Nelayan Asli Papua Keluhkan Minimnya Tangkapan Ikan | Pasific Pos.com

| 19 August, 2019 |

Ketua Koperasi Nelayan Papua Mandiri (kanan) saat foto bersama dengan anggota koperasi dan nelayan Ketua Koperasi Nelayan Papua Mandiri (kanan) saat foto bersama dengan anggota koperasi dan nelayan

Nelayan Asli Papua Keluhkan Minimnya Tangkapan Ikan

Ekonomi & Bisnis Penulis  Selasa, 16 Juli 2019 20:33 0
Beri rating artikel ini
(1 Voting)

 

JAYAPURA - Ketua Koperasi Nelayan Papua Mandiri, Amos K Woru, mengeluhkan hasil tangkapan ikan nelayan asli Papua, yang kian hari makin minim.

"Permasalahannya karena nelayan saat memancing di rompong (tempat berkumpulnya ikan) mennggunakan tinta sehingga ikan keluar dari rompong," kata Amos saat ditemui di Koperasi Nelayan Papua Mandiri, Hamadi, Selasa (16/7/19).

Menurut Amos, hal itu sudah diajukan kepada pemerintah dengan tujuan agar bisa menghasilkan Peraturan Daerah (Perda) untuk perlindungan dan penataan nelayan dalam menangkap ikan di laut.

"Supaya produksi ikan di laut Kota Jayapura bisa kembali seperti dulu. Artinya produksinya tidak mengalami penurunan tapi terus ada," jelasnya.

Amos menjelaskan, nelayan saat menangkap ikan di rompong menggunakan tinta polpen, yang dicampurkan dengan bahan kimia. Saat dicampurkan dengan umpan, bau amis dari umpan tersebut akan menarik ikan.

"Fungsi tinta sebagai perangsang. Ketika ikan datang ingin makan umpan itu, akan mempengaruhi ikan lainnya. Hal ini menyebabkan ikan keluar dari rompong karena bau amin itu. Kalau ini terus dilakukan ikan tidak lagi akan datang di rompong. Jadi, ini persoalan," ujarnya.

Amos mengaku, penggunaan tinta ini sudah berlangsung lima tahun. Penggunaan tinta dikarenakan tingginya pangsa pasar permintaan ikan tuna.

"Penggunaan tinta ini disebabkan nelayan dari luar Papua, yang datang memancing ke Kota Jayapura. Kami berharap supaya ada Perda perlindungan supaya hasil tangkapan ikan nelayan asli Papua ini semakin banyak," jelasnya.

Salah satu nelayan, Martinus Fonataba menyatakan, penggunaan tinta digunakan dalam rompong menggunakan mata ikan menjadi pedis sehingga keluar rompong.

"Kalau sudah seperti itu sudah tidak ada lagi ikan dalam rompong. Nanti tunggu satu bulan lagi baru ikan masuk lagi di rompong. Dulu kalau tidak ada tinta ikan begitu banyak di rompong," katanya.

"Kalau kelaut jam 6 sore, pulang jam 8 atau jam 9 malam sudah dapat ikan banyak tapi sekarang ini akibat penggunaan tinta pergi jam 6 sore pulang jam 6 pagi dapat ikan sedikit. Tadinya dapat 300 ekor sekarang hanya bisa pulang 10 ekor saja. Kami dari nelayan sudah melaporkan hal ini ke Polda Papua," jelasnya.

Dibaca 70 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX