Ratusan Pelajar Curhat Akibat Rasisme Ke Wakil Bupati Mimika | Pasific Pos.com

| 21 October, 2019 |

Ratusan Pelajar Curhat Akibat Rasisme Ke Wakil Bupati Mimika

Lintas Daerah Penulis  Kamis, 03 Oktober 2019 20:17 1
Beri rating artikel ini
(1 Voting)

 

MIMIKA, Ratusan pelajar dan mahasiswa se-Jawa Timur menceritakan kisah yang mereka alami akibat aksi rasisme yang terjadi pada 15 san 16 Agustus lalu di Surabaya dan Malang. Curhat para mahasiswa dan pelajar ini disampaikan kepada Wakil Bupati Johannes Rettob dan Sekretaris LPMAK Abraham Timang beserta rombongan di Gedung Widya Kartika milik Keuskupan Surabaya, LKD Surabaya.

Sembilan curhatan, mereka antara lain para mahasiswa dan pelajar merasa bahwa Pemda Mimika dan LPMAK terkesan lamban dan kurang memperhatikan mereka, terutama saat suasana memanas.

Kedua, pemberitaan media nasional tidak sesuai dengan fakta sebenarnya yang mereka alami. Ketiga, pelajar dan mahasiswa pulang karena permintaan orangtua.

Keempat, mereka juga menyesalkan penanganan TNI-Polri pada persitiwa itu yang terkesan tidak menjadi penengah namun ikut melakukan rasisme melalui tindakan. "Seharusnya mereka menjaga dan menaungi kita namun ada anggota yang berat sebelah. Mereka juga melakukan rasisme dengan tindakan,” ujar salah seorang mahasiswa.

Keenam, banyak pelajar dan mahasiswa asal Papua dan Papua Barat yang sudah kembali. Hanya Mimika yang masih ada di Jawa Timur.

Ketujuh, mereka juga meminta jaminan keamanan dan kenyamanan jika melanjutkan studi. Kedelapan, bagaimana nasib pelajar dan mahasiswa yang sudah kembali masih ingin melanjutkan studi namun tidak diakomodir sekolah dan kampus di Jawa Timur.

Menjawab curhatan mahasiswa ini, Wakil Bupati Johannes Rettob mengatakan, ketika kejadian di Surabaya dan Malang terjadi, Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika harus menunggu
petunjuk dari Pemerintah Provinsi karena persoalan ini bukan hanya menjadi masalah daerah saja namun sudah menjadi perhatian secara nasional. Walau demikian, Pemda Mimika bersama TNI Polri dan LPMAK langsung melakukan sejumlah persiapan-persiapan awal guna mengantisipasi persoalan ini.

“Saat itu kami juga belum dilantik dan sedang berada dalam proses persiapan pelantikan. 2 hari setelah dilantik, bupati langsung meminta saya mengurusi persoalan ini,” ujarnya.

Dijelaskannya pula, dua kali bersama LPMAK dan TNI-Polri melakukan pertemuan bersama pelajar, mahasiswa dan orangtua. Kami lakukan 3 kali pertemuan secara internal tentang persoalan yang kalian hadapi dan bagaimana jalan keluarnya. "Saya dan bupati sudah dilantik, hari ini saya ada disini. Ke depan saya mau pastikan bahwa ketika ada persoalan seperti ini, kami langsung datang karena kalian adalah anak-anak kami,” jelas wabup diiringi tepukan tangan pelajar dan mahasiswa.

Persoalan yang terjadi kala itu, mereka langsung lakukan koordinasi dengan perwakilan lembaga atau pihak ketiga yang menangani pelajar dan mahasiswa di kota studi untuk memastikan keberadaan dan keamanan mereka.

Selain itu, persoan ini tidak lagi menjadi masalah LPMAK saja namun masalah daerah sehingga LPMAK harus menyesuaikan dengan agenda kerja pemerintah dan TNI-Polri sebagai sebuah tim.

“Kami hadir sebagai orangtua kalian, mau melihat apa yang kalian alami disini termasuk keamanan dan kenyamanan dalam keseharian maupun di sekolah atau kampus. Kita juga tidak sepenuhnya mempercayai apa yang diberitakan di media baik cetak, online maupun televisi sehingga kami harus datang melihat langsung semua ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, di Papua termasuk Mimika saat ini sedang terjadi eksodus mahasiswa dalam skop yang besar. Eksodus terjadi karena adannya berbagai informasi hoaks sehingga membuat pelajar dan mahasiswa merasa tidak nyaman dan ingin kembali.

“Ketika mereka kembali ke Timika, disana aman-aman saja. Dan sekarang banyak yang ingin kembali. Kami kesini untuk menjamin keamanan dan kenyamanan kalian,” ujarnya.

