Gubernur Kumpul Bupati/Walikota, Ingin Mendengar Jumlah Mahasiswa yang Pulkam | Pasific Pos.com

| 21 October, 2019 |

Gubernur Papua, Lukas Enembe Gubernur Papua, Lukas Enembe

Gubernur Kumpul Bupati/Walikota, Ingin Mendengar Jumlah Mahasiswa yang Pulkam

Headline Penulis  Selasa, 17 September 2019 13:06 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura,- Gubernur Papua Lukas Enembe mengumpulkan para bupati/Walikota, perwakilan mahasiswa Uncen dan Forkopimda di Gedung Negara Dok V Atas Jayapura , Senin 16 September 2019 malam.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur ingin mendengarkan paparan Bupati/Wali Kota terkait jumlah mahasiswa yang sudah pulang kampung (pulkam) ke Jayapura maupun yang masih bertahan kuliah di kota-kota studi di pulau Jawa.

Gubernur Lukas Enembe pada kesempatan menanyakan berapa jumlah mahasiswa yang sudah kembali dari kota studi mereka. Selain itu juga gubernur juga menanyakan kepada para kepala daerah ini. Apakah sudah mengetahui alasan, sehingga mahasiswa ini lebih memilih pulang ke kampung halamannya. Dibandingkan tetap tinggal di kota studi.

Rata – rata penuturan para mahasiswa kepada para bupatinya bahwa mereka kembali karena takut dengan intimidasi. Apalagi ada pengakuan paska kasus rasisme pertengahan Agustus lalu di Surabaya. Asrama mereka sering didatangi oleh anggota TNI/Polri.

Dari laporan para bupati seperti Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni menjelaskan dari 600 mahasiswa yang berada di kota studi sudah empat orang pulang ke daerah asal mereka dan telah melapor ke pemerintah daerah.

Bupati Nabire Isias Douw yang mengaku pemerintah sebenarnya sudah melarang para mahasiswa ini untuk pulang dari kota studi mereka. Akan tetapi mereka katakan tidak bisa kami (mahasiswa-red) harus pulang.

Kabupaten Jayapura sesuai laporan Wakil Bupati Giri Wijayanto saat ini pemerintah telah menurunkan tim. Namun sampai saat ini belum ada yang melaporkan mau pulang.

“Tim ada kita turunkan ke kota studi mereka seperti di Jawa, Manado dan lainnya tetapi sampai hari ini belum ada laporan dan yang sudah kembali belum ada laporan ke pemerintah daerah,”aku Giri.

Kabupaten Pegunungan Bintang sesuai laporan dari Bupati Constant Otemka sudah terdeteksi 31 mahasiswa yang sudah pulang. Akan tetapi dirinya sebagai bupati sudah memerintahkan Sekda untuk mendata semua mahasiswa yang pulang. Kemudian dalam waktu dekat akan dilakukan pertemuan guna menanyakan apakah mereka hendak kembali atau tidak.

Kabupaten Asmat sebanyak 1030 mahasiswa yang menempuh studi di luar daerah termasuk di Jayapura. “Kemarin tanggal 12 September ada yang datang dari Manado kurang lebih 45 orang. Jayapura 4 orang dan Merauke 2 orang,”beber Bupati Asmat Elisa Kambu.

Lanjut Elisa, Forkompimda Asmat sendiri sudah menggelar pertemuan bersama mahasiswa. Dimana dalam hasil diskusi disampaikan bahwa para mahasiswa ini akan kembali setelah bulan Oktober baru nanti akan kembali dan sudah meminta ijin di kampus masing – masing, khususnya yang dari Manado.

Kemudian penjelasan dari Bupati Mimika, Eltinus Omaleng. Kota studi mahasiswa asal Mimika ada di seluruh Indonesia dimana Jakarta, Surabaya, Malang, Jogyakarta dengan jumlah 1300 mahasiswa.

“Saya langsung berhubungan dengan mereka, kemudian mereka minta pulang. Tetapi saya sudah bikin surat himbauan untuk ditahan dulu. Dan kemarin kami sudah bikin surat ke Forkompimda untuk membentuk tim agar kita dapat turun dan mengambil data ke kota studi yang dimulai dari Manado,”terang Omaleng.
Selanjutnya Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa menjelaskan mahasiswa yang berada di kota studi sekitar 700 mahasiswa. Namun mereka belum mempunyai data pasti berapa yang pulang.

Sementara itu Bupati Mamberamo Tengah Ricky Ham Pagawak dalam laporannya membeberkan jumlah mahasiswa keseluruhan yang berada di kota studi sebanyak 713 yang berada di luar Papua. Yang sudah pulang hampir 200. Tetapi yang terdata di asrama baru 120. Yang tinggal karena dalam posisi mau wisuda itu ada 13 orang yakni di Manado 5 orang, Surabaya dan Yogyakarta.

