Satgas Pamtas Amankan 476 Kg Kulit Kayu Masohi dan 73,5 Kg Vanilli Ilegal | Pasific Pos.com

| 16 October, 2019 |

Satgas Pamtas Amankan 476 Kg Kulit Kayu Masohi dan 73,5 Kg Vanilli Ilegal

Kriminal Penulis  Senin, 11 Maret 2019 20:26 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA - Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Yonif Para Raider 328/DGH Pos Kotis Skouw, berhasil mengamankan 476 Kg Kulit Kayu Masohi dan 73,5 Kg Vanilli tanpa disertai dokumen resmi dalam razia rutin di Pos TNI Perbatasan Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Senin (11/3).

Diketahui pemilik Kulit Kayu Masohi itu inisial SR (55) seorang ibu rumah tangga, warga Skouw Yambe. Sementara Vanilli tersebut milik MA (39) warga Hamadi, Distrik Jayapura Selatan. Barang bernilai ratusan juta tersebut ditemukan petugas dalam sebuah truk dan mobil pick-up saat melakukan pemeriksaan dalam giat razia.

Komandan Satgas Pamtas Yonif PR 328/DGH, Mayor Inf Erwin Iswari dalam rilis yang diterima,  Senin (11/3) siang, menjelaskan bahwa dalam pemeriksaan pengemudi serta pemilik barang itu tidak dapat menunjukkan kelengkapan dokumen resmi barang tersebut.

“Pada saat dilakukan pengecekan rutin oleh personel pos jaga, SR, MA dan A tidak dapat menunjukkan surat dan dokumen resmi sehingga kulit kayu Masohi dan Vanilli Illegal tersebut kami amankan. Penyelundupan Vanilli Illegal merupakan yang ketiga kali selama 4 bulan Satgas Yonif PR 328/DGH bertugas menjaga perbatasan,” terang Mayor Inf Erwin.

Kata dia, Skouw merupakan salah satu daerah perbatasan RI-PNG yang rawan akan peredaran barang-barang illegal dan terlarang. Berbagai macam cara dilakukan oleh para oknum pelaku agar barang-barang illegal tersebut dapat lewat tanpa melalui prosedur yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Setelah dilakukan koordinasi antara pihak TNI dengan pihak Balai Karantina Pertanian dari PLBN Skouw, pemilik Kayu Masohi dan pemilik Vanilli tersebut diberikan kesempatan untuk melengkapi surat-surat dan dokumen resmi.

"Penyelundupan barang illegal merupakan salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari para pelaku tanpa melalui prosedur serta peraturan yang berlaku. Selain itu praktek illegal itu juga sangat merugikan Indonesia dalam hal devisa negara," jelas Erwin seraya mengatakan barang tersebut masih ditangani pihaknya dengan Balai Karantina.

Dibaca 156 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX