Bahas Pengembangan Ekonomi GPI Lewat Simposium | Pasific Pos.com

| 18 September, 2019 |

Wakil Ketua II GPI Papua-Merauke, Beni Latumahina dan Pdt.Izak S.O Iwong selaku Ketua Sinode GPI Papua (foto:iis) Wakil Ketua II GPI Papua-Merauke, Beni Latumahina dan Pdt.Izak S.O Iwong selaku Ketua Sinode GPI Papua (foto:iis)

Bahas Pengembangan Ekonomi GPI Lewat Simposium

Papua Selatan Penulis  Jumat, 05 Juli 2019 16:46 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

MERAUKE,ARAFURA,- Wakil Ketua II GPI Papua-Merauke, Beni Latumahina mengemukakan bahwa simposium Gereja Protestan Indonesia di Papua dengan tema ‘Pengembangan ekonomi GPI Papua berbasis investasi-aset’ bertujuan untuk sharing dan berdiskusi, meskipun dalam waktu yang relatif singkat diharapkan dapat diperoleh suatu kesimpulan atau rekomendasi. Pada dasarnya pihaknya mengharapkan sebuah konsep mengenai pendapatan dan belanja dari sistem yang dianut oleh GPI Papua khususnya mekanisme pendapatan dengan melihat aset-aset yang dimiliki oleh GPI Papua, baik tanah maupun gedung yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk badan usaha milik Gereja Protestan Indonesia.

“Jadi dalam rapat kerja Sinode dimana tuan rumah tahun ini adalah Kabupaten Merauke juga turut diselenggarakan symposium dimana seluruh hamba Tuhan ikut terlibat. Rekomendasi yang diperoleh selanjutnya akan ditindak lanjuti dalam rapat kerja,”ujarnya kepada wartawan di gedung Kanol Sai belum lama ini. Beni menambahkan, peserta yang hadir dari seluruh Klasis GPI se-Papua dan Papua Barat dengan jumlah sekitar 100 orang. GPI Papua mempunyai lingkup pelayanan yang cukup luas sehingga agenda raker seperti ini setiap tahun dilaksanakan di daerah yang berbeda-beda.

Sementara itu Pdt.Izak S.O Iwong selaku Ketua Sinode GPI Papua menambahkan bahwa symposium bertujuan untuk mengembangkan potensi sumber daya warga gereja dan aset-aset lainnya. Untuk di Merauke sendiri pernah dijalankan sejumlah usaha dan sekarang pihaknya ingin meninjau kembali untuk pengembangan lebih lanjut. Peserta yang hadir berasal dari 15 Klasis dimana 9 peserta dari Papua dan 6 dari Papua Barat. Menurutnya yang menjadi kendala utama dalam pengembangan aset gereja adalah soal konsep dimana perlu ditemukan konsep yang tepat untuk pengelolaan aset gereja.

Sebab dalam mengelola sesuatu untuk kepentingan bisnis tentu ada aturannya dan yang tidak kalah penting adalah orang yang mengelola. Jika sifatnya hanya part time maka akan menjadi kendala tersendiri sehingga dibutuhkan tenaga yang benar-benar bisa bekerja full time. Selama ini jenis usaha yang sudah berkembang di kalangan jemaat adalah aset tanah untuk pembangunan rumah sewa. Namun tanah yang ada sangat terbatas sehingga diharapkan warga gereja dapat melirik potensi lain di daerah yang juga melimpah seperti beras, ikan dan lain sebagainya. Ia berharap melalui symposium dapat membuka wawasan jemaat bahwa gereja tidak hanya bergumul untuk hal-hal yang sifatnya rohani semata tetapi memiliki cakupan luas dengan kegiatan lain yang lebih nyata.

Dibaca 91 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

Berita Terkini