Bupati Mathius lepas Pawai Ogoh-ogoh | Pasific Pos.com

| 24 June, 2019 |

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw saat melepas pawai Ogoh-Ogoh yang disenggelarakan Umat Hindu Kabupaten Jayapura, di Lapangan Upacara Kantor Bupati, Gunung Merah Sentani, Rabu (6/3/19) siang. Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw saat melepas pawai Ogoh-Ogoh yang disenggelarakan Umat Hindu Kabupaten Jayapura, di Lapangan Upacara Kantor Bupati, Gunung Merah Sentani, Rabu (6/3/19) siang.

Bupati Mathius lepas Pawai Ogoh-ogoh

Kabupaten Jayapura Penulis  Rabu, 06 Maret 2019 19:00 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

SENTANI - Umat Hindu Kabupaten Jayapura menggelar pawai ogoh-ogoh dari Kantor Bupati Jayapura menuju Markas Yonif 751/Raider, Rabu (06/03/19) siang.

Rangkaian upacara yang digelar untuk menyambut perayaan Nyepi ini, di lepas langsung oleh Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw.

“Jadi ini sesuai dengan apa yang kita canangkan menuju zona integritas kerukunan beragama. sehingga semua agama kita berikan penghormatan yang sama termasuk agama Hindu yang merayakan hari raya nyepi,”ujar Mathius usai pelaksanaan Pawai ogoh-ogoh di Lapangan upacara Kantor Bupati, Gunung Merah Sentani, Rabu (6/3/19) siang.

“Termasuk pawai ogoh-ogoh yang sementara dilaksakan di kota Sentani, saya pikir ini adalah semangat kita, juga semangat semua warga. di Kabupaten Jayapura semua agama punya ruang untuk berkreasi, beribadah dan merayakannya untuk itu, saya berterimakasih kepada panitia yang sudah melaksanakan kegiatan ini karena memberikan makna terhadap tujuan yang sedang kita gagas bersama bahwa kebersamaan, kekeluargaan, kerukunan itu mutlak kita ciptakan di kabupaten Jayapura,”ucap Mathius menambahkan.

Kedepannya, kata Mathius acara seperti ogoh-ogoh akan dimasukan sebagai agenda tahunan di Kabupaten Jayapura. sebab kegiatan seperti ini juga menyemarakan kota Sentani di bidang pariwisata.

“ Kegiatan ini sekaligus juga sebagai upaya untuk bagaimana kota Sentani ini nyaman, bersih dan bebas dari gangguan konflik karena pawai ini punya makna menangkap roh-roh jahat dari segi kerpecayaan saudara-saudara kita yang beragama hindu,”jelasnya.

Mathius menilai, pawai ogoh-ogoh ini merupakan kontribusi dari teman-teman agama hindu terhadap kota  Sentani. Dengan artian  mereka terus memegang teguh  kata pepatah dimana bumi di pijak, disitu langit di junjung.

Didik Widia Putra sebagai penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Jayapura yang juga adalah Ketua Hari Besar Keagamaan Hindu mengungkapkan, ogoh-ogoh ini memberikan makna Putakala atau sifat-sifat jelek dan angkara murka yang ada dalam diri manusia.

"Tujuan pawai ogoh-ogoh ini untuk mentralisir hal-hal yang buruk. baik yang ada di rumah kita, perkantoran atau alam sekitar kita" terangnya.

Selain itu, ini juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan antar tiga hubungan harmonis yaitu Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Manusia dan Manusia dengan Alam Semesta.

Didik mengutarakan, sehari sebelumnya umat Hindu juga melaksanakan satu rangkaian upacara untuk menyambut Nyepi yang disebut Melasti.

"Rangkaian upacara dalam rangka merayakan Nyepi ini sudah kita laksanakan dari kemarin dengan Upacara Melasti di Pantai Base G" katanya.

Dijelaskannya, upacara Melasti yang dilaksanakan umat Hindu itu bertujuan untuk membersihkan Leteh (kotoran) dalam diri seluruh umat manusia.

Dikatakannya, dalam upacara Melasti yang dilaksanakan kemarin, umat Hindu mengambil Tirta Amerta dari laut untuk Mecaru.
"Dan itu sudah laksanakan di Pura masing-masing tadi pagi" sebutnya.

Dirinya menuturkan, seluruh rangkaian upacara Nyepi ini akan ditutup dengan Dharma Shanti yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 Maret mendatang.

Ditanyakan pakah benar seluruh rangkaian upacara dalam rangka perayaan Nyepi ini hanya dilakukan di Indonesia, Didik mengungkapkan bahwa agama Hindu adalah agama yang Universal.

"Agama Hindu ini sangat Universal, jadi bukan masalah Indonesia dengan India. Jawa dengan Bali pasti beda juga dalam pelaksanaannya. Ibarat bola salju yang dilempar ke gunung salju maka disana akan melekat juga butir-butir pasir" jelasnya.

"Jadi kalau bola salju itu dilempar ke Papua maka dalam bola salju itu akan melekat budaya Papua. Tapi inti yang terkandung itu tetap Hindu jadi kemasan atau luaran budayanya itu akan mengikuti budaya lokal setempat. Itulah Hindu yang disebut universal" tukasnya.

Dibaca 147 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX