BPS: Papua Mengalami Deflasi pada September 2019 | Pasific Pos.com

| 22 November, 2019 |

Bambang Wahyu Ponco Aji Bambang Wahyu Ponco Aji

BPS: Papua Mengalami Deflasi pada September 2019

Ekonomi & Bisnis Penulis  Rabu, 02 Oktober 2019 03:39 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua merilis perkembangan inflasi Papua selama September 2019.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Papua, Bambang Wahyu Ponco Aji menjelaskan bahwa pada bulan September 2019 Kota Jayapura dan Kabupaten Merauke mengalahkan deflasi masing-masing 1,26 persen dan 0,99 persen.

Deflasi di Kota Jayapura terjadi dipicu penurunan harga bahan makanan seperti ikan ekor kuning -0,692 persen, ikan cakalang -0,228 persen, cabai rawit -0,127 persen, tarif angkutan udara -0,088 persen, bawang merah -0,051 persen, kubis -0,017 persen, daging sapi -0,016 persen dan beberapa komoditas lainnya.

"Demikian juga di Merauke deflasi terjadi dipicu penurunan harga bahan makanan seperti kacang panjang -0,316 persen, bawang merah -0,218 persen, bawang putih -0,119 persen, cabai rawit -0,105 persen, telur ayam ras -0,088 persen, kangkung -0,085 persen, kubis -0,052 persen, ikan paha -0,032 persen, daging ayam kampung -0,028 persen," jelas Bambang, Selasa (1/10/2019).

Selain itu, kata Bambang, komoditi buncis -0,028 persen dan beberapa komoditi lainnya juga pemicu deflasi di Kabupaten Merauke. Secara umum deflasi tersebut didominasi oleh pengaruh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dengan andil mencapai -1,01 persen terhadap total deflasi Merauke.

Bambang menyebutkan, berdasarkan pantauan inflasi oleh BPS Papua selama tiga bulan terakhir, memberikan sinyal bahwa capaian inflasi di Kota Jayapura dan Merauke, Papua relatif terkendali.

Dikatakan, secara umum mengingat besaran andil penyumbang deflasi di kedua kota tersebut didominasi oleh kelompok bahan makanan, maka pemerintah perlu mengantisipasi terhadap potensi gejolak harga dimasa mendatang yang disebabkan oleh ketersediaan stok di pasar.

"Namun demikian, pemerintah perlu mencermati lebih jauh terkait fenomena deflasi yang terjadi secara terus menerus. Diperlukan monitoring terhadap gejala kelesuan yang mungkin timbul pada para pelaku ekonomi untuk segera disikapi dan diantisipasi," ujar Bambang. (Zulkifli)

Dibaca 57 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX