Siswa Tidak Mencukupi Banyak Sekolah di Timika Terancam Ditutup | Pasific Pos.com

| 10 December, 2019 |

Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Manto Ginting Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Manto Ginting

Siswa Tidak Mencukupi Banyak Sekolah di Timika Terancam Ditutup

Pendidikan & Kesehatan Penulis  Rabu, 13 Maret 2019 07:50 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Timika, - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mimika mengakui ada sejumlah sekolah di Mimika yang terancam ditutup, lantaran jumlah siswa yang ada disetiap sekolah tidak memenuhi standar minimal jumlah siswa yakni 20 orang.

“Sekarang kami belum bisa pastikan berapa jumlahnya. Tapi yang jelas lebih dari satu sekolah dan sangat banyak, baik SD, SMP juga termasuk SMA/SMK," kata Manto ketika ditemui di ruang kerjanya di kantor Disdik di jalan Poros SP5 Distrik Iwaka Kabupaten Mimika, Selasa (12/3).

Ia menegaskan, saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan semua sekolah baik SD, SMP dan SMA SMK di Kabupaten Mimika, apabila tidak memenuhi syarat untuk melakukan aktifitas belajar mengajar maka akan dilakukan penertiban bagi sekolah-sekolah tersebut sebelum tahun ajaran baru. Bila perlu sekolah-sekolah tersebut ditutup.

"Kami tertibkan mulai tahun depan dan sekarang kami sementara mendata. Kalau yang tidak memenuhi syarat, akan diberikan tindakan bila perlu ditutup,” tegasnya.

Manto menjelaskan, berdasarkan aturan sekolah harus memiliki siswa minimal sebanyak 20 orang per kelas bagi SMP dan SMA SMK. Dengan demikian, jika dikalikan tiga kelas maka jumlah siswa atau dalam satu sekolah tersebut minimal sebanyak 60 siswa.

Kendati sekolah yang bersangkutan telah terakreditasi, namun persyaratan lain seperti jumlah siswa tidak mencukupi, dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai sub rayon dalam pelaksnaan ujian.

Sementara itu. Ia menambahkan bahwa bahwa syarat pendirian suatu sekolah adalah memiliki sekolah pendukung. Kemudian, letak antara satu sekolah dan sekolah yang lainnya harus berjarak minimal 5 kilo meter.

“Contohnya sekolah BK dan AF sekarang sudah akreditasi B, tapi mereka tidak bisa jadi sub rayon dan melaksanakan ujian sendiri. Sehingga sekolah tersebut harus bergabung dengan sekolah lain. Ada sekolah yang saat ini jumlah siswanya hanya tiga orang. Kalau sekolah-sekolah di pedalaman masih kita pahami,” katanya. (Ricky)

Dibaca 247 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.