Peneliti Reptil Temukan 4 Jenis Ular Baru dari Kelompok Stegonotus | Pasific Pos.com

| 18 November, 2019 |

Peneliti Reptil Temukan 4 Jenis Ular Baru dari Kelompok Stegonotus

Papua Barat Penulis  Kamis, 01 Agustus 2019 23:13 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Para peneliti reptil menemukan 4 jenis ular baru dari kelompok ular Stegonotus di wilayah Papua, Papuan New Guinea (PNG), dan Manokwari. Papua sendiri memiliki sekitar 86 spesies ular dan data itu masih rendah dari harapan spesies ular yang belum ditemukan di Papua.

Salah satu peneliti reptil di Papua, DR. Keliopas Krey mengatakan, pihaknya telah melakukan penelitian dan mengoleksi berbagai sampel ular dari wilayah Papua, PNG, dan Maluku.

Dari hasil penelitian tersebut, sambung Krey, pihaknya menemukan 4 spesies ular dari kelompok Stegonotus. “Spesies ular Stegonotus adalah kelompok ular yang mirip dengan ular putih. Jadi, kita menyebutnya sebagai spesies yang membingungkan,” terang Krey kepada Tabura Pos di Kampung Unipa, Manokwari, kemarin.

Dosen pascasarjana Universitas Papua (Unipa) Manokwari ini menerangkan, kelompok ular Stegonotus maupun jenis ular putih lain, aktif di malam hari.

“Jadi, sangatlah membahayakan bagi manusia kalau tidak bisa memastikan kalau jenis ular itu adalah ular beracun atau tidak,” tukasnya.

Ditambahkan Krey, spesies ular dari kelompok Stegonotus tersebar di wilayah PNG, Papua, dan pulau-pulau satelit, seperti Yapen, Raja Ampat, dan Kepulauan Aru. “Salah satu sampel yang kita identifikasi sebagai spesies ular baru berasal dari Raja Ampat,” ungkap Krey.

Spesies ular Stegonotus, terang Krey, hidup di hutan sekunder dan hutan primer, bahkan hidup di daerah perkotaan. Lanjut dia, spesies dari kelompok ini pun sering melintasi jalan, seperti jalan-jalan di hutan Gunung Meja dan beberapa jalan di Manokwari.

Menurutnya, spesies ular baru yang ditemukan ini bentuknya ramping dan ukurannya mencapai 1 meter, aktif di malam hari, dan mirip dengan ular putih yang sangat beracun.

Ia mengutarakan, untuk spesies yang baru diidentifikasi ini merupakan jenis ular putih yang tidak beracun. Ditambahkan Krey, hasil penelitian terhadap spesies ular baru ini telah dipublikasikan di dalam jurnal internasional.

Dari 86 spesies ular yang sudah diidentifikasi, kata dia, terdapat 7 jenis ular beracun, dimana ketujuh jenis itu sangat mematikan bagi manusia maupun hewan-hewan besar.

“Nah, kasus yang paling terbaru adalah kasus meninggalnya anggota Brimob di Timika yang disebabkan oleh spesies ular beracun tinggi yang kita sebut Death Adder atau Sang Pembunuh. Ular ini bergerak pada malam hari,” sebut dosen Program Studi Biologi, Fakultas MIPA Unipa Manokwari ini.

Di siang hari, tambah dia, spesies ular Deatd Adder ini beristirahat di bawah daun, bersembunyi di bawah baner kayu, sehingga jika ada orang yang beraktivitas di siang hari persis di tempat ular tersebut beristirahat, tentunya dengan mudah digigit.

“Ular ini tidak agresif, hanya diam di tempat, dan akan menggigit ketika disentuh, ditangkap atau diinjak dengan sengaja,” pungkas Krey. [FSM-R1] 

Dibaca 211 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.