Mgr.Petrus Canisius: Lawan Tindakan Rasisme | Pasific Pos.com

| 21 September, 2019 |

Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr.Petrus Canisius Mandagi, MSC saat melakukan jumpa pers (foto:iis) Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr.Petrus Canisius Mandagi, MSC saat melakukan jumpa pers (foto:iis)

Mgr.Petrus Canisius: Lawan Tindakan Rasisme

Papua Selatan Penulis  Kamis, 22 Agustus 2019 20:06 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

MERAUKE,ARAFURA,-Dengan tindakan rasisme, martabat manusia direndahkan dan tidak dihargai. Padahal manusia, siapa saja, tanpa membedakan kulit, ras, agama, gender, status, dan sebagainya adalah “Gambaran Allah”. Semua manusia mempunyai martabat sama, “martabat mulia” yang harus dihargai, dihormati, dan dilindungi. Dengan demikian, tindakan rasisme seorang atau kelompok orang, yang memandang rasnya, ras sukunya lebih mulia daripada ras orang lain, dan daripada ras suku lain, adalah melawan “kemanusiaan”, dan melawan ajaran agama apa pun, yang mengajarkan cinta kepada siapa saja.

Tindakan rasisme adalah tindakan biadab, tindakan tak berperikemanusiaan, tindakan amoral. Hal itu dikemukakan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr.Petrus Canisius Mandagi, MSC saat melakukan jumpa pers di Wisma Uskup kemarin.

Menurutnya, semua orang, bukan hanya orang Papua, harus melawan tindakan rasisme. Tindakan rasisme sungguh adalah tindakan melawan hukum, melawan hukum di Indonesia, yang berisi hormat pada setiap manusia tanpa memandang latar belakangnya.

Karena itu, aparat kepolisian Republik Indonesia harus segera menangkap orang-orang yang melaksanakan tindakan rasisme. Alasan apa pun tidak dapat membenarkan tindakan rasisme.

Sesudah ditangkap, para rasis itu ditahan dan dibawa ke pengadilan dan dihukum. Pantaslah orang Papua merasa kecewa dan tersinggung terhadap tindakan rasisme itu dan meminta orang yang melakanakan tindakan itu ditangkap, ditahan, dan diadili menurut hukum dengan hukuman seberat-beratnya.

Namun, diharapkan tindakan rasisme sebagai kekerasan kemanusiaan, jangan dilawan dengan kekerasan sebab orang Papua adalah orang beradab dan bermartabat. Tindakan rasisme itu harus memperkuat solidaritas antara orang Papua, solidaritas antara orang Papua dan di luar Papua. Solidaritas adalah tanda kita manusia bermartabat.

Namun Papua adalah tanah damai, tanah bermartabat, tanah berperikemanusiaan. “Banggalah orang Papua. Anda lebih berperikemanusiaan daripada seorang atau sekelompok orang yang melaksanakan tindakan rasisme,”tegasnya. Dihimbau kepada pemerintah di Papua untuk selalu menjaga martabat orang Papua, belalah martabat orang Papua dengan cara “cleangovernment” (pemerintahan yang bersih) yang tidak diwarnai dengan korupsi, dengan cara menjaga alam Papua yang indah, yang kaya. Papua adalah bagian dari Indonesia dan sudah seharusnya pemerintah pusat memberikan perhatian, seperti memberi perhatian pada daerah-daerah lain di Indonesia.

Dibaca 52 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.