“Sebagian besar tidak bisa pulang karena contoh di Surabaya. Karena orang tua mereka sudah kirim uang tiket. Tetapi sampai di bandara tiket mereka dibatalkan ada sekitar 29 orang dan sampai hari ini mau checkin sudah tidak bisa. Saya tidak tau itu kenapa,”ungkapnya.

Untuk itu pada prinsipnya Pemkab Mamteng menunggu para mahasiswa yang mau pulang dan ada disini. “Sikap apa yang mereka sampaikan kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi. Kalau mereka mau pulang kita siap dan kalau mereka mau kembali kita siap juga. Itu sikap kami,”tukasnya.

Selanjutnya laporan Bupati Paniai Mecky Nawipa menjelaskan mahasiswa Paniai di luar Papua sebanyak 1796. Kata dia pada hari Selasa pekan kemarin dirinya melakukan pertemuan bersama 20 kepala suku di Enarotali. Dan yang sudah pulang ada sebanyak 200 orang. “Tetapi ada gelombang lagi yang sedang menuju ke sini. Itu yang saya belum tau. Jadi kita di Paniai juga sudah siap. Kalau mereka minta pulang kita pulangkan ke kota studi atau kalau mahasiswanya datang kembali juga kita siap untuk menyelesaikan semua dengan baik,”jelasnya.

Kabupaten Nduga oleh Wakil Bupati Wentius Nimiangge, melaporkan ada sekitar 648 mahasiswa dan yang sudah kembali 500 orang sudah ada di Jayapura. Sebagian masih wisuda sehingga sementara menunggu. “Mungkin minggu depan sudah balik ke Papua,”terangnya.

500 mahasiswa Nduga yang pulang ini sebagian melalui jalur Timika dan sebagian jalur Jayapura. Sisanya masih di kota studi.

Selanjutnya Kabupaten Puncak menurut Bupati Willem Wandik jumlah mahasiswa ada sekitar 500 lebih yang ada di Manado dan juga di Pulau Jawa serta Bali. Sedangkan yang sudah pulang sebanyak 20 orang.

“Yang lain sedang saya tahan. Kalau seandainya nasib mereka belum memungkinkan, saya siap pulangkan kalau mereka tidak aman. Tetapi hari ini saya menjaminkan mereka untuk tetap tinggal di kota studi mereka,”ujarnya.

Selanjutnya Wakil Bupati Mappi Ir. H. Jaya Ibnu Su’ud jumlah mahasiswa yang berada di kota studi luar Papua sebanyak 301 mahasiswa sesuai dengan data bantuan studi mahasiswa yang diberikan di tahun 2019. Dialporkan paska kerusuhan tanggal 29 Agustus lalu, baru satu orang tua mahasiswa yang melaporkan kepada pemerintah untuk kembali.

“Tetapi kami menyampaikan bahwa kita akan melihat situasi yang berkembang dan tentunya kita Forkompimda Mappi melihat situasi sampai hari ini dan juga kami akan menyesuaikan dengan hasil rapat koordinasi dan konsolidassi untuk segera dilaporkan kepada bapak bupati. Jadi sampai hari ini kami belum ada mahasiswa yang melaaporkan telah kembali dari luar kota studi di luar Papua dan Papua Barat. Apakah mereka sudah di Jayapura atau Merauke belum ada yang melapor,”terangnya

Selanjutnya Wakil Bupati Supiori Onesias Rumere melaporkan jumlah mahasiswa yang ada di luar Papua kurang lebih sebanyak 274 mahasiswa. Sedangkan yang sudah pulang sesuai informasi yang diterima pemerintah ada 12 orang. Akan tetapi yang baru melapor ke pemerintah daerah hanya dua orang. “Pemerintah bersama Dandim dan Kapolres selama beberapa hari ini kita sisir di pelabuhan laut dan bandara untuk mengecek berapa mahasiswa asal Supiori yang pulang. Tetapi sampai hari ini baru dua orang yang melapor,”ungkapnya.

Bupati Biak Numfor Herry Naap menyampaikan dari kabupaten yang dipimpinnya kurang lebih ada 2500 mahasiswa yang tersebar dari Maluku, Jakarta dan Sumatera. Sehingga dari laporan serta koordinasi dengan ketua mahasiswa disana. Dimana sampai saat ini yang sudah pulang ke Biak baru empat orang.

Herry Naap juga menyampaikan dari dinamika yang ada dirinya memberikan masukkan kepada gubernur dan para bupati dalam hal berkomunikasi dengan para mahasiswa. “Kita seluruh kabupaten/kota ini harus satu suara. Sehingga kalau memang kita punya adik – adik mahasiswa ini tidak nyaman di luar. Kalau kita mau pulangkan 29 kabupaten/kota harus satu suara,”sarannya.

