Komisi Amdal Bersama Stakeholders Bahas Dokumen Adendum Amdal PT. SDIC | Pasific Pos.com

| 21 September, 2019 |

Komisi Amdal Bersama Stakeholders Bahas Dokumen Adendum Amdal PT. SDIC

Papua Barat Penulis  Kamis, 08 Agustus 2019 14:50 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Komisi Amdal Kabupaten Manokwari bersama pihak terkait dan manajemen PT. SDIC membahas dokumen Adendum Amdal serta RKL-RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan-Rencana Pemantauan Lingkungan) pabrik semen PT. SDIC Maruni.

Pembahasan yang dipimpin Sekretaris Komisi Amdal yang juga Kepala Bidang Perencanaan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manokari, Yonas Rumansara, itu dilaksanakan di Inggandi Café Manokwari, Rabu (7/8).

Di sela-sela pembahasan itu, kepada para wartawan, Kepala Seksi Perencanaan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manokwari, Benyamin M. Sawor, menjelaskan sebelumnya PT. SDIC sudah memiliki dokumen Amdal.

Namun, saat ini manajemen PT. SDIC menambah kapasitas produksi semen menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Oleh karena itu, sesuai aturan PT. SDIC harus merevisi dokumen Amdal-nya.

“Dalam Amdal sebelumnya dengan posisi yang sekarang itu ada penambahan kapasitas produksi, ditingkatkan dua kali dari sebelumnya, sehingga secara aturan SDIC harus merevisi dokumen lingkungannya. Dokumen amdal, namanya adendum,” sebutnya.

Menurutnya, luasan pabrik itu tetap, hanya kapasitas produksi saja yang ditingkatkan menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.

Dia mengemukakan, sebelum sampai pada pembahasan, sudah dilakukan pra-Amdal yang sudah disepakati format dan tata cara perusahaan. Setelah tahapan itu, barulah dilakukan penyusunan dokumen oleh tim penyusun yang kini dipresentasikan untuk dibahas bersama Komisi Amdal.

“Di situ masih terdapat hal-hal teknis yang perlu masuk sebagai catatan dalam tata pengelolaan. Di tata pengelolaan ini yang harus diperbaiki itu, yang kemudian masuk ke tahap berikut. Tim ini masih satu kali melakukan pra-Amdal untuk melihat isi dokumen,” sebutnya.

Di tahapan pra-Amdal selanjutnya, kata dia, akan dilihat satu per satu item mulai dari skala, besaran, ukuran, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik faktor teknis maupun faktor sosial ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, stakeholders terkait mulai dari pemilik hak ulayat dan pemerintah sebagai regulator perlu ikut memberikan masukan.

Di Indonesia, katanya, dikenal tata ruang sipil dan tata ruang militer. Oleh karena itu, pihaknya juga mengundang pihak TNI dan kepolisian dalam kegiatan itu dengan harapan bisa langsung memberikan advis jika ada hal yang perlu diperbaiki.

“Jadi ini hanya revisi saja dari dokumen Amdal sebelumnya,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan bahwa PT. SDIC memiliki dua dokumen Amdal yakni dokumen Amdal untuk penambangan batu kapur, serta dokumen Amdal untuk pabrik semen dan penambangan tanah liat (clay). “Yang dilaksanakan hari ini adalah (untuk) pabrik semen dan clay,” ungkapnya.

Di dokumen sebelumnya, lanjutnya, luasan clay besar. Dari luasan itu, dilakukan pengambilan sampel tanah untuk dilakukan pengujian, dan untuk mengetahui pengambilan tanah liat hanya dapat diambil pada luasan lahan sekitar 30 hektare (ha).

“Dari luasan yang 150 hektare di Amdal sebelumnya, dilaksanakan pengambilan sampel tanah untuk melihat mana yang tepat untuk dilaksanakan pengambilan. Dari situ akhirnya revisi jadi 30 hektare, kurang lebihnya. Itu yang masuk ke perbaikan saat ini. Jadi, total luasan sebesar itu ternyata mereka bisa ambil di 30 hektare. Nanti kemudian ada hal-hal lain yang terkait tanggung jawab itu masuk dalam pengelolaan,” tukasnya.

Sebelumnya, ketika membuka kegiatan itu, Sekretaris Komisi Amdal DLH Kabupaten Manokwari, yang juga Kepala Bidang Perencanaan, Yonas Rumansara, mengatakan bahwa dalam pembahasan itu butuh kerja sama dan saling membantu agar cepat diselesaikan. Pembahasan itu penting demi kelancaran usaha pabrik semen dan juga untuk pemerintah. (BNB-R3) 

Dibaca 80 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX