Robert Morin Minta Boy Wamafma Dihukum Berat dan Dikebiri Kimia | Pasific Pos.com

| 21 October, 2019 |

Robert Morin Minta Boy Wamafma Dihukum Berat dan Dikebiri Kimia

Papua Barat Penulis  Selasa, 17 September 2019 13:43 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP  Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Manokwari yang diketuai Rodesman Aryanto, SH diharapkan bisa menjatuhkan hukuman seberat-beratnya terhadap terdakwa, Boy F. Wamafma (38 tahun).

Berdasarkan catatan Tabura Pos, dalam persidangan di PN Manokwari, JPU Kejari Manokwari, Decyana Caprina, SH menuntut terdakwa dengan pidana 14 tahun penjara dan denda Rp. 1 miliar subsider 3 bulan kurungan.

Sementara di dalam persidangan, Kamis (12/9), penasehat hukum terdakwa, Jimi A. Manggaprouw, SH meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman seadil-adilnya terhadap terdakwa. Dalam pembelaannya, Manggaprouw meminta majelis hakim mempertimbangkan beberapa hal.

Pertama, terdakwa selalu bersikap sopan selama persidangan, berkata jujur, dan tidak mempersulit jalannya proses persidangan. Selain itu, kata dia, terdakwa belum pernah dihukum dan patut untuk mendapat keringanan dari majelis hakim PN Manokwari yang nanti memutuskan perkara ini.

Menanggapi proses persidangan kasus dugaan pemerkosaan terhadap seorang bocah perempuan berusia 6 tahun itu, anggota Pokja Agama, Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB), Robert Morin, S.Th, angkat bicara.

Menurutnya, terdakwa pantas dihukum mati atau setidak-tidaknya dihukum seumur hidup disertai putusan kebiri kimia seperti yang dicanangkan pemerintah dan disebutkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise.

“Kalau misalnya hanya hukuman 14 tahun, dipotong masa tahanan atau remisi, hukuman itu tidak lama, sedangkan korban bagaimana, dia akan menderita seumur hidup. Ingat, ini korbannya anak dan dia akan menderita seumur hidup atas perbuatan terdakwa,” ujar Morin kepada Tabura Pos via ponselnya, Sabtu (14/9).

Dikatakan alumnus STT Lets, Jakarta ini, sudah pasti korban akan trauma seumur hidup atas perbuatan tidak manusiawi, Boy Wamafma, yang tega merusak masa depannya. Ia menegaskan, tak ada alasan yang bisa meringankan terdakwa untuk mendapat hukuman ringan, apalagi dalam persidangan, terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan perbuatan tersebut.

“Ini bukan katanya-katanya lagi atau masih dugaan bahwa Bow Wamafma sebagai pelaku, tapi sudah terbukti dan itu sudah dibenarkan korban. Jadi pantas dihukum seberat-beratnya, sama seperti pelaku yang sebelumnya sudah diputus dengan hukuman mati gara-gara memperkosa dan membunuh seorang anak di Swapen,” tukasnya.

Pihak yang terkesan ‘membela’ terdakwa Boy Wamafma dengan alasan hak asasi manusia (HAM), sambung Morin, tentunya berpikir begitu karena bukan berada di sisi korban. Seandainya mereka sebagai korban atau keluarga korban, mereka tentu akan meminta terdakwa dihukum seberat-beratnya.

“Kalau mereka itu korban atau keluarganya, apakah masih berpikir soal HAM atau alasan-alasan meringankan lain,” tanya Morin.

Perbuatan terdakwa, papar Morin, bukan sesuatu perbuatan yang kebetulan atau begitu saja, tapi ada unsur perencanaan dan diduga ada kelainan dari terdakwa. Sebab, kata dia, selain mengincar anak-anak perempuan yang masih sekolah, terdakwa diduga telah memperhitungkan lokasi melancarkan aksi dan bagaimana caranya.

“Korban yang masih SD ini juga mendapatkan perlakuan kasar dan dianiaya. Caranya juga sadis, menyudutkan rokok ke tubuh korban. Itu bukan hal biasa, tapi luar biasa, masa harus dihukum hanya 14 tahun. Saya pribadi tidak bisa terima dengan putusan tersebut,” tukasnya.

Oleh sebab itu, dirinya berharap majelis hakim PN Manokwari yang menyidangkan kasus ini bisa bersikap adil dan berpikir seandainya mereka berada dalam posisi sebagai korban atau keluarga korban.

“Kalau dihukum 14 tahun, dia senang, setelah menjalani hukuman, dia bebas dan mungkin mengulangi perbuatannya. Tapi korban, dia menderita seumur hidup. Paling tidak dia dihukum seberat-beratnya, hukuman mati atau seumur hidup disertai dengan kebiri kimia supaya ada efek jera terhadap pelaku lain yang ingin memperkosa anak-anak,” pungkas Morin.

Menurut JPU, berdasarkan fakta-fakta persidangan dan keterangan saksi yang dihadirkan ke persidangan, Boy Wamafma terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana memaksa anak melakukan persetubuhan sebagaimana diancam dan diantur dalam Pasal 76 huruf d jo Pasal 81 Ayat 1 UU No. 35 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak.

Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara membawa dan menyekap korban di Pantai BLK, lalu menyiksa korban dengan menindik rokok ke badan korban, lalu menyetubuhi korban lebih dari satu kali.

Akibat kejadian itu, korban mengalami luka robek di bagian alat vital, luka bekas sundutan rokok di sekujur tubuhdan trauma yang mendalam.

“Yang memberatkan terdakwa karena tidak mengakui perbuatannya, perbuatan terdakwa meninggalkan trauma bagi korban dan keluarga dan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat,” jelas JPU, Decyana Caprina. [HEN-R1] 

Dibaca 67 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX