Ketua Dewan Pers : Insan Pers Memiliki Peran Mengkritik, Mengoreksi Mengacu Kepentingan Publik | Pasific Pos.com

| 18 July, 2019 |

Ketua Dewan Pers : Insan Pers Memiliki Peran Mengkritik, Mengoreksi Mengacu Kepentingan Publik

Papua Barat Penulis  Rabu, 13 Februari 2019 13:22 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Surabaya, TP – Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo berharap, dalam menjalankan profesinya, insan pers dapat memainkan perannya. Peran utama dan sangat penting itu adalah agar insan pers Indonesia bisa menjalankan perannya melakukan pengawasan mengkritik dan mengoreksi yang mengacu pada kepentingan public.

Tidak kalah pentingnya, kata Yosep, wartawan juga memiliki kewajiban bersikap independen dalam menyajikan berita dari peristiwa sesuai fakta, hati nurani dan menghasilkan berita natural yang bisa dipercaya dan obyektif ketika peristiwa itu terjadi.

“Pers Indonesia juga harus bisa menjadi pihak yang adil sebagai pengawas yang teliti dan seksama dalam pemilu 2019 nanti dan tidak justru menjadi pemain yang malah dapat menyalahgunakannya,” jelas Yosep dalam sambutannya pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2019 Surabaya, Sabtu (9/2).

Dikatakan Yosep, sejak HPN 2017 di Ambon, media-media di Indonesia telah berusaha mengikuti dan menyesuaikan UU nomor 40 tahun 1999 tentang UU Pers  dan berupaya memenuhi ketentuan standar perusahaan pers, para wartawan Indonesia juga terus berupaya meningkatkan profesionalitasnya dengan mengikuti berbagai UKW yang hingga saat ini perusahaan pers yang telah dinyatakan terferifikasi baik administrasi maupun faktual sebanyak 2400 media, dan 15.000 wartawan telah dinyatakan lolos UKW dari berbagai level yang digelar oleh 27 lembaga penguji.

Dikemukakan Yosep, tugas utama jurnalis adalah menyampaikan kebenaran. Namun, kebenaran yang disampaikan kelompok profesi ini hampir 5 tahun terakhir telah dicemari hoax dan fakta kebenaran hampir 3.5 tahun  terakhir, hoax begitu marak yang mana bukan semata membuat kebohongan tetapi juga memunculkan pertentangan suku agama ras dan antar golongan dan fitnah.

“Hoax meningkat saat kadar politik meninggi, seperti saat ini menjelang pelaksanaan pemilu 2019, dan fenoma itu kembali menguat. Namun untunglah selama  dan sejak 2017, masyarakat pers dengan berbagai pihak secara intensif telah ikut memerangi hoax dan berita palsu dan telah berkurag,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Yosep mengajak segenap komunitas pers nasional menjadikan pers indonesia sebagai wahana informasi massa , penyebaran informasi dan membentuk opini yang melakukan azas, fungsi, hak dan kewajiban dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang professional.

Ia juga mengajak seluruh elemen wartawan meneguhkan kembali ketaatan kepada kode etik jurnalistik sehingga menjadi lansadan moral dan etika dalam mejalankan profesinya sebagai wartawan.

Lebih lanjut Ia mengatakan, sebagai ketua dewan pers, Ia melihat kesejahteraan wartawan masih perlu mendapatkan perhatian bersama. Meski hal ini merupakan pekerjaan pemimpin perusahaan pers, namun soal hal pajak kertas dan meningkatkan harga bahan baku kertas yang menjadi komponen penting untuk media cetak agar terus bertahan, maka pemerintah diharapkan bisa ikut berfikir mengambil kebijakan afirmaif.

Masih dalam pidatonya di depan Presiden RI Joko Widodo dan ibu negara, Ketua Dewan Pers juga menyampaikan pernyataan komunitas pers, dimana pada momentum HPN, sebagai masyarakat pers nasional Indonesia, siap mendukung suksesi pemilu 2019 dan masyarakat pers mendukung calon presiden dan wakil perden maupun calon anggota DPD, DPR RI, DPR dan DPRD dengan syarat mereka menunjukan komitmen yang sungguh-sungguh dengan melihat konsep penguatan kemerdakaan pers.

Berikutnya,  menunjukan kesungguhan menghindari kriminalisasi kekerasan dan sensor terhadap pers dan wartawan, serta memiliki komitmen menghadirkan peraturan guna mendukung hidupnya pers ditengah-tengah penetrasi perusahaan media sosial, mensin pencari e-comer global yang semakin mendominasi.

Berikutnya, memiliki kepedulian terhadap kesejaheraan wartawan dengan mengadakan pendidikan pelatihan dan peningkatan kesejahteraan wartawan.

“Pada pemilu nanti, kami segenap komunitas pers juga menyatakan bersama-sama menjaga kerukunan dan persatuan bangsa berbhineka tinggal ika, menciptakan kondisi pelaksanaan pemilu yang aman tentram dan berkualitas dan memerangi hoax dan penyebaran kebencian dan peperangan suku,  antar golongan dan menjadikan pers memeriahkan pesta demokrasi dengan semangat demokrasi dan kegembiraan dan perdaudaraan,” tukasnya.

Sementara itu, Preside RI, Joko Widodo dalam pidatonya mengakui, sejalan dengan ekspansi jaringan internet pengguna media sosial telah melompat tinggi. Dimana pengguna medsos sudah mencapai 143.26 juta jiwa, atau 54,68 persen dari populasi, dan 87,14 persen yang mengakses media sosial. Dan, yang biasanya menjadi viral itulah yang menjadi rujukan dan tidak jarang, rujukan masih media konvensional.

Berdasarkan tras barometer, media konvensional masih tetap lebih dipercaya dibandingkan media sosial. Pada tahun 2016, tingkat kepercayaan kepada media konvensional masih 59 persen, tahun 2017 masih 58 persen, dan tahun  2018 masih berada diangka 63 persen. “Dan, semakin kesini, tidak percaya dengan media sosial, dan saya bergembira dan selamat kepada insan pers insan media terhadap kepercayaan masyarakat kepada kalian semua,” ucap Presiden disambut tepuk tangan meriah para insan pers yang hadir.

Dikatakan Presiden, di era digital masyarakat disajikan dengan melimpahnya informasi, dan ironisnya setip orang bisa meniadi wartawan, pemred dan bahkan terkadang menciptakan kegaduhan dan membangun ketakutan dan pesimisme. Ditengah-tengah itu, justru dibutuhkan pers yang menjadi rumah penjernih informasi, menyajikan informasi yang terferifikasi, dan dibutuhkan untuk komunikasi yang benar dalam mengungkap fakta.

Presiden Jokowi, pada kesempatan ini juga mengajak insan pers untuk bisa memperjuangkan bersama dan bisa membentuk masyarakat agar sadar informasi. [Rya-R1]

Dibaca 159 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX