BI Mendorong Pertumbuhan Ekonomi untuk Menjaga Stabilitas Eksternal | Pasific Pos.com

| 20 November, 2019 |

BI Mendorong Pertumbuhan Ekonomi untuk Menjaga Stabilitas Eksternal

Papua Barat Penulis  Sabtu, 21 September 2019 12:33 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Pada rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dilaksanakan, 18-19 September 2019 telah memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,00%.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat, S. Donny H. Heatubun, dalam rilis yang diterima Tabura Pos, Jumat (20/9) menjelaskan, kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive dalam mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Untuk memperkuat bauran kebijakan dalam mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, kata dia, BI telah melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial guna meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan dan mendorong permintaan kredit pelaku usaha.

Pengaturan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM)/RIM Syariah akhirnya disempurnakan dengan menambahkan komponen pinjaman atau pembiayaan yang diterima bank, sebagai komponen sumber pendanaan bank dalam perhitungan RIM atau RIM Syariah.

Lanjut dia, BI juga melakukan pelonggaran Rasio Loan to Value, Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit Properti sebesar 5%, uang muka untuk kendaraan bermotor 5-10%, serta tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk kredit properti dan uang muka untuk kendaraan bermotor yang berwawasan lingkungan masing-masing sebesar 5%.

Ketentuan tersebut, kata dia akan berlaku mulai 2 Desember 2019, seiring dengan penguatan keuangan untuk mendukung partumbuhan ekonomi, “Bank Indonesia memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung upaya menjaga kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi pasar uang sehingga memperkuat transmisi bauran kebijakan yang akomodatif,” jelas Heatubun.

Instrumen operasi moneter pasar terbuka (OPT) diseragamkan melalui implementasi reverse repo Surat Berharga Negara (RR SBN) untuk semua tenor mulai 7 hari sampai dengan 12 bulan, termasuk melaksanakan lelang RR SBN tenor 12 bulan menggantikan SBI tenor 12 bulan, terhitung mulai 4 Oktober 2019.

Heatubun menerangkan, koordinasi BI dengan pemerintah dan otoritas terkait harus terus diperkuat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Ia menambahkan, bahwa perekonomian dunia yang melambat telah mendorong harga minyak dan komoditas global kembali menurun, dan mengakibatkan pada rendahnya tekanan inflasi. Kondisi ini direspons banyak negara dengan melakukan stimulus fiskal dan melonggarkan kebijakan moneter.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi telah mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi Pemeritah AS dan Jepang, serta komoditas emas, meskipun aliran modal ke negara berkembang tetap terjadi.

Menurut dia, dinamika ekonomi global tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal.  “Ke depan, bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah diprakirakan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga  berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4 persen pada 2019 dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5 persen pada 2020,” jelasnya.

Arus masuk investasi portofolio pada Juli-Agustus 2019 tercatat Rp. 3,5 miliar dolar AS, kemudian didorong prospek perekonomian nasional yang baik dan daya tarik investasi aset keuangan domestik yang tinggi. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terjaga, dipengaruhi oleh permintaan impor yang menurun sejalan dengan penyesuaian ekonomi domestik yang belum kuat, di tengah menurunnya ekspor dari dampak melambatnya ekonomi global.

Heatubun menjelaskan, posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat, yang pada akhir Agustus 2019 tercatat Rp. 126,4 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, defisit transaksi berjalan 2019 dan 2020 diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5%–3,0% PDB dan ditopang aliran masuk modal asing yang tetap besar. [SDR-R3] 

Dibaca 62 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.