Berdalih Alasan Pertimbangan Kemanusiaan, Kapolsek Oransbari Lepas Pembuat Cap Tikus | Pasific Pos.com

| 18 November, 2019 |

Berdalih Alasan Pertimbangan Kemanusiaan, Kapolsek Oransbari Lepas Pembuat Cap Tikus

Papua Barat Penulis  Kamis, 01 Agustus 2019 23:07 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Oransbari,TP - Kepala suku besar Distrik Oransbari, Moses Anari, mengaku sangat kecewa dengan kebijakan yang dilakukan oleh Kapolsek Oransbari, Ipda Nuryanto, dimana Kapolsek Oransbari sebulan yang lalu melakukan penangkapan salah seorang warga Distrik Oransbari yang bernama Muktar, tepatnya di Kampung Sidomulyo  yang kedapatan memproduksi  minuman lokal jenis cap tukus.

Menurut Anari, apa yang dilakukan oleh Kapolsek Oransbari dengan cara mengambil keputusan dengan alasan kemanusian tersebut sesuatu yang tidak dibenarkan karena semua orang dimata hukum sama, bukan ada yang dibeda-bedakan.

“Sebenarnya aturan itu sudah ada kalau kita tangkap basah itu harus diproses hukum, supaya tidak ada lagi yang bisa datangkan minuman atau membuat minuman di Distrik Oransbari. Saya pikir-pikir keamanan itu tidak perlu tidak perlu menutup-nutupi dan harus diproses hukum. Ini saya baru dengar informasi lagi, jadi ini Pak Kapolsek harus terbuka dan harus diproses hukum. Selain merugikan juga merusak generasi anak muda khususnya di Distrik Oransbari. Jadi ke Polsek itu harus 3 supaya tidak ada yang berani masukkan minuman atau membuat minuman di Distrik Oransbari lagi. Jadi tidak boleh ada yang datang mau masuk atau jual di Oransbari. Jadi saya pikir Pak Kapolsek ataupun pihak keamanan lainnya tidak perlu menutupi hal seperti ini, lebih baik itu diproses atau bagaimana," jelas Anari.

Dirinya menambahkan, dirinya baru mendengar informasi tersebut dari Awak media, jika dari awal dirinya sudah mengetahui dengan jelas persoalan tersebut maka dirinya tak segan-segan meminta aparat penegak hukum dalam hal ini Polsek Oransbari untuk melakukan proses terhadap yang bersangkutan.

"Saya berharap Kapolsek Oransbari perlu tertbuka dan tegakan aturan,jangan tutup tutupi persoalan ini, sehingga semua orang bebas menjual atau mengkonsumsi minuman itu di Distrik Oransbari," ujar Anari lagi.

Menurutnya, hal tersebut seharusnya setiap orang mempunyai kedudukan yang sama dimata hukum, sehingga tidak ada alasan bagi pembuat minuman keras berupa Cap Tikus tersebut dilepas dengan alasan kemanusian, sebab yang bersangkutan ketika memproduksi minuman tersebut dirinya tidak pernah mempertimbangkan kemanusiaan, sebab efek dari minuman tersebut berbagai peristiwa atau kejadian bisa terjadi ketika orang mengkonsumsi minuman tersebut.

Bahkan pria ini juga menyebutkan bahwa tindakan yang dilakukan Kapolsek Oransbari tersebut seolah-olah mendukung orang yang menjual minuman keras d Manokwari Selatan ini.

"Saya pikir semua orang sama dimata hukum sehingga setiap orang melakukan perbuatan melanggar hukum harus diproses tanpa membeda-bedakan. Kita di mana ini saya pikir sudah ada Perda soal miras kenapa di Polsek yang lain ditangkap penjual lalu diproses sementara di Oransbari pembuat minuman keras dibebaskan demi kemanusiaan saya pikir ini sesuatu yang tidak masuk akal," jelas Anari lagi.

Sementara itu secara terpisah Kapolsek Oransbari Ipda Nuryanto yang dikonfirmasi melalui fia teleponnya pada Jumat (26/07) malam, dirinya membenarkan bahwa penangkapan Miras tersebut dilakukan sebulan yang lalu namun kenapa baru dipertanyakan saat ini sehingga dirinya meminta untuk tidak diekspos karena ada alasan-alasan tertentu sehingga dirinya selaku Kapolsek Oransbari mempertimbangkan dan memutuskan sehingga yang bersangkutan dibebaskan.

“Kita lakukan pembinaan, sekalipun dia masuk, namun kita tetap peringatan lalu dia tobat dan kapok, kecuali kita bisa 1 kali 2 kali dan 3 kali dia masih lakukan ya kita tindakan hukum tetapi biaya satu kali saja jadi kita ingatkan lalu kita bina, jadi kita berbagai pertimbangan. Informasinya Dia masuk belum lama, jadi kita ingatkan satu kali jadi surat pernyataan dan tobat. Kemungkinan zaman sebelum tahun lama tapi mungkin sekitar 1 bulanan, itu masuk dalam kategori baru itu. Tapi yang jelas itu beda, kita terus kasih pembinaan kepada dia. Jadi pas dia berhenti dan kapok ya sudah. Itu semua kewenangan ada di Polsek  dan itu semua sesuai dengan pertimbangan kemanusiaan. Itu kebijakan saya dan kewenangan  penuh ada di tangan saya. Jika 1 kali atau dua kali dia bertobat ya sudah. Kita hanya hukuman untuk dia hanya babat rumput dan perbaiki saluran air saja,” jelas iptu Nuryanto melalui sambungan via telepon selulernya. 

Bahkan dalam kesempatan tersebut dirinya juga menambahkan, dirinya selaku Kapolsek Oransbari  terus memberikan pembinaan sepanjang waktu, jika yang bersangkutan masih mendengar maka tidak serta merta memutuskan untuk diproses hukum karena lewat proses hukum dapat menyusahkan seseorang.

"Kita terus-menerus memberikan pembinaan kepada masyarakat, jadi kalau sudah buat satu kali lalu dia bertobat, ya sudah. Tugas kita kan memberikan pembinaan kepada masyarakat," ujar dirinya lagi. [CR35] 

Dibaca 117 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.