Kemudian Bupati Kepulauan Yapen Tony Tesar melaporkan seluruh mahasiswa yang dibiayai dengan menggunakan APBD Pemerintah Kabupaten sebanyak 1961 dimana yang sedang studi di Pulau Jawa ada 830 mahasiswa. Diluar Papua kurang lebih 600 orang. Sedangkan yang sudah pulang tahun ini karena sudah selesai kuliah. Di tanggal 2 Agustus dari IPB Bogor sebanyak 96 orang, Tangerang ada 34 orang.

“Sedangkan yang mau pulang karena masalah di Surabaya ada 11 mahasiswa yang sudah menyampaikan per telepon. Tetapi sampai dengan saat ini mereka belum balik. Saya sudah himbau kepada mereka untuk tetap tinggal. Mereka sampaikan mereka tidak merasa aman. Saya tanya kenapa tidak aman dan kebetulan mereka ini di luar asrama Serui yang ada di Surabaya sehingga saya sedang mencari kontrakan tambahan untuk mereka yang 11 orang ini di tampung dalam asrama dan saya selalu menghimbau kepada mereka bahwa bapak gubernur sudah menyampaikan untuk tidak boleh pulang dan pemerintah menjamin untuk tetap kuliah di Jawa. Mudah – mudahan mereka tetap kuliah melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa,”harapnya.

Selanjutnya Bupati Deiyai Ateng Edowai menjelaskan jumlah mahasiswa 1253 yang studi di Papua dan luar Papua. Tetapi kalau untuk Surabaya, Semarang, Jakarta dan Malang sementara yang didatakan ada 338 mahasiswa dan ada yang sudah pulang sampai di Deiyai, tetapi belum mereka lapor dan sementara sedang didatakan oleh Kepala Dinas P dan P.

Kemudian Bupati Tolikara Usman Wanimbo mengatakan saat ini jumlah mahasiswanya yang kuliah di luar Papua sebanyak 700 lebih. Yang sudah pulang data yang dikumpulkan di Asrama Tolikara Waena ada 110 orang lebih. “Masih banyak disetiap kota studi, saya belum memulangkan karena menunggu hasil pertemuan ini. Kalau kasih pulang semua kita siap biayai dan kalau ada yang masih menetap kita mendukung. Jadi tunggu keputusan dari bapak gubernur,”kata Usman.

Bupati Yahukimo Abock Busup dengan jumlah mahasiswa 1800 pulang ke Papua ada 600 orang. Pada kesempatan itu Abock juga mengungkapkan pertemuannya dengan para mahasiswa yang kembali pulang dari kota studi. “Saya sempat menanyakan kenapa tidak mau datang saat di undang gubernur. Tetapi mereka datang ke sini untuk rasisme. Jadi kami harus lakukan pertemuan dengan seluruh kota studi yang datang ke Papua ini baru langsung hasilnya ketemu dengan gubernur baru bisa untuk langkah – langkah selanjutnya. Apakah mereka berangkat atau tidak,”ungkapnya.

Selanjutnya dari perwakilan Bupati Merauke menyampaikan mahasiswa asal kota studi yang kuliah di Makasar, Bogor, Bandung, Semarang, Jakarta dan Yogjakarta secara keseluruhan 616 orang. Yang sudah pulang ada delapan orang. Namun para mahasiswa ini yang tersebar di beberapa kota studi ini mempunyai keinginan untuk pulang. Tetapi sampai dengan sekarang belum tercapai.

Kemudian Perwakilan Kabupaten Sarmi menyampaikan mahasiswa yang kuliah di Papua dan luar Papua sebanyak 700 -an lebih. Hanya saja hingga saat ini belum ada yang melapor sehingga pihaknya belum mendapat data. Untuk itu ditugaskan kepada Kepala Dinas Pendidikan untuk mengecek ke tempat studi mereka. Apakah ada yang pulang atau tidak.

Gubernur Lukas Enembe mengatakan, akan melakukan pertemuan lagi dengan semua para bupati, agar mendapatkan satu suara, sehingga saat pertemuan dengan gubernur Papua Barat kita sudah punya jawaban dan kita sampaikan ke Presiden,.

Meski demikian, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Papua akan membahas persoalan ini dengan memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan untuk membahas persoalan mahasiswa Papua bersama para Kapolda dan Panglima Kodam.

“Itu polisi dan teman-teman dari BIN, mungkin tujuan mereka baik melihat mahasiswa, namun dianggap intimidasi, jadi saya pikir ini akan bicara, kalau kita sepakat panggil Kapolri, Kepala BIN, panggil Kapolda-Kapolda, Panglima Kodam bicarakan masalah ini,”tutupnya.

Dibaca 235 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.