Marga Djanoma Tolak Pembangunan Homestay di Kampung Aiwa Teluk Triton | Pasific Pos.com

| 18 September, 2019 |

Marga Djanoma Tolak Pembangunan Homestay di Kampung Aiwa Teluk Triton

Papua Barat Penulis  Senin, 15 Juli 2019 03:04 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Marga Djanoma asal suku Mairasi yang mengaku sebagai pemilik hak ulayat menolak pembangunan homestay di kampung Aiwa Teluk Triton, Kabupaten Kaimana.

Penolakan itu dilakukan pemilik hak ulayat karena pembangunan homestay sebelumnya mendapatkan izin dari pihak yang bukan pemilik hak ulayat, dan pembangunan homestay tersebut juga tanpa sepengetahuan dari pemilik hak ulayat marga Djanoma.

Pemilik hak ulayat, Fransina Djanoma didampingi Agustinus Djanoma dan Zakeus Djanoma mengisahkan, awalnya perempuan dari keluarganya kawin dengan orang luar. Kemudian, suami dari perempuan ini datang dan berkebun di wilayah Aiwa.

“Mereka ini bukan pemilik hak ulayat, hanya sebatas garapan saja, itu sudah berapa tahun lalu. Tetapi, mereka mengklaim bahwa tanah tersebut adalah tanah mereka sehingga mereka sewakan kepada investor untuk pembangunan homestay,” tutur Djanoma kepada Tabura Pos di Kaimana belum lama ini.

Setelah mereka menyewakan tanah tersebut kepada investor luar. Ia mengatakan, pihak keluarga, khususnya marga Djanoma melakukan pemalangan di tempat pembangunan homestay, Oktober 2018 lalu. Namun, mereka melaporkan pihak keluarga Djanoma kepada polisi, hingga akhirnya ada proses mediasi.

“Saya sendiri sebagai pemilik hak ulayat mendapatkan surat dari aparat keamanan bahwa, jika kami keluarga melakukan pemalangan lagi, maka kami akan ditahan,” ujar Djanoma.

Akhirnya, lanjut dia, pihaknya kembali melakukan rapat secara kekeluargaan dan melakukan pertemuan dengan pihak yang telah menyewakan hak ulayat tersebut.

“Kami meminta kepada pihak yang menyewakan tanah tersebut untuk tidak melanjutkan proses penyewaan dan pembangunan homestay harus dihentikan. Tetapi kita bicara dulu seperti apa, dan sudah beberapa kali kami mengirimkan surat tetapi mereka tidak menanggapi surat kami,” terang Djanoma.

Akhirnya, akui dia, pihaknya kembali melakukan pemalangan terhadap pembangunan homestay tersebut. Atas persoalan tersebut, diketahui dewan adat, dan akhirnya dewan adat memediasi persoalan itu di kamung Logo.

“Saat kita rapat di kampung Lobo, belum ada kesepakatan untuk palang dibuka. Rapat saat itu dihadiri aparat keamanan, ternyata dewan ada datang ke tempat pembangunan homestay dan membuka palang dan sampai detik ini tidak ada penyelesaian atas persoalan hak ulayat,” tukasnya.

Bahkan, kata dia, dari bukti-bukti yang ditunjukannya tidak memuahkan hasil. Aparat negera maupun aparat adat malah menganggap pihaknya bukan pemilik hak ulayat. “Mereka menganggap kami sebagai pengacau bukan pemilik hak ulayat, dan kami ditekan aparat agar tidak melakukan aksi pemalangan untuk menuntut hak kami sebagai pemilik hak ulayat,” terang Djanoma.

Ia pun berharap, Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) dan Anggota DPR Jalur Otsus dapat memediasi penyelesaian persoalan hak ulayat di wilayah Aiwa, Teluk Triton tersebut. [FSM-R3] 

Dibaca 76 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX

Berita Terkini