Dalam 17 Tahun Terakhir, Teluk Bintuni Kehilangan 60 Hektar Hutan Mangrove | Pasific Pos.com

| 22 August, 2019 |

Dalam 17 Tahun Terakhir, Teluk Bintuni Kehilangan 60 Hektar Hutan Mangrove

Papua Barat Penulis  Jumat, 05 Juli 2019 14:46 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP - Kabupaten Teluk Bintuni memiliki hutan Mangrove terluas di Provinsi Papua Barat dengan luas sekitar 260.000 hektar dengan beragam biota laut bernilai ekonomis.

Salah satu pemerhati lingkungan, Yohanes Akwan menjelaskan, fungsi hutan Mangrove bukan hanya penahan laju abrasi pantai, tetapi juga memiliki manfaat lain sebagai pengobatan herbal masyarakat lokal di Teluk Bintuni.

Bahkan, kata Akwan, menjadi tempat berkembang biaknya berbagai biota laut, termasuk beberapa jenis burung endemik di Teluk Bintuni.

Namun, dirinya merasa khawatir dengan semakin meningkatnya deforestasi hutan Mangrove di wilayah Teluk Bintuni. “Saya melihat laju deforestasi hutan ini sangat cepat, karena dibukannya kawasan itu untuk pemukiman dan penggunaan lain,” ungkapnya kepada Tabura Pos via ponselnya, Kamis (4/7).

Diungkapkannya, kurang lebih 17 tahun terakhir ini, Teluk Bintuni sudah kehilangan hampir 60 hektar lahan atau tutupan hutan Mangrove. Lanjut dia, sejauh ini belum ada tindakan nyata dari pemerintah melalui instansi teknis maupun kepala daerah untuk mencegah lajunya deforestasi hutan Mangrove.

“Belum ada aturan dan tindakan nyata yang diambil pemerintah untuk mempertahankan kawasan itu sesuai fungsinya atau langkah untuk melibatkan masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan dengan bijak hutan Mangrove tersebut,” katanya.

Diakui Akwan, saat ini hampir di sepanjang kawasan hutan Mangrove telah terbuka untuk pemukiman penduduk dan aktivitas usaha lain.

“Kalau tidak segera diambil tindakan nyata dan tidak ada kolaborasi dengan masyarakat terkait penjagaan dan pemanfaatan hutan Mangrove secara bijak, maka Teluk Bintuni terancam dalam bencana. Kenapa bencana, karena ketika fungsi hutan Mangrove tidak bisa lagi, maka abrasi dan bencana lain bisa menyusul. Bukan itu saja, kehidupan perekonomian masyarakat di sektor perikanan akan terancam, karena punahnya biota laut di kawasan tersebut,” paparnya.

Untuk itulah, ia mengimbau masyarakat, pemuka agama, tokoh masyarakat, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Teluk Bintuni harus mengambil sikap disertai tindakan nyata menyelamatkan hutan Mangrove demi masa depan anak dan cucu masyarakat di Teluk Bintuni.

“Kalau hal itu tidak dilakukan dari sekarang, maka air mata dan rasa penyesalan akan hadir dalam hidup kita,” pungkas Akwan. [CR46-R1] 

Dibaca 73 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX