Penanggulangan Bencana di Manokwari Belum Dilakukan secara Sistematis dan Terencana | Pasific Pos.com

| 7 December, 2019 |

Penanggulangan Bencana di Manokwari Belum Dilakukan secara Sistematis dan Terencana

Papua Barat Penulis  Kamis, 25 April 2019 16:43 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Potensi kejadian bencana di Kabupaten Manokwari bisa berdampak pada adanya korban jiwa dan kerugian material, seperti permukiman dan fasilitas umum yang rusak. Kompleksitas dari permasalahan bencana memerlukan suatu penataan dan perencanaan yang matang dalam menanggulanginya, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu.

“Penanggulangan bencana yang dilakukan selama ini belum didasarkan pada langkah-langkah yang sistematis dan terencana, sehingga sering kali terjadi tumpang tindih dan bahkan kadang terdapat langkah upaya penting yang terlewati,” ujar Sekda Kabupaten Manokwari, Aljabar Makatita dalam sambutan Bupati Manokwari, Demas Paulus Mandacan pada workshop Pelatihan Kajian Kebutuhan Pasca-bencana di Hotel Gloria Solideo SMKN 3 Manokwari, Rabu (24/4).

Makatita menyatakan, untuk mendukung terwujudnya penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana yang baik, diperlukan fasilitasi penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana yang di dalamnya membutuhkan SDM yang mampu melaksanakan pengkajian keutuhan pasca-bencana secara baik, tepat, dan terpadu.

Terkait itu, kata dia, perlunya transfer pengetahuan tentang mekanisme pengkajian kebutuhan pasca-bencana melalui pelatihan Jitu Pasna. “Mewujudkan masyarakat Manokwari yang tangguh menghadapi bencana merupakan proses yang panjang antar-generasi dan perlu sinergi terus menerus antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha,” katanya.

Menurut dia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi kunci sentral dari pentingnya membangun jaringan kerja sama dalam mengurangi risiko bencana. Sebab hal itu sesuai dengan fungsinya yakni sebagai koordinasi, komando dan pelaksana tugas-tugas kemanusiaan dalam penanggulangan bencana.

Selain itu, diperlukan kerja sama dengan berbagai sektor, serta butuh waktu, komitmen, dan kerja keras. “Tanpa itu kita akan semakin gagal menghadapi bencana,” tukasnya.

Pada kesempatan ini, Sekda Aljabar Makatita mengingatkan kepada seluruh peserta tidak meninggalkan tempat dan harus mengikutinya dengan serius dan sampai selesai.

Menurutnya, dalam setiap kegiatan ada narasumber yang ahli dalam bidangnya yang harus dipahami para peserta. “Bapak-ibu harus bersyukur kita mendapatkan narasumber atau pakar-pakar terkait penanganan bencana. Saya berharap ASN tidak ada yang meninggalkan tempat, fokus kepada materi karena apa yang bapak-ibu dapatkan pada hari ini akan dicurahkan kepada lingkungan di mana bapak-ibu berada,” sebut Makatita.

Kepala BPBD Kabupaten Manokwari, Johannes Jaftoran mengatakan, kegiatan tersebut sangat menentukan dalam kebencanaan agar masyarakat bisa mengetahui kerugian pasca-bencana. Selain itu, juga menjadi tolok ukur bagi pemerintah sebelum menyalurkan bantuan. “Tanpa kajian ini, bantuan yang diberikan kepada korban bencana bisa tumpang tindih. Tidak jelas karena perhitungan ini di semua bidang terlibat yang terkait dengan lokasi bencana,”  tegasnya.

Selama ini, menurut dia, BPBD Kabupaten Manokwari belum melaksanakan kegiatan tersebut. Akibatnya, belum ada tenaga yang benar-benar mampu melakukan kajian kebutuhan pasca-bencana. “Beberapa kali kita ajukan proposal, kita meminta bantuan dari BPBD provinsi yang sudah pernah mengikuti pelatihan Jitu Pasna. Ini persyaratan wajib dalam suatu proposal, ada kajian Jitu Pasna. Tanpa kajian ini, proposal tidak akan diterima oleh BNPB. Jadi output dari kegiatan ini adalah data yang akurat mengenai kerugian akibat bencana,” sebutnya.

Ia berharap, melalui kegiatan ini peserta dari berbagai OPD di Pemkab Manokwari punya “modal” untuk menghitung dan memberikan data yang akurat kepada pimpinan.

Ketua panitia pelatihan, Rizald Everd Turukay mengatakan, pelatihan itu bertujuan memberikan pengetahuan kepada peserta, pemangku kepentingan tentang beberapa pedoman terkait rekonstruksi dalam penanggulangan bencana serta pengetahuan dalam penyelenggaraan Jitu Pasna sampai dengan hasil dokumen kajian kebutuhan pasca-bencana.

Kegiatan berlangsung selama lima hari di Hotel Gloria Solideo SMKN 3 Manokwari dengan peserta 50 orang dari berbagai OPD.[BNB-R3]

Dibaca 109 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.