Akses Internet Dibatasi Gara-gara Masih Banyak Hoax di Dunia Maya | Pasific Pos.com

| 18 October, 2019 |

Akses Internet Dibatasi Gara-gara Masih Banyak Hoax di Dunia Maya

Papua Barat Penulis  Senin, 02 September 2019 20:37 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Kapolda: Keputusannya bukan karena Kapolda yang mau, tetapi betul-betul dilihat secara komprehensif

 

Manokwari, TP – Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Herry R. Nahak ikut merasakan langsung dampak dari pemblokiran akses internet oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Papua dan Papua Barat.

Upaya menfasilitasi para wartawan untuk meng-up date perkembangan informasi, kata Nahak, dirinya telah berupaya membuat media center di Swiss-Belhotel, Manokwari. Dengan demikian, para wartawan bisa mengikuti perkembangan, sekaligus mengakses internet.

“Makanya di bawah itu sudah ditulis media center. Setidak-tidaknya sudah usaha saya untuk mencoba itu, kemudian ditaruh di sini. Kalau ditaruh di Polda, sama saja, nggak ada jaringan juga, nggak bisa internet,” kata Kapolda di hadapan para wartawan di salah satu hotel di Manokwari, Rabu (28/8).

Oleh sebab itu, lanjut Kapolda, sebenarnya dirinya lebih baik ke sini (Swiss-Belhotel), daripada di kantor (Polda Papua Barat), yang juga tidak bisa mengakses internet lantaran diblokir.

Ditanya tentang pemblokiran jaringan internet, Kapolda menerangkan, ada institusi, termasuk Mabes Polri terus melakukan analisis terhadap media sosial (medsos), berapa banyak data hoax, data negatif, dan ujaran kebencian yang masuk.

“Informasinya memang masih sangat banyak makanya dibendung. Situasi yang terjadi sekarang ini, yang sudah aman dan damai, suka tidak suka, dilakukan pembatasan itu,” tuturnya.

Berdasarkan analisis, jelas dia, data negatif yang masuk itu masih sangat banyak, baik dari Papua, khususnya Papua Barat, untuk mengajak bertindak anarkhis.

“Itu salah satu alasannya, bukan karena situasi keamanan, tidak ada demo, baik. Hasil analisisnya, masih sangat banyak yang isinya provokasi,” ungkap Nahak.

Ia menerangkan, pemblokiran akses internet itu bukan hanya berdasarkan pertimbangannya selaku Kapolda semata untuk melakukan pembatasan, tetapi ada tim atau institusi lain juga yang ikut melakukan analisis.

“Kan ada mesinnya tuh, ada ahli-ahli yang menangani medsos, menganalisis berapa yang positif dan negatif. Jadi, keputusannya bukan karena Kapolda yang mau, tetapi betul-betul dilihat secara komprehensif,” tandas Kapolda.

Ditanya apakah sudah ada pelaku yang ditetapkan menjadi tersangka penyebaran hoax dalam kurun waktu pemblokiran akses internet ini, tegas Nahak, tindakan yang dilakukan saat ini lebih fokus untuk menghalangi agar tidak terlalu banyak yang masuk.

Kapolda mengaku sepakat agar pelaku penyebaran hoax diproses hukum ketimbang melakukan pemblokiran akses internet. Namun, ungkap dia, prosesnya dilakukan Bareskrim Mabes Polri, yang mana pelaku bisa saja bukan hanya di Jawa Timur, Papua atau di Papua, tetapi bisa saja di tempat lain.

Untuk pemblokiran akses internet, ia memilih berpikir berskala lokal, sedangkan yang berskala nasional, bukan keputusannya. “Saya hanya memberi masukkan tentang situasi di Papua Barat,” tukasnya.

Lanjut dia, berdasarkan informasi dari Bareskrim, isu-isu itu juga berasal dari luar negeri, termasuk dari dalam keluar terkait informasi yang sebetulnya tidak pernah terjadi, bahkan mengelaborasi gambar lama yang tidak diketahui di mana tempat kejadiannya.

“Saya juga dikirimin itu. Informasi bakar-bakar yang belum tentu juga terjadi di Manokwari atau di mana kejadiannya. Kalau masyarakat biasa yang menerima itu dan tidak punya kemampuan melakukan pengecekan kebenaran berita itu atau mungkin tidak tahu, bahaya sekali, seolah-olah dibantai tidak jelas begitu. Saya pikir ini hanya temporary ya, mudah-mudahan setelah itu suasana damai, tenang lagi,” imbuh Nahak.

Dicecar apakah sudah ada telaan dari Kapolda Papua Barat bahwa situasi di Papua Barat telah aman, sehingga pemblokiran akses internet bisa dibuka, ia menegaskan, perkembangan situasi terus di-up date.

“Namun, assessment itu bukan yang hanya ada di permukaan, tetapi juga yang ada di dunia (maya). Itu kana da yang bisa senter, bisa melihatnya,” terang Kapolda seraya mengaku, di Polda Papua Barat belum ada Tim Cyber Crime.[HEN-R1] 

Dibaca 57 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.