Warga Mengaku Belum Tahu Soal Retribusi Pelayanan Persampahan | Pasific Pos.com

| 16 December, 2019 |

Warga Mengaku Belum Tahu Soal Retribusi Pelayanan Persampahan

Papua Barat Penulis  Jumat, 21 Jun 2019 08:14 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Sejumlah warga Manokwari mengaku belum mengetahui tentang adanya Perda Nomor 12 Tahun 2011 dan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 60 Tahun 2018 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan.

Namun, mereka berharap sebelum aturan itu diterapkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari harus terlebih dahulu mensosialisasikannya kepada seluruh elemen masyarakat.

Salah satu pemilik bengkel yang akrab disapa Bang Botak mengaku, belum mengetahui aturan tersebut. Dikatakannya, selama ini dia membuang sampahnya sendiri ke bak penampungan sampah setiap sore.

“Saya rutin buang sampah sore hari atau setelah bengkel tutup,” kata Bang Botak yang ditemui Tabura Pos di sela-sela kesibukannya, Kamis (20/6).

Ia mengisahkan, dirinya dulu membiarkan sampah hingga bermalam, tetapi keesokan harinya, sampahnya berserakan hingga ke jalan. Oleh sebab itu, kata dia, setiap sore, dirinya rutin membuang sampah ke bak penampungan sampah.

Meski belum mengetahui aturan itu, tetapi ia mengaku mendukung. “Saya tetap mendukung, tetapi kalau bisa disesuaikan dengan waktunya kita. Bengkel motor ini sore hari baru terkumpul sampahnya,” kata Bang Botak.

Hal senada diungkapkan seorang pengelola hotel kelas melati, Heni. Dia mengaku belum mengetahui tentang Perbup tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan.

“Selama ini kita bayar retribusi sampah sebesar Rp. 150.000 per bulan ke orang yang angkut sampah,” ungkapnya.

Dikatakannya, jika berdasarkan tarif Perbup, hotel kelas melati akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 600.000, tentunya sangat memberatkan. “Hotel kami saat ini berfungsi hanya 17 kamar. Itu pun kadang sepi pengunjung. Justru kita bayar selama ini lebih murah dibandingkan peraturan yang baru. Tapi nanti saya sampaikan ke pemilik hotel,” ujar Heni.

Pengakuan serupa dilontarkan Mira, salah satu pemilik kios di pinggir Jl. Drs. Esau Sesa, Manokwari. “Saya belum tahu aturan itu, baru dengar juga. Kalau bisa, aturan itu diumumkan, harganya diinfokan pada warga supaya jelas,” harap Mira.

Menurutnya, selama ini dirinya harus mengeluarkan kocek sebesar Rp. 100.000 untuk pengangkut sampah, tetapi dengan peraturan itu, tentunya lebih murah, yakni sebesar Rp. 50.000.

“Lebih murah nih. Kalau kita bayar langsung masuk ke kas daerah, itu lebih bagus supaya semua teratur dan tidak ada pungutan liar,” tandas Mira.

Sementara Tatanuddin, seorang pemilik warung makan, mengaku senang dengan aturan tersebut. “Tapi yang jadi pertanyaan kami soal jadwal atau pengambilan sampah oleh petugas,” katanya.

Dikatakan Tatanuddin, warung makannya mulai beroperasi pukul 08.00 WIT hingga pukul 15.00 WIT, barulah sampah dibuang setelah warung makanya tutup.

“Kalau sampah saya dari warung makan ini harus langsung dibuang. Kalau ditaruh di depan dan tunggu dijemput petugas, sampahnya nanti dibongkar anjing atau tikus. Kalau masalah harga, kita tidak keberatan, asalkan Manokwari bersih,” tandas Tatanuddin. [CR46-R1]

Dibaca 143 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.