Mama-Mama Pengrajin Noken Keluhkan Tempat Usaha | Pasific Pos.com

| 9 December, 2019 |

Anggota Komisi II DPR Papua, Otniel Hindom, SE saat Hearing Dialog bersama masyarakat mama mama pengrajin noken Papua.(Foto Tiara) Anggota Komisi II DPR Papua, Otniel Hindom, SE saat Hearing Dialog bersama masyarakat mama mama pengrajin noken Papua.(Foto Tiara)

Mama-Mama Pengrajin Noken Keluhkan Tempat Usaha

Ekonomi & Bisnis Penulis  Senin, 28 Oktober 2019 11:37 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura, - Anggota Komisi II DPR Papua bidang Perekonomian, Otniel Hindom,  SE menggelar hearing dialog bersama masyarakat mama-mama pengrajin noken Papua, di Hotel Yasmin Jayapura,  pada akhir pekan kemarin.

Disela-sela hearing dialog,  Otniel Hindom mengatakan, kalau mama-mama pengrajin noken ini mengeluhkan tempat jualan. Meskipun sudah ada fasilitas yang disediakan oleh pemerintah di pasar Mama-Mama Papua, namun mama-mama pengrajin noken Papua ini tidak ingin berjualan disitu lantaran tidak ada pembeli di karenakan Los untuk penjual noken berada di lantai atas.

"Mama -mama ini kan punya usaha  sudah bagus, hanya saja fasilitas tempat usaha untuk mereka selama ini, belum ada. Memang kita punya Pasar Mama-mama Papua ini ada, tapi mereka merasa kurang layak untuk mereka lanjutkan usaha mereka disitu," ujar Otniel Hindom.

Politisi Partai Gerindra itu mengatakan,  jika mama-mama ini minta supaya pemerintah harus siapkan satu tempat usaha khusus di Kota Jayapura.
 
"Jadi mereka minta untuk dibuatkan Galeri noken kerajinan khusus untuk mama-mama Papua ini, sehingga mereka juga bisa menjual hasil kerajinan tangan mereka disitu, tanpa harus tadah panas dan hujan di emperan jalan, " kata Otniel.

Apalagi lanjut Otniel Hindom, ini tengah mendekati PON, mestinya mereka harus siapkan itu, sehingga  terdorong  untuk lebih banyak memproduksi noken untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON)  2020 di Papua.

Menurutnya,  ini kesempatan pemerintah untuk membeli produk mereka untuk di taruh di galeri dan memang sekarang pemerintah sedang persiapkan tempatnya.

Namun kata Otniel Hindom, pihaknya juga belum memgetahui, pemerintah sudah siapkan tempatnya dimana.

"Kalau bisa tempat atau galering di pusat kota juga ada, jangan misalnya dua tempat di Abe atau di Sentani, lalu mama-mama yang ada di sini, bagaimana?, jadi memang seharusnya ada tempat juga disini untuk mama-mama yang ada di wilayah  Kota Jayapura," ucapnya.

Bahkan ia mengusulkan,  ruko-ruko yang ada itu, sebaiknya Pemprov kontrak buat mama-mama untuk membuka galeri pengrajin noken Papua,  dalam rangka menyambut PON nanti.

"Jadi memang harus sada tempat yang sesuai wilayah. Mungkin di Jayapura sini, kan banyak mama-mama yang masih jualan di pinggir-pinggir pertokon, padahal seharunya tempat mereka itu ada di Pasar Mama-mama Papua, tapi karena ditempatkan diatas. Sehingga mereka tidak mau lantaran tidak ada pembeli,"  imbuhnya.

Kata Otniel, produk-produk mereka ini di PON nanti di pastikan  akan habis, sehingga mulai dari sekarang kita harus sampaikan kepada mereka supaya harus siapkan sebanyak-banyaknya.

"Kalau mama-mama ini tidak siap, lalu bagaimana?  Katrena nanti itu teman-teman yang dari luar datang untuk ikut PON.  Yang jelas mama -mama punya produk-produk atau souvenir yang dijual pasti akan habis di beli untuk dijadikan oleh-oleh dari Papua," ucapnya.

Hanya saja,  kata Otniel Hindom,  mama-mama yang buat kerajinan noken ini hanya berapa orang saja dan itu juga terbatas. Sehingga ini yang mungkin pemerintah juga harus bisa membantu, minimal berikan mereka modal usaha. Karena itu salah satu kendala yang mama-mama pengrajin noken ini alami selama ini.

Selain itu, ungkapnya kendala yang dihadapi  belum ada edukuasi dari pihak-pihak tertentu termasuk BUMD, pemerintah dalam hal ini dinas terkait, seperti pariwisata, koperasi dan lain sebagainya, yang seharusnya mereka edukasi supaya bagaimana caranya untuk bisa mendapat fasilitas ke pihak bank atau yang punya bantuan kesana.
Itu yang tadi juga saya sampaikan kalau bisa buat kelompok, dengan kelompok ini baru mereka bisa mengarah ke pemasarannya untuk permodalan.

"Saya juga tadi sampaikan kalau bisa ada kelompok untuk bawa ke KAPP juga karena KAPP ini membawahi semua usaha-usaha perekonomian orang asli Papua. Tapi harus ada fasilitas yang bisa memfasilitasi mereka ini kesana. Seperti tadi saya bilang, harus ada kelompok," terangnya.

Otniel Hindom menambahkan,  jika selama ini ternyata mama-mama pengrajin noken,  punya usaha ini jalan sendiri-sendiri. Sehingga ketika mereka mau membeli bahan baku mereka harus usaha jualan yang lain dulu. Makanya harus ada bantuan, karena mungkin dengan bantuan itu mama-mama kita bisa kembangkan usahanya.

"Jadi saya juga minta kepeda mama-mama ini kalau bisa buat kelompok, tapi juga harus yang bertanggungjawab, jangan mereka bentuk kelompok kemudian sudah dapat bantuan lalu nanti mereka sendiri yang susah," tutupnya. (TIARA)

Dibaca 60 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.