Pengungsi Wamena Ditampung di Gereja GIDI Tolikara | Pasific Pos.com

| 11 December, 2019 |

Asisten II Setda Tolikara DR.  Edie Rante didampingi Kapolsek Karubaga David Okoka, memberikan arahan kepada pengungsi di tempat penampungan di Aula Gereja GIDI Karubaga, akhir pekan kemarin. Asisten II Setda Tolikara DR. Edie Rante didampingi Kapolsek Karubaga David Okoka, memberikan arahan kepada pengungsi di tempat penampungan di Aula Gereja GIDI Karubaga, akhir pekan kemarin.

Pengungsi Wamena Ditampung di Gereja GIDI Tolikara

Lintas Daerah Penulis  Rabu, 02 Oktober 2019 21:07 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Karubaga,- Pasca konflik di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, 28 September 2019 lalu, kurang lebih 2 ribu warga mengungsi ke Karubaga, Kabupaten Tolikara.

Warga yang mengungsi ke Tolikara, kini ditampung di Aula Gereja GIDI Karubaga, rumah – rumah kerabat keluarga, sambil menunggu membaiknya situasi di kota Wamena dan sekitarnya.

Ketua Tim evakuasi korban kerusuhan Wamena yang juga selaku Sekda Tolikara, Anton Warkawani, SE mengatakan, Pemda Tolikara menyiapkan kendaraan untk membantu evakuasi masyarakat dari Wamena ke Tolikara.

"kami siapkan 100 angkutan mobil untuk evakuasi warga, sehingga lebih dari 2 ribu pengungsi sudah berada di kota Karubaga," kata Anton Warkawani dalam rilisnya yang di kirim ke redaksi, Rabu pagi.

Dikatakan, hingga kini situasi di Tolikara pada umumnya terpantau aman dan kondusif, semua aktifitas perkantoran dan aktifitas belajar megajar di sekolah – sekolah berjalan seperti biasa. Para petani pun bertani dipekarangan atau diladangnya sebagaimana biasanya.

Namun, untuk mencegah kerusahan Wamena terjadi di Tolikara, pihaknya minta semua pihak untuk menjaga keamanan dan ketertiban. "peran Forkopimda bersama berbagai stakeholder di Tolikara guna memberikan pemahaman kronologis kerusuhan di Wamena dengan baik dan benar, tidak menyebarkan berita bohong kepada masyarakay," ujarnya.

Menurutnya, r
entetan kerusuhan yang terjadi di beberapa kota di Papua belakangan ini,akibat pengepungan asrama Papua di jalan kamasan Surabaya oleh aparat keamanan dengan dugaan pengrusakan lambang Negara yakni bendera merah putih dibuang di selokan di duga dilakukan mahasiswa Papua.

Situasi pengepungan itu diperparah dengan ujaran rasisme dengan sebutan kata monyet dari salah satu ormas radikal kepada mahasiswa Papua di depan asrama mahasiswa Papua di Kota Surabaya bebera pekan lalu.

Kata rasisme yang sama juga diduga diungkapkan seorang ibu guru SMA PGRI Wamena kepada pelajar didalam kelas yang memicu kerusuhan di kota wamena. Akibat kerusuhan ini diperkirakan puluhan orang menjadi korban dan ratusan lainnya terluka,serta sejumlah bangunan dan harta benda lainnya dibakar masa yang marah dengan ujaran rasisme itu.

Diketahui, jumlah pengungsi dari Wamena di Kota dan Kabupaten Jayapura sebanyak 7 ribu lebih. Bahkan, sebagian warga sudah dipulangkan dengan menggunakan KM Ciremai ke daerah asalnya, Selasa (1/10/2019) kemarin.

Dibaca 89 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.