Bahlil : Jumlah Pengusaha Indonesia Masih Berada di Bawah Negara Asia Tenggara | Pasific Pos.com

| 21 October, 2019 |

Bahlil Lahadalia (tengah) didampingi Ketua Umum BPD HIPMI Papua, Dasril Sahari dan Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Papua, Edy Jaya Karateng memberikan arahan terkait Munas XVI HIPMI. Bahlil Lahadalia (tengah) didampingi Ketua Umum BPD HIPMI Papua, Dasril Sahari dan Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Papua, Edy Jaya Karateng memberikan arahan terkait Munas XVI HIPMI.

Bahlil : Jumlah Pengusaha Indonesia Masih Berada di Bawah Negara Asia Tenggara

Ekonomi & Bisnis Penulis  Selasa, 17 September 2019 13:48 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jakarta – Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda (BPP HIPMI) periode 2015-2019, Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pada tahun 2014, jumlah pengusaha nasional hanya 1,6 persen dari total populasi Indonesia, dan pada tahun 2019 telah mencapai 3,1 persen.

Bertambahnya jumlah pengusaha tersebut lantaran HIPMI bertekad terus menebarkan virus entrepreneurship melalui program HIPMI go to Campus, HIPMI go to School dan HIPMI go to Pesantren.

Kendati jumlah pengusaha bertambah dibawah kepengurusannya, namun Bahlil mengingatkan kepada seluruh pengurus HIPMI agar tidak berpuas diri dengan pencapaian tersebut lantaran jumlah pengusaha yang dimiliki Indonesia masih berada jauh di bawah negara di Asia Tenggara.

“Kita masih jauh dibandingkan negara Asia Tenggara yang memiliki jumlah pengusaha lebih banyak, seperti Filipina 4 persen, Singapura 7 persen, Malaysia 5 persen dan Thailand 5,6 persen,” kata Bahlil dalam Munas XVI HIPMI, di Hotel Sultan Jakarta, Senin (16/9/2019).

Ditambahkan, gini ratio Indonesia turun dari 4 persen menjadi 3,89 persen, 1 persen penduduk Indonesia pada tahun 2014 menguasai akses ekonomi atau 50,2 persen, namun tahun 2019 turun menjadi 46 persen.

“Kita harus akui bahwa ini kerja besar pemerintah untuk menumbuhkan pemerataan perekonomian. Kalau kita bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global, memang kita tidak terlalu baik tapi juga tidak terlalu jelek, “ujar Bahlil.

Bahlil juga menyampaikan bahwa tema Munas XVI HIPMI yaitu “Melanjutkan Peran HIPMI sebagai Lokomotif Pembangunan Ekonomi Berkeadilan”, bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah hampir 5 tahun ini dalam rangka membuat pondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi baik sekarang maupun kedepan.

“Salah satu contohnya pembangunan infrastruktur yang tidak membatasi wilayah dari Aceh sampai Papua. Ini adalah semata-mata bagaimana kita memperpendek rentang kendali, menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan pertumbuhan ekonomi, “imbuhnya.

Dalam aspek itulah,, maka kini anak desa bisa mengakses ekonomi dengan pembangunan infrastruktur lewat telekomunikasi. Diakuinya basis hubungan dagang HIPMI tidak hanya di Jakarta atau di pusat ibukota kabupaten, tetapi juga di desa sudah mulai bagus.

“Cita-cita HIPMI didasari dari senior kami Abdul Latif yang merupakan pendiri dan Ketua Umum HIPMI periode pertama yaitu mengisi kemerdekaan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat, “ujar Bahlil.

“Tujuan Hipmi adalah bagaimana menjadikan anak muda sebagai entrepreneuership, menjadi kader intelektual yang mempunyai kemampuan leadership yang berwawasan nasional dan berkomitmen terhadap keutuhan NKRI, “sambungnya.

Dalam aspek lain, bahwa HIPMI juga harus bermitra strategis dengan pemerintah dalam rangka memberikan ruang regulasi yang positif bagi pengembangan usaha nasional untuk menjadi tuan di negeri sendiri. (Zulkifli)

Dibaca 83 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.