94 Korban Meninggal Tercatat di Rumah Sakit Bhayangkara | Pasific Pos.com

| 18 November, 2019 |

94 Korban Meninggal Tercatat di Rumah Sakit Bhayangkara

Papua Barat Penulis  Senin, 25 Maret 2019 12:39 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP - Berdasarkan data dari Tim DVI Indonesia pascabanjir bandang dan tanah longsor di Sentani, Jayapura, Papua, korban meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara, Jayapura, sudah tercatat 94 orang. Dari 94 orang itu, ada sekitar 71 orang sudah teridentifikasi, sedangkan 23 orang lain masih diperiksa.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Lodewijk Mandacan, Polda Papua Barat, Kompol. dr. Eko Yulianto yang juga ketua tim DVI pengendali operasi, untuk tingkat kerawanan di lokasi bencana, masih kondusif, karena hujan mulai redah dan jarang terjadi hujan lagi.

Meski demikian, Yulianto menyebutkan, tim masih stand by, melakukan pemeriksan, rekonsiliasi, dan melakjukan pencarian serta evakuasi terhadap para korban bencana banjir bandang.

Ia menambahkan, dalam melakukan pencarian terhadap para korban di sisa banjir bandang tersebut, tim menerjunkan anjing pelacak dari Mabes Polri dan Tim DVI di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) untuk memudahkan proses pencariannya.

Diungkapkan Yulianto, pascabencana, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian beserta rombingan sudah mengunjungi lokasi dan mengecek penanganan korban. Dalam kunjungannya itu, Panglima TNI dan Kapolri mengapresiasi kerja TNI-Polri terhadap penanganan korban yang dianggapnya cukup baik, sehingga tidak ada atensi khusus yang ditekankan Panglima TNI dan Kapolri dalam kunjungan tersebut.

Menurutnya, tim DVI masih terkendala pendataan dari keluarga untuk mengidentifikasi 23 orang korban lain, tetapi pihaknya terus melakukan pendalaman serta pengumpulan data-data riil supaya ke-23 korban itu bisa segera teridentifikasi.

“Sampai hari ini, jumlah korban meninggal di Rumah Sakit Bhayangkara, Jayapura tercatat 94 orang, dimana 71 orang sudah teridentifikasi dan 23 orang belum teridentifikasi,” ungkapnya saat dikonfirmasi Tabura Pos via WA, kemarin.

Ditambahkan Yulianto, memang pihaknya terkendala pada data dari keluarga korban, yang rata-rata orang asli Papua di gunung. “Jadi, itu harus terus dilakukan pendalaman dan mengumpulkan data-data,” tambahnya. [CR45-R1]

Dibaca 214 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.