“Kami sudah bertemu wakil gubernur provinsi Jawa Timur dan akan ke Polda. Gubernur dan wakil gubernur menjamin keberadan kalian disini. Bahkan anak-anak yang nanti kembali untuk melanjutkan studi mereka jamin kembali belajar di sekolah maupun kampus,” ungkapnya.

Wabup pada momen ini juga mengisahkan kembali masa-masa sulit ketika ia menjadi mahasiswa dulu. Jauh dari orangtua, hidup dirantau orang dengan berbagai kekurangan, kiriman yang pas-pasan hingga terkadang menahan rasa lapar, merindukan orangtua, tidak ada yang memberikan perhatian seperti LPMAK saat ini, namun ia mampu bertahan dan menghadapi semua itu.

“Siapa lagi yang akan memimpin daerah kita ke depan jika bukan kalian. Diantara kalian ada yang akan menggantikan bupati, saya, ketua DPR, bekerja di pemda, Freeport, LPMAK dan berbagai pekerjaan lainnya. Semua itu dimulai dari sekarang,” ujarnya.

“Tidak ada kekacauan di Mimika. Orangtua dan masyarakat disana semua baik-baik saja. Harapan kami semua kalian terus belajar, Tidak boleh terprovokasi dengan hasutan, ajakan apalagi isu-isu hoak yang menyesatkan. Jika kalian mampu melewati semua tantangan ini, percayalah suatu saat kalian akan menjadi orang-orang hebat untuk Mimika, Papua dan Indonesia,” tandasnya.

Sekretaris LPMAK Abraham Timang juga memberikan apresisi kepada Pemda Mimika karena hampir 20 tahun, ia baru merasakan kehadiran pemerintah bersama LPMAK menyatu dalam menghadapi persoalan-persoalan seperti ini.

“Ini komitmen yang baik untuk kedepan kita selalu jalan bersama-sama. Kami datang sebagai orangtua meminta kalian untuk tetap belajar dan bersekolah. Harapan kami semua kalian tetap konsentrasi untuk belajar. Jangan dengar berita-berita hoax yang akan menghambat masa depan kalian,” ujarnya.

Abraham Timang tidak menutupi rasa bangganya kepada pelajar dan mahasiswa di Jawa Timur. Pasalnya mereka di Malang dan Surabaya yang terkena langsung dampak rasisme namun banyak yang masih bertahan dan fokus melanjutkan studi.

Bahkan dari 108 pelajar dan mahasiswa yang dibiayi oleh LPMAK, hanya 17 orang yang pulang. Saat ini pun mereka ingin kembali lagi ke Jatim untuk melanjutkan studi.

Ini berbeda dengan pelajar dan mahasiswa yang berada di Sulawesi Utara, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mereka tidak mengalami dampak langsung namun sudah banyak yang pulang.

“Kami bangga dan salut terhadap kalian. Inilah proses alam yang sesungguhnya. Kami menjamin kalian untuk sekolah setinggi-tingginya untuk masa depan kalian, keluarga dan orangtua kalian. LPMAK dan Pemda hanya memfasilitasi namun yang bertanggungjawa terhadap masa depan seseorang adalah orang itu sendiri,” ungkapnya.

Ia menegaskan kembali bahwa kehadiran LPMAK dan pemerintah daerah dengan mengintari beberapa kota studi termasuk Jawa Timur, merupakan bentuk tanggungjawab yang harus dilakukan agar anak-anak Mimika terbebas dari semua intimidasi, seperti yang diisukan.

“Orangtua siapa yang tidak ingin anaknya aman dan nyaman saat belajar di negeri orang. Itulah mengapa kami datang mewakili bapak dan mama kalian di rumah untuk menjaminkan semua itu. Kalian disini anak-anak yang hebat,” ungkapnya.

Ia juga memberikan jaminan bahwa mereka yang sudah kembali ke Timika namun ingin kembali melanjutkan studi akan difasilitasi sepenuhnya oleh LPMAK.

Dibaca 163 kali

1 comment

  • Comment Link Kevin Alom 5/ 10/ 2019 posted by Kevin Alom

    Kepada Yth :
    Pimpinan Media Pasificpos.com

    Di -
    Tempat

    Dengan Hormat,
    Saya atas nama [Kevin Alom] menyampaikan ucapn terima kasih sebesar-besarnya. Karena sudah mengumpulkan data, menulis dan mengubdate informasi bentuk [Berita] di media sosial.

    Teruslah berkerja dan tetap eksis dalam penyampaian informasi yang filed dan akurat seperti [Berita] yang sudah diubdate.

    Sekian dan terima kasih. Kiranya Tuhan Yesus memberkati. . .

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.