Perekonomian Papua Tumbuh Negatif Akibat Produksi Tambang Freeport Turun | Pasific Pos.com

| 25 June, 2019 |

Tambang emas bawah tanah milik Freeport. (Istimewa) Tambang emas bawah tanah milik Freeport. (Istimewa)

Perekonomian Papua Tumbuh Negatif Akibat Produksi Tambang Freeport Turun

Ekonomi & Bisnis Penulis  Kamis, 09 Mei 2019 22:33 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua merilis pertumbuhan ekonomi Papua pada triwulan I-2019 (Januari-Maret). Pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi Papua negative atau mengalami kontraksi sebesar -20,13 persen dibandingkan triwulan I-2018.

Kepala Bidang Nerwilis BPS Provinsi Papua, Eko Mardiana mengatakan, kontraksi pertumbuhan disebabkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi cukup dalam hingga -51,52 persen akibat turunnya produksi tambang PT Freeport.

“Produksi bijih logam perusahaan tambang tersebut pada triwulan I-2019 mengalami penurunan produksi diakibatkan masa transisi penambangan dari tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC),” jelas Eko, belum lama ini.

Diperkirakan selama tahun 2019 produksi bijih logam PT Freeport akan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018, sementara kategori yang mengalami pertumbuhan negative lainnya adalah kategori pertanian -1,25 persen.

“Hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan cuaca yang tidak menentu menyebabkan beberapa komoditas andalan pertanian mengalami penurunan produksi,” ucapnya.

Eko menyebut, sepanjang triwulan I secara year on year sebagian besar kategori mengalami pertumbuhan positif dengan pertumbuhan tertinggi pada kategori jasa keuangan 15,23 persen disusul kategori jasa lainnya 9,93 persen dan kategori konstruksi 9,7 persen.

Adaya kegiatan Pemilu dan event yang menyertai persiapan Papua sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2020 mendatang, kata Eko, turut mendongkrak pertumbuhan kategori tersebut.

Pada triwulan I-2019, struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Nilai kontribusi kategori lapangan usaha pertambangan dan peenggalian sebesar 22,38 persen, konstruksi 15,34 persen dan pertanian, kehutanan, perikanan 13,39 persen.

“Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 11,28 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan social wajib sebesar 10,75 persen. Kategori-kategori tersebut masih mendominasi PDRB Papua,” kata Eko. (Zulkifli)

Dibaca 73 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.