Penerapan Zonasi Untuk Mempermudah | Pasific Pos.com

| 21 September, 2019 |

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Thiasoni Betaubun, S.Sos, MM, M.Pd (foto:iis) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Thiasoni Betaubun, S.Sos, MM, M.Pd (foto:iis)

Penerapan Zonasi Untuk Mempermudah

Papua Selatan Penulis  Minggu, 30 Jun 2019 23:47 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

MERAUKE,ARAFURA,-Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Thiasoni Betaubun, S.Sos, MM, M.Pd mengemukakan bahwa di Kabupaten Merauke sejumlah sekolah telah menerapkan zonasi pendidikan namun hanya untuk sekolah negeri. Hal ini berdasarkan peraturan pendidikan nomor 51 tahun 2018 dimana  zonasi pendidikan akan diterapkan untuk di sekolah negeri.  Hal ini untuk memudahkan para siswa dan orang tua agar tidak terbebani dengan jarak sekolah yang jauh dan biaya transportasi yang harus dikeluarkan.  Ia mencontohkan untuk SMPN 2 dimana jarak tempuh siswa diperkirakan hingga 3 kilometer dan tidak boleh melewati batas jarak tersebut.

Ini berarti siswa yang tinggal di sekitar SMPN 2 tidak diperbolehkan masuk ke sekolah lain dan hanya bisa mendaftar di SMPN 2.  Untuk di Merauke sendiri tiga SMA sudah menerapkan zonasi pendidikan, yakni SMAN1, SMAN 2 dan SMAN 3.  Untuk di Merauke ada enam SD yang menerapkan zonasi pendidikan dan SMP ada lima SMP.

“Khusus untuk sekolah yayasan dan SMK tidak menerapkan sistim ini karena hanya berlaku untuk sekolah negeri dan Inpres.  Zonasi pendidikan sebelumnya disebut dengan rayonisasi pendidikan. Jadi zonasi pendidikan pada dasarnya mengamankan anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah sehingga tidak terlalu jauh dengan  jarak sekolah,”ujar Thiasoni kepada wartawan di ruang kerjanya belum lama ini.

Ia mengungkapkan, untuk zonasi pendidikan sudah diatur agar setiap kelas hanya menampung siswa 28 dan paling banyak 36 orang. Jika sudah mencapai 40 maka tidak bisa diterapkan zonasi pendidikan, jadi sudah ada batasan-batasan khusus sehingga tidak ada lagi anggapan masyarakat yang masih terfokus hanya pada sekolah-sekolah tertentu sebagai sekolah favorit. Thiasoni menegaskan bahwa pihaknya juga sudah mempunyai peta untuk zonasi pendidikan dan diedarkan ke sekolah-sekolah sehingga mudah untuk diterapkan.  “Dengan berlakunya zonasi pendidikan maka tidak lagi melihat nilai kecil atau nilai besar. Misalnya untuk SMAN 1 maka siswa yang bermukim di sekitar Jalan Parako, Pendidikan, Biak dan Misi wajib masuk di SMAN 1, berapapun hasil nilainya,”pungkasnya.

Dibaca 82 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.