Saling Klaim 2 Tim Sepakbola Papua Barat, Siapa yang Sah? | Pasific Pos.com

| 20 October, 2019 |

Saling Klaim 2 Tim Sepakbola Papua Barat, Siapa yang Sah?

Papua Barat Penulis  Selasa, 30 Juli 2019 14:30 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Meski dualisme di tubuh pengurus Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Provinsi Papua Barat telah dibantah, tetapi ada 2 pengurus Asprov PSSI yang membentuk tim sepakbola masing-masing menghadapi Pra PON dan PON XX.

Kedua tim sepakbola itu dibentuk versi Ketua Asprov PSSI Provinsi Papua Barat, Fransiskus Tanuardus dan Wakil Ketua Asprov PSSI Provinsi Papua Barat, Yance Kambu.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum KONI Provinsi Papua Barat, Dominggus Mandacan meminta pengurus Asprov PSSI Provinsi Papua Barat tetap kompak dalam melaksanakan tugas persiapan atlet menjelang Pra PON dan PON.

“Kita sebagai pengurus KONI Papua Barat, harap mereka bisa kompak, bukan ketuanya jalan sendiri, wakil ketua jalan sendiri,” kata Mandacan kepada para wartawan usai apel gabungan di halaman Kantor Gubernur Papua Barat, Senin (29/7).

Namun, Mandacan menegaskan, tim sepakbola Provinsi Papua Barat yang diakui dan resmi adalah tim sepakbola yang dibentuk Ketua, Fransiskus Tanuardus. Untuk itu, ia meminta, dalam berbagai kesempatan dan pertemuan, jika diundang bisa hadir, sehingga persoalan ini diselesaikan secara internal.

“Bagi saya, tidak ada masalah, hanya saja masing-masing mempertahankan prinsip saja, makanya kemarin sudah ada pertemuan di Jakarta. Ketua Harian KONI Papua Barat sudah meminta waktu dengan PSSI Pusat untuk membicarakan persoalan ini dan sekarang kita lagi menunggu hasil pertemuan itu,” tandas Mandacan yang juga Gubernur Papua Barat.


Tidak Berdasar dan Keliru

Sebelumnya, Ketua Asprov PSSI Provinsi Papua Barat, Fransiskus Tanuardus menyebut tim sepakbola Provinsi Papua Barat terancam tidak bisa mengikuti Pra PON dan PON XX.

Wakil Ketua Asprov PSSI Provinsi Papua Barat, Yance Kambu menegaskan, pernyataan Ketua Asprov PSSI sangat keliru dan tidak berdasar. “Kalau beliau bilang tidak ada dualisme, saya setuju, tapi timbul pertanyaan, kenapa beliau sebagai Ketua Asprov tidak mengakui tim ini dan mengganggap tim ini tidak sah,” tanya Kambu yang ditemui Tabura Pos di Stadion Sanggeng, Manokwari, Senin (29/7).

Ditegaskannya, tim yang dibentuknya sesuai hasil keputusan rapat tingkat tinggi Asprov Provinsi Papua Barat, melibatkan anggota Exco (Executive Committee), bukan di luar Asprov PSSI. “Kenapa beliau tidak mengakui, berarti beliau sendiri yang menciptakan dualisme,” tukasnya.

Menurut Kambu, wujud dari dualisme muncul saat Piala Gubernur Cup, karena merasa kepentingan terselubungnya tidak terakomodir. Dia juga menampik adanya keterlibatan oknum KONI Provinsi Papua Barat dalam pembentukan tim.

“Saya anggap beliau tidak punya jiwa sportivitas yang tinggi sebagai seorang pemimpin dan pernyataan itu keliru. KONI tidak terlibat dalam menentukan siapa pemain yang ada ini dan tidak terlibat menentukan siapa manajemennya. KONI hanya mengetahui ketika tim atau pemain ini sudah jadi,” sebut Kambu.

Dijelaskannya, dalam pengambilalihan tim oleh KONI, itu demi menyelamatkan atlet yang sejak tahun lalu disiapkan, bukan adanya kepentingan terselubung. Untuk itu, Kambu menegaskan, tim yang dibentuknya telah mendapatkan legitimasi dari KONI Provinsi Papua Barat tertanggal 15 Juli 2019.

“Itu keputusan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi dari KONI. Dalam keputusan itu, ada 2 hal, yakni soal pemain dan soal manajemen official tim. Dokumen kami lengkap, dokumen kami sempurna sesuai materi kaderisasi. Perlu kita ketahui, PON itu hajatnya KONI, bukan PSSI,” kata Kambu.

Dirinya menjelaskan, apa yang dilakukan KONI sesuai hasil koordinasi dengan KONI Pusat, sehingga atas petunjuk KONI Pusat, guna penyelamatan atlet, KONI Provinsi Papua Barat mengambil alih tim sepakbola yang sudah siap.

Sementara Kepala Pelatih Tim Sepakbola Papua Barat, Robby Maruanaya menambahkan, Ketua Asprov PSSI, tidak boleh membuat pernyataan atau mengambil keputusan tanpa Exco, karena posisi Exco sama dengan ketua.

“Apabila Exco tidak terlibat dalam sebuah pernyataan atau melakukan rapat sebelum mengambil keputusan, maka apa yang dikatakan ketua umum itu tidak sah. Saya datang ke sini dengan surat yang jelas dan sesuai keputusan Exco secara bersama-sama,” klaimnya.

Maruanaya menyebutkan, dirinya datang ke Papua Barat bukan dengan motivasi lain, tapi menginginkan kejayaan Perseman dan Persis Sorong kembali bangkit. Lanjut dia, kualitas pemain di Papua dan Papua sama, tetapi Papua Barat tidak pernah tampil, karena pengurus tidak mempunyai hati untuk sepakbola dan adanya motivasi lain.

Diungkapkan Maruanaya, hal tersebut sudah dibuktikannya dengan membawa Perseru Serui masuk ke ISL, Persiwa Wamena, dan Waropen yang sudah 2 kali menjadi juara. “Saya lakukan itu murni karena saya pemain bola, bukan motivasi uang atau motivasi bisnis,” ujarnya.

Maruanaya mengimbau, jangan berbicara tentang sepakbola jika tidak pernah bermain bola dan tidak memiliki sertifikat. Ditegaskannya, materi kaderisasi dimulai dari kedatangan pemain, diseleksi, membicarakan materi periodesasi, yakni menyangkut pra persiapan tim, fisik, teknik, dan taktik.

“Itu ada periodesasinya. Sekarang tim yang ada sudah masuk dalam tahap uji coba. Kalau baru mau lakukan seleksi sekarang, itu tidak mungkin, karena Pra PON sudah di depan mata, bulan Oktober nanti Pra PON,” tandas Maruanaya.

Untuk itu, dia meminta mereka yang tidak mengerti tahapan tersebut, jangan berbicara yang bisa membuat masyarakat kebingungan. Dengan cara begitu, tegas dia, makanya sepakbola di Papua Barat tidak pernah maju.

“Seharusnya beliau mendukung apa yang dilakukan Yance selaku wakilnya kalau ada niat memajukan sepakbola Papua Barat, bukan untuk kepentingan sendiri,” harap Maruanaya.

Sementara anggota Exco PSSI Provinsi Papua Barat, Yakonias Salabai turut mempertanyakan pernyataan dan keputusan Ketua Asprov PSSI Provinsi Papua Barat.

“Kita tidak pernah diundang untuk rapat atau duduk bersama membahas terkait hal-hal yang akan dilakukan,” kata Salabai kepada Tabura Pos di Stadion Sanggeng, kemarin.

Menurutnya, apa yang disampaikan Ketua Asprov PSSI tidak sah dan itu merupakan pernyataan pribadi, bukan pernyataan mewakili Ketua Asprov PSSI.

Diakui Salabai, selama ini, Yance Kambu selalu mengundang dan mengajak anggota Exco untuk mengambil keputusan dan itu sah, karena Exco terlibat di dalamnya. [FSM/CR46-R1] 

Dibaca 156 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX