Kalapas Tidak Tahu Asal Alat yang Dipakai Ancam Petugas | Pasific Pos.com

| 12 December, 2019 |

Kalapas Tidak Tahu Asal Alat yang Dipakai Ancam Petugas

Papua Barat Penulis  Sabtu, 03 Agustus 2019 03:44 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Hingga hari ke-10 kaburnya kelima narapidana dan tahanan Lapas Kelas II B Manokwari, pihak Lapas Manokwari dan aparat keamanan belum berhasil menangkap salah satu di antara mereka.

Kelima narapidana dan tahanan yang kabur dari Lapas Manokwari, Senin (22/7) sekitar pukul 17.30 WIT, yaitu: Daniel Sawaki, Nicolas Septer Kamodi bin Abi KamodiFredi Yosua Tamadi bin Madulu TamadiDaud Tabuni bin Tobias Kombadan Roy Charles Lapon bin Yulianus Lapon.

Kalapas Kelas II B Manokwari, Tatang Suherman menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi dengan aparat kepolisian, kelima orang itu sudah diidentifikasi keberadaannya, tetapi belum ditangkap atas pertimbangan strategis.

Dikatakan Suherman, kelima narapidana dan tahanan itu masih berada di Manokwari, tetapi sering kali berpindah tempat. Bukan itu saja, Kalapas mengaku, kendala yang dihadapi lantaran pihak keluarganya terkesan menutup-nutupi atau tidak kooperatif dalam memberikan keterangan.

Ia mengatakan, dari hasil evaluasi dan pemeriksaan, kaburnya kelima narapidana dan tahanan itu memang sudah direncanakan, bukan akibat rendahnya pengawasan dari petugas Lapas. Bahkan, lanjut dia, saat berupaya kabur, terjadi pengancaman terhadap petugas Lapas yang sedang melakukan penjagaan. Namun, kata Suherman, pihaknya tidak mengetahui sumber atau alat yang dipakai untuk mengancam petugas.

Dirinya menepis anggapan dari warga di sekitar Lapas Manokwari yang menyebutkan petugas Lapas tidak melakukan penjagaan secara baik terhadap warga binaan Lapas Manokwari. Ia mengklaim, petugas Lapas sudah melakukan pengawasan secara ketat, tetapi ada momentum yang dimanfaatkan para narapidana untuk melakukan pelarian.

Ditambahkannya, Kakanwil Kemenkumham Provinsi Papua Barat sudah mempunyai kebijakan untuk memindahkan sejumlah warga winaan ke beberapa lapas di wilayah Papua Barat.

Tujuan, jelas Suherman, untuk mengurangi kapasitas warga binaan di Lapas Manokwari yang sudah over kapasitas atau melebihi batas yang semestinya.

“Jumlah warga binaan saat ini 330 orang. Kapasitas Lapas  hanya mampu menampung 140 warga binaan,” kata Kalapas kepada Tabura Pos, Kasuari Chanel, dan Radar Papua di Lapas Manokwari, Kamis (1/8).

Lanjut dia, untuk informasi dari warga yang menyebut petugas Lapas hanya berkaraoke, bermain game, wifi, dan lain sebagainya, itu tidak benar. “Memang ada kesempatan yang dimanfaatkan para narapidana itu,” tukasnya.

Ia menerangkan, para narapidana atau tahanan yang kabur, jika tertangkap tidak ada penambahan masa penahanan atau pemberatan. Namun, kelimanya kemungkinan tidak akan mendapatkan remisi, terkecuali melakukan tindak pidana lain setelah melakukan pelariannya ini.

“Dari 330 warga binaan di Lapas Manokwari, 70 persen narapidana kasus tindak pidana umum dan 30 persen terlibat kasus narkotika. Tidak semua warga di Lapas berstatus narapidana, ada beberapa warga binaan yang merupakan titipan kejaksaan atau pengadilan,” katanya.

Untuk mencegah kejadian serupa, kata Suherman, pihaknya sudah menutup akses atau ruang yang diduga berpotensi menjadi tempat pelarian dengan menambah kawat di pembatas.

“Tahun 2019, memang sudah terjadi 3 kali pelarian, tetapi yang kabur waktu itu, mereka yang sudah ditangkap dan kabur lagi kemarin itu. memang mereka sudah biasa kabur, tetapi selalu berhasil ditangkap,” tandas Kalapas. [AND-R1] 

Dibaca 111 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.