Ketua Binus Sayangkan Masih Ada Oknum Ojek yang Membawa Sajam | Pasific Pos.com

| 6 December, 2019 |

Ketua Binus Sayangkan Masih Ada Oknum Ojek yang Membawa Sajam

Papua Barat Penulis  Senin, 06 Mei 2019 08:29 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP - Ketua Ojek Bintang Nusantara (Binus) Manokwari, Anthon Worabay menyayangkan karena masih banyak anggota ojek di organisasinya yang kerap kali melanggar aturan dan tata tertib berlalu lintas, seperti tidak menfasilitasi penumpang dengan helm, menerobos lampu merah, melawan arus, dan sebagainya.

Dikatakannya, pihaknya telah melakukan monitoring dan melakukan penertiban terhadap anggotanya melalui 5 security, namun pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada kesadaran dari dalam diri yang bersangkutan.

“Kalau melihat latar belakang ojek, ada beberapa anggota ojek yang tidak bisa membaca, tapi bisa mengendarai motor, sehingga aturan itu diterapkan yang bersangkutan ketika melihat anggota polisi di jalan. Terkait dengan rambu lalu lintas, kalau dia sudah sadar, berarti dia sudah melakukan aturan itu, kalau tidak pasti mereka melanggar. Memang banyak contoh yang tidak baik dilakukan oleh tukang ojek, karena banyak yang takut saat ada polisi. Kalau tidak ada polisi tetap melakukan pelanggaran. Kalau monitoring di lapangan, ada anggota security kita 5 orang yang setiap hari dijalan melihat aktifitas teman kita,” ujarnya kepada Tabura Pos di Mapolres Manokwari, belum lama ini.

Terkait dengan senjata tajam, Anthon menjelaskan jika diorganisasinya tidak ada aturan yang mengenai perihal tersebut. Semuanya kembali kepada individu masing-masing.

Ia menilai, orang membawa senjata tajam biasanya berkaitan dengan tradisi asal daerah dengan alsan menjaga diri.

Namun, menurutnya, apabila dalam organisasi ditemukan anggotanya yang membawa senjata tajam, pihaknya akan memberikan teguran dan pengarahan.

Oleh karena itu Ia berharap, agar pejasa ojek selalu dalam koridor hukum yang berlaku, tata pada aturan berlalu lintas agar masyarakat tidak berpikir hal yang buruk tentang ojek.

“Contoh orang di Manokwari, masih banyak orang disekitar kota membawa parang, dengan alasan berkebun, di daerah saya di Serui juga begitu, masih bawa parang.  Jadi, ojek ada beberapa bagaian, mereka yang bekerja sebagai ojek karena memang menjadikan kebutuhan atau suatu lapangan pekerjaan, dan ada golongan helm kuning yang tidak bertanggung jawab yang menyesatkan ojek resmi atau ojek bodong. Kita tidak bisa apa-apa, kita hanya bisa engarahkan, jadi semua kembali ke masing-masing orangnya, dia sadar atau tidak,” tandasnya. [CR45-R4]

Dibaca 143 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX