,” jelasnya lagi,
Kemudian, Kantong jenazah 0003 tidak terbantahkan bernama Boni Woriori, mahasiswa STIE Ottow Gesler Serui.  “Jenazah 0003 teridentifikasi dari 2 buah data Sekunder berupa catatan medis dan property yang melekat pada tubuh korban,” ungkapnya.
Terakhir kantong jenazah 0004 adalah Wendepen Bamulki, seorang guru di Kampung Aldom, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. Jenazah guru ini teridentifikasi sesuai data Skunder catatan medis dan protery.
Menurut Artur, proses identifikasi ini sesuai dengan Standar DVI, yang mana dalam proses identifikasi yang dilakukan oleh Tim DVI dibantu oleh Tim Forensik Mabes Polri. Tim Forensik ini,  yakni, AKBP Drg. Achmad Fauzi, Kompol Dr. Bambang SP.F dan ahli DNA, AKP Hastanti.
“Dalam standar yang kami lakukan adalah, Primer, Sekunder dan Property. Untuk Primer dilakukan pemeriksaan Sidik Jari, Gigi dan pemeriksaan DNA antara jenazah dan keluarga, sedangkan Skunder
dilakukan pemeriksaan melalui Medical yakni, bekas penanganan atau tindakan medis yang dilaksanakan pada korban,” bebernya.
Sementara itu, Kapolda Papua, Brigjen (Pol) Paulus Waterpauw, empat jenazah ini akan sesegera diserahkan kepada pihak keluarga korban.  “Penyerahan jenazah kepada keluarga harus memenuhi prosedur yang ada, dan pasti tidak hanya diserahkan begitu saja akan tetapi ada bantuan berupa asuransi kepada keluarga korban,” tegas dia.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes (Pol) Patrige mengatakan saat ini Kepolisian setempat tengah mengontrol kondisi emosional keluarga korban yang berkumpul di Gedung Tongkonan, Kotaraja. (Syaiful)

Dibaca 1257 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.