John Manangsang Tegaskan Purtier Placenta Hanya Pendukung ARV Bukan Pengganti | Pasific Pos.com

| 25 August, 2019 |

dr. John Manangsang dr. John Manangsang

John Manangsang Tegaskan Purtier Placenta Hanya Pendukung ARV Bukan Pengganti

Kabupaten Jayapura Penulis  Sabtu, 11 Mei 2019 19:06 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(1 Voting)

SENTANI– dr. John Manangsang selaku Team Elite PAVO Papua di RIWAY INTERNASIONAL, PTE LTD yang menyediakan Capsul Purtier Placenta Sixth Edition menegaskan bahwa kehadiran Purtier Placenta bukan untuk mengganti ARV tapi sebagai pendukung.

Hal itu ditegaskan Manangsang di Kediamannya, Bukit Foromokho, Kampung Netar, Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura, Jumat (10/5) malam, menanggapi Polemik di tengah masyarakat terkait kemunculan produk Purtier Placenta yang dikabarkan akan menggantikan obat ARV untuk terapi pengidap HIV.

John Manangsang mengungkapkan bahwa produk Purtier Plasenta yang diproduksi dari Newzeland, diorganisir oleh perusahaan Riway International di Singapura dimana sampai hari ini sudah 80 negara mengkosnumsi Purtier Plasenta yang edisinya 6 ini. Yang mana Indonesia merupakan negara ke-8 yang mengkonsumsi atau merima Purtier Plasenta ini di lima wilayah.

Dikatakan, isi Purtier Plasenta yang dalam bentuk kapsul, salah satu kandungan zatnya  adalah stemcell 100 mg ditambah 12 bahan-bahan alami atau herbal.

“Isinya menurut saya, dari ilmu pengetahuan yang saya baca, yang saya ketahui, ini memang sebuah produk dengan nilai yang sangat unik dan sangat luar biasa. Dia bisa memberikan peningkatkan kekebalan (imuniras), dia bisa memperbaiki sel-sel yang rusak, sel yang mati dihidupkan kembali,” terangnya.

Dirinya melihat, manfat dari Capsul tersebut sangat bagus untuk hal-hal pada pasien-pasien yang memang di dalam tubuhnya mengalami kematin sel secara permanen, sebagaimana dalam kasus gagal ginjal, diabetes mellitus, dan juga kematian sel akibat inveksi HIV yang mematikan T-limfosit, atau sel kekebalan tubuh manusia.

Diceritakan, produk Stemcell tersebut pertama kali diberikannya ke salah satu pasiennnya yang datang dengan keluhan inveksi HIV dan merasa bosan atau jenuh minum ARV.

“Pasien yang pertama saya tangani itu, dia pasien yang telah minum ARV selama tiga tahun. Karena berhenti minum ARV sehingga kondisinya drop, dan saat hendak kembali meminta ARV ke pusat layanan ditolak, karena kondisi HIV AIDS-nya stadium tiga, sehingga tidak bisa minum ini ARV. Nah, Dalam kondisi tersebut dan tidak minum obat apa-apa, saya suruh dia untuk mencoba produk Purtier Stimcell dan ternyata keesokan harinya mulai ada semangat dan perubahannya begitu cepat, sehingga satu minggu kemudian disarankan kembali ke pusat layanan untuk kembali mendapatkan ARV,"ungkap Manangsang menceritakan.

“Setelah dia diperiksa apakah pantas untuk kembali mengkonsumsi ARV, dia dinyatakan berhak untuk mendapatkan ARV karena kondisinya sudah membaik. Jadi anjuran kita dia harus tetap minum ARV nanti malam sebelum tidur kita suruh minum purtier placenta sebagai pendukung untuk menambah kekebalan tubuh serta sel-sel yang sebelumnya telah mati,” jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, kemudian dirinya menginformasikan ke pengurus KPA Provinsi Papua, dengan maksud untuk melihat produk Purtier Stemcell tersebut.

“Laporkan ke pemerintah, laporkan ke dinas kesehatan, laporkan kepada semua institusi yang terkait. Supaya coba lihat, ini peluang ini baik atau tidak,” ujar Manangsang kepada Ketua KPA Papua.

Ditekankan, bahwa ia belum pernah dan belum pernah ada keinginan untuk menghentikan ARV dari seorang penderita.

“Kita selalu tanyakan, positif?, sudah minum ARV belum? Kalau belum kembali minta, karena kita tahu itu tujuannya jelas,” tandasnya.

Dikatakan, secara pribadi tetap mengatakan bahwa ARV adalah lini primer (lini pertama) untuk pengobatan menekan virus. Sedangkan produk Purtier Plasenta sebagai penunjang/pendukung terhadap harapan pasien untuk mendapat kesembuhan.

“Jadi memang untuk sembuh itu harus diukur dari viral account dan dari CD4. Viral account harus nol (undetectable), tidak terdeteksinya virus ini tidak selamanya virus sudah tidak ada, tapi kita akan ukur lagi CD4,” terangnya.

Dan kalau CD4 susah diatas 600, baru dikatakan bahwa pasien tersebut telah bebas dari HIV.

“Nah ini mimpi dari saya. Suatu ketika dunia ini mengetahui bahwa ada obat atau ada kombinasi obat yang bisa menyembuhkan orang dari HIV. Dia harus sembuh supaya dia kembali kepada keluarga yang normal,” lanjutnya.

Masalah harganya yang mahal, diakui produk tersebut barang mahal, karena hidup orang Papua mahal.

“Untuk hidup ini mahal. Apalagi Pak Gubernur bilang “Selamatkan yang sisa dari yang tersisa. Yang tersisa sedikit stok itu sangat mahal,” ungkapnya.

Disinggung tentang legalitas yang disebut Balai POM di Jayapura belum teregister, hal itu ditepis dr. John Manangsang, karena Purtier Plasenta sudah ada di lima wilayah di Indonesia, dan sangat terbuka di Jakarta dan dimana-mana.

“Kalau kenapa sampai yang edisi 6 ini belum terlabel nomor, karena masih diperiksa. Dia kan baru selesai di edisi 5, baru masuk di edisi 6 baru beberapa bulan terakhir ini. Itu Balai POM belum selesai memeriksa. Kalau susah selesai pasti akan dikasih nomor register,” tuturnya.

Dikatakan, target dari perusahaan Riway selaku produsen Purtier Stemcell, adalah bagaiman bisa memberikan nomor Balai POM yang konstant untuk beberapa waktu kedepan.

“Karena kita tiap dua tahun sudah ubah, untuk menghindari pemalsuan dan menghindari masa expired,” ujarnya.

Sehingga ditekankan bahwa terkait situasi yang terakhir berkembang di wilayah Kota Jayapura dan Papua pada umumnya bahwa seolah-olah kehadiran Purtier Plasenta akan mengantikan ARV, adalah satu pandangan yang keliru.

“Karena ARV dengan Purtier Placenta merupakan dua produk atau dua zat yang berbeda. Sebagai seorang medis sangat mengerti, ARV diperuntukkan untuk menekan atau merepresi virus HIV. Itu jelas sekali. Dan itu merupakan prioritas primer dalam penanganan HIV di seluruh dunia,” pungkas Manangsang.

Dibaca 423 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX