Banjir Bandang di Sentani, Menjadi Peringatan | Pasific Pos.com

| 14 October, 2019 |

Banjir Bandang di Sentani, Menjadi Peringatan

Papua Barat Penulis  Senin, 25 Maret 2019 12:36 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Bencana banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua menyita banyak perhatian karena jumlah korban meninggal dunia dan luka-luka cukup banyak, termasuk kerusakan yang tidak sedikit.

Anggota DPR Papua Barat, Jhon Dimara mengatakan, hal yang tidak kalah penting dan harus menjadi perhatian, yakni asal banjir bandang tersebut.

Menurutnya, banjir bandang yang terjadi di Sentani dan sekitarnya, merupakan peringatan terhadap di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat, kabupaten, dan kota.

Sebab, ia menambahkan, beberapa stakeholder di Papua sudah mempredikasikan bahwa banjir bandang di Sentani, akibat penebangan liar di Gunung Cycloop. Dengan demikian, kerusakan yang terjadi, Gunung Cycloop tidak bisa lagi menampung air jika curah hujan cukup tinggi akibat sebagian fungsinya sudah rusak.

“Hal yang membuat musibah itu menurut beberapa stakeholder yang muncul di media massa adalah penebangan liar dan factor Gunung Cyclop. Memang itu perlu dicermati semua yang ada di Papua Barat,” katanya kepada para wartawan di Kantor DPR Papua Barat, pekan lalu.

Diungkapkan Dimara, di Papua Barat, khususnya di Pegunungan Arfak (Pegaf), terdapat 2 danau besar yang tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu akan ‘mengamuk’.

Untuk itu, ia mengingatkan Pemprov Papua Barat dan Pemkab Pegaf, harus memperhatikan kondisi lingkungan dan hutannya secara baik. “Kedua dana itu mengarahkan ke tempat yang berbeda. Satu mengarah ke Kabupaten Manokwari Selatan dan Kabupaten Manokwari, khususnya dataran transmigrasi,” tambahnya.

Dikatakannya, berdasarkan catatan sejarah, sudah terjadi 2 kali bencana banjir bandang di tanah Papua, yakni di Kabupaten Teluk Wondama dan di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Ia menerangkan, kedua kejadian itu merupakan bukti kuat jika banjir bandang yang terjadi akibat kerusakan hutan, sehingga hutan di tanah Papua, khususnya lagi di Papua Barat, harus dijaga dengan baik.

“Pemerintah Provinsi dan Pemkab Pegaf berhati-hati memberikan izin ke perusahaan. OPD-OPD teknis seperti Dinas Kehutanan, harus bersinergi menjaga hutan yang ada,” pintanya.

Ia mengungkapkan, sekitar sepekan setelah bencana banjir bandang yang tergerak hatinya membantu para korban berasal dari berbagai kelompok, organisasi, gereja, dan Pemkab Manokwari.

Oleh sebab itu, ia berharap pihak Pemprov Papua Barat dan DPR Papua Barat bisa berkunjung ke Sentani untuk memberikan semangat terhadap pemerintah dan masyarakat yang sedang dilanda bencana alam.

“Meski tidak dapat menyelamatkan, tetapi paling tidak ada sentuhan kemanusiaan agar hubungan di antara Pemprov Papua Barat dan Pemprov Papua berjalan baik. Biar bagaimana pun, mereka adalah saudara kita, karena dulu kita pernah bergabung dengan Provinsi Papua,” tandas Dimara. [SDR-R1] 

Dibaca 178 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.