Kawasan Hutan di Wosi dan Rendani Bukan Lagi Berstatus Hutan Lindung | Pasific Pos.com

| 19 August, 2019 |

Kawasan Hutan di Wosi dan Rendani Bukan Lagi Berstatus Hutan Lindung

Papua Barat Penulis  Selasa, 12 Februari 2019 12:53 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Status hutan lindung Wosi-Rendani di Kabupaten Manokwari, tidak lagi sebagai kawasan hutan lindung, tetapi menjadi areal yang difungsikan sebagai kawasan penggunaan lain.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Hendriek Runaweri menjelaskan, sebelumnya ada surat keputusan (SK) Gubernur Irian Jaya, dimana ada beberapa tempat, termasuk kawasan hutan lindung Wosi-Rendani. Namun, kata dia, saat dibuat Peta Tata Guna Hutan, kesepakatan yang dibuat orang tua-orang tua dulu tidak mengakomodir kawasan hutan lindung Wosi-Rendani.

Akhirnya, Runaweri menjelaskan, dalam pembuatan Peta Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan, kawasan hutan lindung Wosi-Rendani tidak diakomodir pada 1999, sehingga kawasan itu tidak terlihat dalam peta.

Diungkapkannya, dalam peta terakhir, yakni Peta Konservasi Perairan dan Kawasan Hutan yang sekarang digunakan Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua Barat, kawasan itu tidak ada.

Dengan demikian, tegas Runaweri, status kawasan hutan lindung Wosi-Rendani, secara hukum tidak ada, dalam arti kawasan hutan ini menjadi kawasan akses terbuka.

“Sekarang kita melihat kawasan hutan Wosi-Rendani sebagai areal penggunaan lain. Artinya, kawasan itu menjadi kewenangan bupati untuk memberikan izin pengelolaan, baik izin pembangunan, izin perkebunan, dan izin lain,” tamnbah Runaweri kepada para wartawan di halaman Kantor Gubernur Papua Barat, pekan lalu.

Dikatakan Kepala Dinas Kehutanan, secara fungsi, sebenarnya kawasan itu harus dilindungi, karena topografinya miring, maka memungkinkan terjadi pengikisan dan sewaktu-waktu menyebabkan banjir.

“Tahun 2012 kita berupaya melakukan pendekatan dengan masyarakat di situ agar hutan bisa dipertahankan, tapi ternyata susah, karena kawasan itu sudah dikapling-kapling,” kata dia.

Oleh sebab itu, Runaweri berharap tempat yang curam dan rawan longsor, harus tetap dipertahankan. “Ya, walau pengembang perumahan masuk di daerah itu, tetapi harus dibuat kawasan hutan supaya bisa menahan aliran air,” pintanya. [FSM-R1]

Dibaca 450 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX