Gubernur Papua: Kami Bukan Monyet | Pasific Pos.com

| 21 September, 2019 |

Gubernur Papua, Lukas Enembe Gubernur Papua, Lukas Enembe

Gubernur Papua: Kami Bukan Monyet

Headline Penulis  Senin, 19 Agustus 2019 00:04 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA - Gubernur Papua Lukas Enembe mengecam insiden kekerasan yang menimpa mahasiswa Papua di Kota Surabaya, Kota Malanng Jawa Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang terjadi bertepatan moment Hari Kemerdekaan Indonesia ke-74.

Kecaman itu ditegaskan Gubernur Enembe dalam keterangan pers di Gedung Negara Papua, Jalan Macan Tutul Dok V Atas, Kota Jayapura, Papua, Minggu (18/8) malam.

Total ada lima poin penting yang disampaikan berkaitan dengan insiden tersebut. Salah satunya meminta agar menghentikan rasisme dan diskriminasi mahasiswa Papua di seluruh wilayah Indonesia. Berikut lima poin pernyataan gubernur papua.

Pertama, Pemerintah Papua menyampaikan prihatin dan empati terhadap insiden yang terjadi di Kota Surabaya, Malang dan Semarang yang berakibat penangkapan atau pengosongan asrama mahasiswa Papua di Kota Surabaya oleh aparat keamanan.

Pemerintah Papua menghargai hukum yang dilakuan aparat keamanan sepanjang dilakukan secara proporsional dan profesional serta berkeadilan. Aparat diminta tidak melakukan pembiaran atas tindakan persekusi dan main hakim oleh kelompok atau individu orang yang dapat melukai hati masyarakat Papua.

“Hindari adanya tindakan represif yang dapat menyebabkan korban jiwa, kegaduan politik dan rasa nasionalisme sesama anak bangsa,” kata Enembe.

Kata Lukas Provinsi Papua merupakan wilayah dari negara kesatuan republik Indonesia yang dikenal sebagai miniatur Indonesia. Penduduk Provinsi Papua itu beragam dan multi etnis, Multi agama dan multi budaya yang hidup secara berdampingan

"Masyarakat Papua menyambut baik Masyakat non Papua secara terhormat bahkan sejajar. Oleh karena itu kami berharap kehadiran Masyarakat Papua dapat diterima seluruh masyarakat yang ada di luar Papua. Hal ini merupakan komitmen kita bersama sebagai anak bangsa yang mewujudkan Indonesia yang damai berdaulat" terangnya.

Pemerintah provinsi Papua menyampaikan kepada seluruh masyarakat Papua yang ada di Papua maupun diluar Papua untuk merespon insiden Surabaya secara wajar, tanpa ada tindakan yang merugikan.

Sementara kepada masyarakat non Papua, Lanjut Lukas untuk selalu menjaga harmoni kehidupan dan tidak melakukan tindakan yang inkontitusional seperti Persiku, main hakim sendiri dan tindak sesuai kehendak, bertindak rasis dan diskriminatif yang dapat melukai masyarakat Papua serta mengganggu harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kita sudah 74 tahun merdeka, seharusnya tindak intoleran, rasial dan dikrimantif tidak terjadi di negara kesatuan kita," tendas Lukas.

Ia pun mengajak seluruh kepada seluruh pemangku kepentingan bagi Gubernur, Walikota dan Bupati di seluruh Indonesia untuk melakukan pembinaan kepada pelajar dan mahasiswa Papua di wilayah masing-masing, sebagai mana yang dilakukan pemerintah provinsi Papua
terhadap pelajaran dan mahasiswa di Papua yang berasal dari luar Papua.

"Hal ini merupakan upaya kita untuk mencegah insiden serupa dimasa yang akan datang sekaligus merajut rasa nasionalisme persatuan, kebersamaan sebagai anak bangsa," tegasnya.

Mantan Bupati Puncak Jaya Dua Periode ini pun menambahkan akan menurunkan tim guna melihat secara langsung kondisi mahasiswa Papua yang ada di Surabaya Jawa Timur.

"Nanti akan ada tim yang kami bentuk yang melibatkan pemerintah provinsi, Kodam dan Polda Papua, MRP serta DPR bahkan kami libatkan wartawan, Apakah nanti mahasiswa kami pulangkan atau tidak nanti kita lihat situasinya lagi," unjarnya.

Lanjutnya, masyarakat Papua juga bukan monyet yang disebutkan dalam insiden kekerasan yang menimpa mahasiswa Papua tersebut."kami bukan monyet," tutupnya

Dibaca 387 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.