Selain Wisata Religi, Pulau Mansinam Potensi menjadi Penangkaran dan lokasi Budidaya Kepiting | Pasific Pos.com

| 22 September, 2019 |

Selain Wisata Religi, Pulau Mansinam Potensi menjadi Penangkaran dan lokasi Budidaya Kepiting

Papua Barat Penulis  Rabu, 10 April 2019 16:05 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Dinas Perhubungan, Kelautan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Manokwari akan membangun penangkaran ketam kenari atau kepiting kelapa (Birgus latro) di Pulau Mansinam.

Guna mewujudkan rencana itu, Selasa (9/4) Kepala Dinas PKP Kabupaten Manokwari didampingi Kepala Bidang Perikanan, Kepala Seksi Pemberdayaan Nelayan dan Sekretaris Distrik Manokwari Timur meninjau lokasi penangkaran tersebut.

Kepada masyarakat setempat di lokasi penangkaran, Kepala Dinas PKP Kabupaten Manokwari, Albert Simatupang meminta masyarakat mendukung  terlaksananya program tersebut dengan tidak meminta ganti rugi lahan.

“Program ini perlu ditangkap dan dimanfaatkan agar masyarakat bisa mandiri. Mohon dukungan, salah satunya jangan tuntut hak ulayat karena di kami di dinas tidak ada dana untuk itu, karena ini juga langsung ke masyarakat,” ujarnya.

Dia juga meminta Sekretaris Distrik Manokwari Timur membantu menyampaikan kepada masyarakat agar mendukung pelaksanaan kegiatan penangkaran  dan pihaknya, siap berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengembangan program tersebut.

“Kalau program ini diterima dan didukung, akan dikembangkan lagi. Kami siap melobi ke kementerian untuk pengembangannya,” tandasnya.

Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Perhubungan, Kelautan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Manokwari, Dedi Ariana mengatakan, awalnya ide untuk penangkaran dan budidaya ketam kenari atau kepiting kelapa merupakan hewan endemik yang perlu dilindungi. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memproteksi kawasan yang menjadi habitatnya. “Dari situlah ide itu dikembangkan sebagai salah satu program inovasi dari Bidang Budidaya Perikanan,” terangnya.

Dalam pelaksanaannya masyarakat setempat akan dilibatkan. Tahap pertama, satu kelompok masyarakat setempat dilibatkan dengan anggota sebanyak 10 orang.

“Itu melibatkan seluruh keluarga jadi masyarakat semua akan ikut terlibat tapi yang bertanggung jawab 10 anggota kelompok. Untuk penangkaran itu luas lahannya sekitar 1 hektar (ha) untuk tahap pertama,” sebutnya.

Dia mengharapkan program ini bisa menjadi program unggulan di Pulau Mansinam dan Kabupaten Manokwari. Sehingga, selain wisata religi, Pulau Mansinam juga dikenal dengan wisata baharinya.

“Dan mungkin ke depan akan ada pengembangan ekowisata. Itu yang kami harapkan untuk pengembangan ekowisata itu macam-macam. Jadi ada wisata religi masuk, wisata bahari masuk, wisata forestry juga masuk. Konsep budidaya berbasis lingkungan itulah yang dikedepankan sekaligus melindungi biota, hewan endemik di wilayah kita,” tegasnya.

Saat ini, kata dia, program tersebut masih dalam proses administrasi dan diharapkan Mei nanti sudah mulai aksi pelaksanaan program dan diperkirakan pada Juli mendatang sudah selesai dan sudah bisa melihat hasil pengembangannya.

“Anggaran pelaksanaan program ini dari Dana Otsus dengan nilai sekitar Rp 150 juta itu tahap pertama, mungkin tahun berikut akan ada lagi kalau sudah berhasil dan sudah ada perkembangannya. Karena di kawasan ini kalau tidak salah ada dua spot yang berpotensi besar sebagai penangkaran ketam kenari ini,” tukasnya.

Sekretaris Distrik Manokwari Timur, Musa Rumbarar mengatakan, Pulau Mensinam memiliki potensi yang besar selain pariwisata religi. Program penangkaran kepiting kelapa itu merupakan salah satu potensi lain Pulau Mansinam.

“Oleh karena itu, program yang dilaksanakan pemerintah di sini masyarakat perlu menyambut dan mendukung agar kepala kampung melaksanakan program ini,” tegasnya.

Dia juga meminta agar masyarakat tidak berpatokan dengan pendapatan saat ini dengan menuntut hak ulayat. Sebab, pemerintah telah menyiapkan program agar masyarakat bisa sejahtera. “Tadi sudah lihat lokasi, ini inovasi untuk masyarakat. Yang digarisbawahi jangan sampai ada tuntutan ganti rugi. Pemerintah siap membantu masyarakat. Kepala kampung harap perhatikan dan masyarakat dukung kepala kampung untuk program ini,” pintanya.

Apalagi, kata Rumbarar, program tersebut merupakan salah satu hasil Musrenbang Kampung Mansinam yang baru diusulkan ke distrik dan diakomodir pemerintah melalui program Dinas PKP.

“Harap kami masyarakat dukung program ini karena binatang ini sangat tinggi proteinnya. Daerah ini potensi wisata luar biasa, kalau dikembangkan program ini akan ada nilai tambah luar biasa. Masyarakat mari dukung kepala kampung dan sama-sama laksanakan ini,” tandasnya.

Kepala Kampung Mansinam, Zakius D. Rumsayor mengatakan, masyarakat setempat sudah memiliki dua rencana, yakni program penangkaran dan budidaya kepiting kelapa dan penangkaran burung Maleo.

Oleh karena itu, jika program penangkaran dan budidaya kepiting kelapa sudah dilaksanakan, perlu dilanjutkan dengan penangkaran burung Maleo. “Maleo sudah mau punah, sehingga kalau selesai dengan ketam kenari lanjut lagi dengan penangkaran Maleo,” ujarnya.

Dia mengatakan burung Maleo Mas dan kelelawar sudah punah di Mansinam, maka harus menjadi perhatian pemerintah agar dilindungi. “Saya harap masyarakat manfaatkan program karena pemerintah mau berdayakan masyarakat dengan cara ini,” tukasnya. (BNB-R3)

Dibaca 109 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.