Studi Kesediaan Menerima Willingness To Accept | Pasific Pos.com

| 10 December, 2019 |

Dampak dari penambangan pasir pantai (foto:ist) Dampak dari penambangan pasir pantai (foto:ist)

Studi Kesediaan Menerima Willingness To Accept

Papua Selatan Penulis  Minggu, 15 September 2019 13:26 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

‘Terhadap Harga Pasir Pantai Yang Terinternalisasi Biaya Sosial Dan Lingkungan’


Oleh:Maria Maghdalena Diana Widiastuti Dan Norce Mote


MERAUKE,ARAFURA,-Penambangan pasir pantai menimbulkan lebih banyak dampak negatif dibandingkan keuntungan yang diperoleh masyarakat. Dampak negatif yang paling terlihat adalah kerusakan jalan raya, penurunan produktivitas produk perikanan, dan kerusakan ekosistem hutan mangrove di pesisir pantai. Salah satu pendekatan untuk mengatasi penggalian pasir yang masif tanpa mengorbankan kepentingan pembangunan dapat dilakukan dengan pendekatan ekonomi. Pendekatan ekonomi yang dimaksud adalah dengan memasukkan biaya sosial dan lingkungan atau biaya kerugian karena dampak negatif yang ditimbukan dari aktivitas penggalian pasir ke dalam harga pasir. Model ini yang disebut sebagai internalisasi biaya sosial dan lingkungan. Penelitian Widiastuti&Samderubun (2016) mengusulkan harga pasir yang terinternalisasi biaya sosial dan lingkungan sebesar Rp391.924,00/ret dari harga jual pasir saat penelitian sebesar Rp200.000 – 300.000/ret.

Hasil penelitian yang dilakukan di Pantai Urumb, Wendu dan Matara menunjukkan bahwa sebanyak 72% responden bersedia menerima harga pasir yang terinternalisasi biaya sosial dan lingkungan dan 13% responden tidak setuju. Besarnya biaya yang mau diterima oleh konsumen dan produsen pasir bervariasi antara Rp100.000,00 hingga Rp1.300.000,00; dengan rata-rata kesediaan menerima harga (WTA) sebesar Rp527.813,00/m3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan menerima nilai WTA adalah status responden sebagai pemilik dusun pasir, konsumen pasir, supir truk dan pemilik truk.

Faktor lain seperti tingkat pendidikan, jumlah anggota rumah tangga, pendapatan, lama usaha, pengetahuan tentang dampak negatif penggalian pasir, dan kepuasaan terhadap harga pasir tidak berpengaruh terhadap keputusan menerima nilai WTA. Hasil studi ini menunjukkan bahwa masyarakat baik sebagai penjual pasir, pedagang perantara dan konsumen pasir secara umum mau menerima kenaikan harga pasir yang terinternalisasi biaya sosial. Melalui kenaikan harga pasir, maka penggalian pasir dapat ditekan, namun tetap dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat pesisir pantai.

Penelitian ini tentu dapat memberikan masukan kepada pemerintah daerah atau pemerintah kampung untuk membuat peraturan perundang-undangan terkait harga pasir. Agar kepentingan semua pihak terutama masyarakat pesisir dan juga konsumen pasir dapat terpenuhi. Tidak ada yang dapat kita lakukan ketika planet bumi ini sudah rusak, menurut David Bower. Apa yang kita lakukan saat ini menentukan apa yang akan kita terima di kemudian hari. Kiranya dapat menjadi bahan diskusi bersama semua pemangku kepentingan. Salam Lestari!

Dibaca 61 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.